BERITA TERKINI
RSJ Prof. Ildrem Siap Bertransformasi Jadi RS Umum dengan Layanan Unggulan Kesehatan Jiwa

RSJ Prof. Ildrem Siap Bertransformasi Jadi RS Umum dengan Layanan Unggulan Kesehatan Jiwa

Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof. Dr. M. Ildrem menyiapkan transformasi layanan menuju konsep yang lebih ramah, inklusif, dan terintegrasi dengan layanan medis umum. Perubahan ini ditujukan untuk memperluas peran rumah sakit, tidak lagi semata sebagai tempat perawatan gangguan jiwa berat.

Direktur RSJ Prof. Ildrem, drg. Ismail Lubis, mengatakan rumah sakit tengah menyiapkan langkah konkret untuk menjadi rumah sakit umum dengan layanan unggulan di bidang kesehatan jiwa. Menurutnya, upaya ini juga diarahkan untuk mengubah stigma terhadap layanan kesehatan jiwa.

“Kami ingin mengubah stigma. Pasien harus merasa nyaman, seperti di rumah sendiri. Suasana represif sudah bukan zamannya lagi,” ujar Ismail, Kamis, 10 April 2025.

Dalam rencana pengembangan fasilitas, RSJ Prof. Ildrem disebut telah merampungkan perencanaan dan proses lelang pembangunan gedung rawat inap medis umum. Pembangunan tersebut mencakup ruang rawat Bukit Barisan dan Dolok Sanggul, yang akan dilengkapi Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai bagian dari terapi pemulihan.

“RTH akan menjadi ruang pemulihan yang penting. Pasien bisa duduk santai, tidur, atau sekadar menenangkan diri di taman terbuka,” kata Ismail.

Dengan luas lahan 3,8 hektare dan bangunan seluas 25.800 meter persegi, Ismail menyebut transformasi ini membutuhkan dukungan pendanaan besar. Ia berharap Kementerian Kesehatan dapat memberikan dukungan untuk pengembangan tersebut.

Sebagai satu-satunya RSJ tipe A di Sumatera Utara, RSJ Prof. Ildrem juga ditunjuk sebagai rumah sakit pengampu bagi 10 rumah sakit jiwa lain di tingkat kabupaten/kota. Program pengampuan itu meliputi peningkatan sumber daya manusia, perbaikan infrastruktur, serta standardisasi layanan.

Ismail menargetkan lama rawat (length of stay/LOS) maksimal 35 hari. Ia menilai pendekatan yang lebih nyaman dan manusiawi dapat membantu pasien pulih lebih cepat.

Selain itu, ia menyoroti persoalan pembiayaan bagi pasien orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang tidak terdaftar BPJS. Ismail mendorong keterlibatan pemerintah daerah melalui skema unregistered fund agar pasien tidak terabaikan karena kendala biaya.

“Sebagian besar pasien ODGJ berasal dari keluarga kurang mampu. Negara harus hadir untuk mereka,” ujarnya.

Dari sisi pengembangan SDM, RSJ Prof. Ildrem sedang menyiapkan diri menuju akreditasi rumah sakit pendidikan. Saat ini, rumah sakit tersebut menjadi tempat stase bagi mahasiswa kedokteran, keperawatan, dan psikologi dari berbagai perguruan tinggi.

Transformasi juga mencakup aspek spiritual pasien. RSJ Prof. Ildrem menyatakan komitmen menyediakan fasilitas ibadah dan pendekatan keagamaan sebagai bagian dari pemulihan mental.

“Kami ingin mengembalikan pasien ke fitrahnya. Ketahanan mental juga bisa diperkuat lewat pendekatan spiritual,” kata Ismail.

Berdasarkan data Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), mayoritas pasien ODGJ yang ditangani RSJ Prof. Ildrem berasal dari Kabupaten Tapanuli Utara dan Mandailing Natal. Faktor pemicu utama yang tercatat antara lain konflik keluarga, perceraian, tekanan ekonomi, serta masalah pekerjaan.