BERITA TERKINI
Refleksi Bulan Mei: Seruan Ruang Pemulihan bagi Guru dan Tenaga Kependidikan

Refleksi Bulan Mei: Seruan Ruang Pemulihan bagi Guru dan Tenaga Kependidikan

Bulan Mei kerap diwarnai peringatan Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional yang memunculkan berbagai narasi tentang kemajuan bangsa. Namun, bagi Dr. NAN Murniati MPd, Mei juga menjadi momen refleksi personal yang mendorong evaluasi lebih dalam terhadap dedikasi dan kondisi para penggerak pendidikan di sekolah.

Dalam tulisannya, ia menyoroti kegelisahan terhadap situasi pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) yang disebutnya berada dalam kondisi kelelahan yang kian nyata. Ia mempertanyakan apakah sistem pendidikan sudah cukup merawat mereka yang selama ini berperan merawat akal budi bangsa, sejalan dengan agenda pembangunan manusia.

Berdasarkan pengalamannya sebagai peneliti yang terlibat dalam pembacaan data Rapor Pendidikan dan pendampingan sekolah, ia melihat adanya paradoks: di tengah perayaan simbol kemajuan pendidikan, para aktor utama di ruang kelas dan administrasi justru menghadapi beban yang terus menumpuk. Beban itu digambarkan bukan hanya terkait mengajar, tetapi juga pekerjaan administratif, pengelolaan data, penggunaan platform digital, hingga tanggung jawab pengasuhan moral siswa.

Menurutnya, kondisi tersebut memunculkan retakan pada ketangguhan yang selama ini dilekatkan pada profesi guru dan tenaga kependidikan. Ia menyebut burnout sistemik tidak lagi sekadar konsep akademik, melainkan terlihat dalam keseharian di ruang guru yang mulai kehilangan keceriaan.

Ia juga memaparkan berbagai ikhtiar yang selama ini dilakukan untuk mendorong transformasi pendidikan, mulai dari pendampingan intensif di sekolah-sekolah, pembacaan data untuk perbaikan mutu yang lebih presisi, hingga perumusan indikator kompetensi sosio-emosional guru. Upaya tersebut ia sebut sebagai bentuk “wakaf intelektual” agar kebijakan pendidikan tidak berhenti sebagai dokumen administratif, melainkan benar-benar bermakna di ruang kelas.

Namun, dari rangkaian kerja tersebut, ia menarik kesimpulan bahwa perbaikan kurikulum dan infrastruktur fisik saja tidak cukup. Ia menilai perlu ada lompatan menuju pembangunan ekosistem kesejahteraan sumber daya manusia pendidikan yang lebih substantif. Dalam pandangannya, ketangguhan sejati bukan semata kemampuan menahan beban, melainkan kemampuan untuk pulih kembali.

Karena itu, ia menggagas perlunya “Klinik Profesi” atau “Ruang Pemulihan” sebagai standar baru dalam manajemen sekolah. Ruang ini dimaksudkan menjadi tempat validasi kelelahan emosional guru, memberi jeda bagi kelelahan teknis yang dialami operator sekolah, sekaligus merawat refleksi diri dan rasa syukur sebagai energi kerja.

Ia menekankan bahwa Klinik Profesi bukan sekadar layanan kesehatan fisik seperti UKS, melainkan ruang pemulihan kesehatan profesi yang terintegrasi dalam ekosistem pendidikan. Dalam konsepnya, layanan dapat berupa konseling bagi guru yang mengalami burnout dan ruang tenang bagi tenaga kependidikan yang kelelahan, agar keberlangsungan kerja profesional tidak tergerus kelelahan kronis.

Menurutnya, gagasan ini penting karena SDM yang sehat secara mental dan profesional merupakan aset strategis. Ia memandang ruang pemulihan sebagai investasi untuk mencegah “mesin” pembangunan manusia rusak akibat tekanan yang berlebihan.

Menutup refleksinya, ia menyebut Mei sebagai momentum untuk “pemulihan niat” setelah peringatan Hari Pendidikan Nasional. Ia mendorong kebijakan yang tidak semata menuntut output angka, tetapi juga menghadirkan perlindungan psikologis dan fisik bagi PTK. Baginya, pendidik dan tenaga kependidikan tidak seharusnya dipandang sebagai unit produksi sistemik, melainkan manusia seutuhnya yang berhak sehat, pulih, dan tangguh demi martabat bangsa.