Upaya pelestarian budaya lokal terus berkembang dengan cara-cara kreatif, termasuk melalui musik. Rapper asal Ambon, Grizzly Cluive, menceritakan bagaimana karya musik dapat menjadi medium untuk mengingatkan kembali kekayaan kuliner daerah, khususnya jajanan khas Ambon yang kian jarang dikenal generasi muda.
Dalam perbincangan di siniar Keker produksi RRI Ambon yang dirilis pada 30 Maret 2026, Grizzly mengungkap latar belakang lagunya berjudul “Bololeng”. Ia menyebut lagu tersebut dirancang bukan sekadar untuk hiburan, melainkan membawa muatan budaya karena liriknya memuat berbagai nama jajanan tradisional Ambon.
“Dari pulut srikaya sampai bololeng, semuanya saya masukkan ke dalam lagu. Ini bukan cuma soal musik, tapi juga tentang mengingatkan kembali kekayaan kuliner kita,” kata Grizzly dalam siniar tersebut.
Ia menyoroti perubahan gaya hidup dan arus modernisasi yang membuat jajanan tradisional semakin tersisih. Menurutnya, banyak anak muda kini lebih akrab dengan makanan kekinian dibandingkan kuliner khas daerahnya sendiri.
Melalui “Bololeng”, Grizzly berharap musik bisa menjembatani kesenjangan itu—menjadi sarana yang menghibur sekaligus mendidik dan membangun kesadaran budaya. “Lagu ini saya harap bisa jadi pengingat sekaligus promosi. Supaya anak-anak dan masyarakat luas kembali kenal dan bangga dengan jajanan khas Ambon,” ujarnya.
Grizzly juga menyampaikan visinya untuk mendokumentasikan kekayaan kuliner Maluku lewat karya musik. Ia ingin upaya tersebut dapat menjadi semacam arsip budaya yang bisa dinikmati generasi mendatang. “Ini bagian dari usaha saya untuk mendokumentasikan jajanan Maluku lewat karya. Harapannya nanti bisa terus diperdengarkan, jadi generasi selanjutnya juga tahu dan tidak kehilangan identitas,” tuturnya.
Langkah Grizzly menunjukkan bagaimana seni, khususnya musik, dapat berperan dalam menjaga warisan budaya lokal. Di tengah perkembangan zaman, pendekatan kreatif seperti ini dinilai berpotensi menjangkau audiens yang lebih luas, terutama kalangan muda.