SURABAYA — Luas wilayah Indonesia yang mencapai 5 juta kilometer persegi dan terdiri atas 14.572 pulau membuat sebagian warga di pulau-pulau terpencil masih kesulitan memperoleh akses kesehatan yang memadai. Keterbatasan fasilitas kesehatan dan tenaga medis turut membuat layanan yang tersedia menjadi sangat terbatas.
Berangkat dari kondisi tersebut, alumni Universitas Airlangga bergotong royong menghadirkan Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga. Rumah sakit yang berada di kapal jenis pinisi ini ditujukan untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat kepulauan.
Dokter spesialis dan layanan operasi
Dalam setiap kunjungan, sedikitnya lima dokter spesialis dilibatkan, yakni spesialis penyakit dalam, bedah, anak, anestesi, dan mata.
Penanggung Jawab Operasional Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga, dr Henry Wibowo, mengatakan layanan perdana diberikan kepada warga Pulau Bawean, Gresik, pada Oktober 2017. Saat itu, 449 pasien berobat dan 102 pasien menjalani operasi, terdiri atas 59 operasi bedah dan 43 operasi mata.
Pada November 2017, rumah sakit terapung ini berlayar ke Pulau Kangean, Sumenep, dan memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada 1.050 pasien. Dari jumlah tersebut, 65 pasien menjalani operasi bedah dan kandungan, serta 137 pasien menjalani operasi mata.
Selanjutnya, pada 10–11 Maret, Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga kembali membuka layanan kesehatan di Pelabuhan Kalimas, Surabaya. Sedikitnya 600 warga, yang sebagian besar merupakan anak buah kapal, memeriksakan kesehatan di fasilitas tersebut.
Henry menyebutkan kegiatan layanan kesehatan ditargetkan berlangsung setiap bulan. Pulau Sapeken, Sumenep, direncanakan menjadi sasaran layanan pada akhir Maret 2018.
Spesifikasi kapal dan fasilitas medis
Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga berukuran 200 gros ton, panjang 27 meter, dan lebar 7,75 meter, dengan kecepatan hingga 9 knot. Kapal itu dibuat di Galesong, Kecamatan di tepi laut Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Kapal berwarna putih dengan layar biru ini terdiri atas tiga dek. Dek bawah digunakan untuk ruang operasi dan ruang mesin, dek tengah untuk kamar pasien, kamar kru medis, serta dapur, sedangkan dek atas untuk kru kapal.
Fasilitas yang tersedia meliputi:
- dua kamar operasi
- ruang pulih sadar
- ruang sterilisasi
- ruang administrasi
- ruang ganti baju kamar operasi
- gudang obat
- dapur
- kamar tim medis
- ruang pengemudi
Inisiatif alumni dan dukungan perguruan tinggi
Ketua Penyelenggara Layanan Kesehatan di Pelabuhan Kalimas, dr Pudjo Hartono, menyatakan Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga diharapkan menjadi salah satu alternatif solusi untuk persoalan kesehatan di wilayah kepulauan terpencil, sejalan dengan prinsip kesehatan untuk semua.
Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Airlangga, Hariyanto Basuni, menyebut rumah sakit terapung ini merupakan gagasan alumni Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang berfokus pada layanan kesehatan gratis bagi masyarakat di kepulauan terpencil. Menurutnya, program ini ditujukan untuk warga yang sulit mengakses layanan kesehatan dari pemerintah, sekaligus menjadi pendukung dan pelengkap karena didukung fasilitas memadai serta dokter spesialis saat bertugas.
Hariyanto juga menyampaikan Kementerian Kesehatan telah meminta Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga untuk memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat di Asmat, Papua.
Wakil Rektor IV Universitas Airlangga, Junaidi Khotib, menyatakan kebanggaannya atas pengabdian alumni yang memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat yang sulit mengakses layanan. Ia menyampaikan terima kasih kepada alumni dan mitra yang membantu, seraya berharap kegiatan tersebut ke depan dapat memberi dampak yang lebih besar.

