CILEGON — Ketua Rumah Musisi (RUMUS) Cilegon, Iwan Permana, menyampaikan apresiasi atas terbentuknya Panitia Khusus (Pansus) Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Pemajuan Kebudayaan Daerah. Pansus tersebut dipimpin Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cilegon, Ayatullah Khumaeni.
Iwan yang akrab disapa Plentong menilai pembentukan Pansus menjadi momentum penting bagi ekosistem seni dan musik lokal di Kota Cilegon untuk memperoleh ruang kebijakan yang lebih jelas, terarah, dan berkelanjutan. Menurutnya, selama ini komunitas musik independen memiliki potensi besar dalam membangun identitas budaya kota, namun masih memerlukan dukungan regulasi yang dapat memberikan perlindungan, fasilitasi, serta akses pengembangan kreativitas.
“Kami dari Rumah Musisi Cilegon melihat ini sebagai langkah bersejarah. Pemajuan kebudayaan harus memberi ruang hidup bagi musisi lokal, komunitas kreatif, dan generasi muda agar karya mereka tidak hanya berkembang secara artistik, tetapi juga memiliki nilai ekonomi,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Dalam pernyataannya, RUMUS Cilegon juga berharap Raperda Pemajuan Kebudayaan Daerah dapat menghadirkan program pembinaan berkelanjutan, penyediaan ruang pertunjukan, serta penguatan industri musik lokal berbasis komunitas.
Selain itu, RUMUS menyatakan kesiapan untuk terlibat aktif dalam proses penyusunan Raperda melalui forum diskusi publik, kajian komunitas, dan penyampaian aspirasi para pelaku seni musik agar regulasi yang dihasilkan benar-benar mewakili kebutuhan di lapangan.
Iwan menegaskan musik merupakan bagian penting dari ekspresi budaya urban Cilegon sebagai kota industri yang terus tumbuh. “Cilegon punya energi kreatif yang kuat. Jika kebudayaan dan industri berjalan berdampingan, maka Cilegon bukan hanya dikenal sebagai kota baja, tetapi juga kota kreativitas,” katanya.
RUMUS Cilegon berharap Raperda Pemajuan Kebudayaan Daerah dapat menjadi payung hukum yang memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas seni, pelaku industri kreatif, dan masyarakat luas dalam membangun wajah kebudayaan Cilegon yang inklusif, modern, serta tetap berakar pada kearifan lokal.