BERITA TERKINI
Raisa Tetap Kasmaran pada Musik, Siapkan Konser Stadion Utama GBK

Raisa Tetap Kasmaran pada Musik, Siapkan Konser Stadion Utama GBK

Raisa Andriana, yang dikenal dengan nama panggung Raisa, menegaskan kecintaannya pada musik lewat rencana konser tunggal di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK). Konser yang sempat tertunda akibat pandemi Covid-19 itu kembali dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 25 Februari 2023.

Di industri musik Indonesia, Raisa kerap disebut sebagai diva—istilah yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia merujuk pada penyanyi utama perempuan dalam opera atau konser, sekaligus perempuan yang sangat berprestasi di bidang seni suara. Setelah berkarier sejak 2010 dan merilis album debut Raisa pada 2011, ia kini telah menapaki 12 tahun perjalanan musik dengan empat album dan sejumlah penghargaan.

Berangkat dari alasan sederhana: ingin bernyanyi

Raisa mengatakan, keputusannya masuk ke dunia musik bermula dari kesenangannya bernyanyi. Sebelum dikenal luas, ia rutin tampil di kafe. Baginya, kesempatan bernyanyi menggunakan mikrofon saja sudah cukup menjadi alasan untuk menekuni jalur ini.

Dalam perbincangan di Kantor Juni Records di Cilandak, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis, 27 Oktober 2022, Raisa menuturkan bahwa ia menjalani karier “untuk musik”. Ia merasa lingkungan pergaulannya saat itu lebih banyak diisi musisi, sehingga ia tidak memandang dunia musik semata sebagai gemerlap showbiz, meski mengakui pernah terekspos gosip.

Langkahnya kian mantap dengan dukungan orangtua. Raisa mengingat pesan ayahnya: jalani selama ia bahagia, dan tinggalkan jika tidak lagi membuatnya senang, karena dunia hiburan bukan segalanya. “Yaya”—nama kecil Raisa yang juga menjadi panggilan sayang penggemarnya—menjadi pengingat bahwa kebahagiaan pribadi tetap penting di tengah tuntutan karier.

Konser GBK: peluang besar yang tak ingin disia-siakan

Raisa mengumumkan kembali konser GBK yang sebelumnya direncanakan berlangsung pada November 2020, namun batal karena pandemi. Ia mengaku tegang karena menilai konser di Stadion Utama GBK merupakan kesempatan langka dalam karier musisi Indonesia.

Meski konser stadion bagi artis internasional dinilai sebagai hal yang lumrah, Raisa melihatnya berbeda untuk musisi dalam negeri. Ia menyebut tidak ingin menyia-nyiakan peluang tersebut.

Bukan semata ambisi, tetapi dorongan untuk menggerakkan industri

Menurut Raisa, konser GBK bukan sekadar ambisi pribadi tampil di skala stadion. Ia berharap semakin banyak penonton mengapresiasi produksi pertunjukan yang lebih maksimal, sekaligus mendorong industri pertunjukan musik Tanah Air bergerak maju.

Raisa juga menyinggung alasan konser ini menjadi perhatian: ia akan menjadi salah satu yang pertama menggelar konser di GBK dari genre pop, dan sebagai perempuan. Ia membayangkan masa depan ketika pertunjukan musik skala stadion menjadi lebih umum di Indonesia, sehingga standar pengalaman menonton ikut meningkat.

Ia mengakui sempat gamang, karena konser stadion terasa seperti sesuatu yang lazimnya dilakukan artis internasional atau acara besar lain. Namun, seiring waktu, keyakinannya tumbuh karena dukungan tim dan energi kolektif dari orang-orang yang ia temui.

Raisa juga menyebut bahwa setelah pembatalan pada 2020, ia sempat merasa momentum telah hilang. Namun, banyak orang terus menanyakan kelanjutan konser GBK, membuatnya melihat bahwa keinginan itu bukan hanya miliknya, melainkan juga harapan publik untuk menjadi bagian dari sejarah pertunjukan musik.

Konser “Raisa Live in Concert” di Stadion Utama GBK juga disebut akan melibatkan banyak sosok perempuan dari berbagai bidang, seperti desainer, fotografer, dan visual artist. Promotor Juni Concert dan Northstar Entertainment menjanjikan konsep pertunjukan dengan skala konser stadion.

Terus bertumbuh dan menolak batasan

Raisa menegaskan GBK bukan titik akhir. Setelah konser tersebut, ia ingin memperluas jangkauan musiknya, membuka kemungkinan kolaborasi, dan tidak terjebak dalam tuntutan untuk terus berada di pola yang sama demi menjaga eksistensi.

Ia mengatakan tidak ingin dibelenggu oleh batasan yang diciptakan sendiri dan ingin mewujudkan berbagai hal dalam skala yang lebih besar. Bagi Raisa, zona nyaman bukan pilihan, karena “bahan bakarnya” adalah cinta yang besar pada musik. Setelah 12 tahun berkarier, ia mengaku masih bahagia dan “terus kasmaran” pada dunia ini.

Di balik panggung: pemalu yang punya “saklar” tampil

Raisa mengungkapkan bahwa sejak awal ia merasa dirinya biasa saja dan bukan tipe yang menganggap diri sebagai bintang. Ia pernah membayangkan apakah ia akan tenggelam di antara banyaknya musisi lokal. Di luar panggung, ia menyebut dirinya cenderung pemalu.

Namun di atas panggung, ia merasa memiliki “switch” yang membuatnya lebih percaya diri, mampu menghibur, bercanda, dan berbagi cerita. Lipstik dan heels menjadi penanda saat ia harus tampil, sementara cuci muka dan melepas heels menjadi penanda untuk kembali ke peran sehari-hari sebagai Raisa Andriana—seorang istri dan ibu.

Ia sengaja memisahkan dua dunia itu agar bisa fokus menjalani keduanya secara utuh. Menurutnya, jika peran entertainer dan peran di rumah terlalu melebur, ia khawatir tidak bisa maksimal di salah satunya.

Sebagai pemilik label Juni Records—yang didirikan bersama manajernya, Adryanto Pratono—Raisa menyebut ia memiliki keleluasaan lebih dalam mengatur prioritas, arah karya, dan karier. Meski mengakui kehidupan sehari-harinya tidak sempurna dan tetap memiliki masalah, ia memilih menyelesaikannya secara pribadi.

Profil singkat Raisa

  • Nama: Raisa Andriana
  • Lahir: Jakarta, 6 Juni 1990
  • Pendidikan: SD Dian Didaktika; SMP Dian Didaktika; SMAN 34 Pondok Labu, Jakarta; S-1 Marketing International Business, Universitas Bina Nusantara Internasional
  • Album: Raisa (2011); Heart to Heart (2013); Handmade (2016); It’s Personal (2022)
  • Penghargaan (antara lain): Mnet Asian Music Award 2014; Indonesian Choice Awards (2014, 2016, 2017, 2018); AMI Awards (2016, 2017); Anugerah Planet Muzik (2017)

Bagi Raisa, gelar diva tidak hanya soal performa di atas panggung, melainkan juga tentang sikap dan keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri di tengah godaan popularitas.