BERITA TERKINI
Quốc Trung: Pertunjukan Kelas Dunia Jadi Awal Tumbuhnya Budaya Mendengar Musik Klasik di Vietnam

Quốc Trung: Pertunjukan Kelas Dunia Jadi Awal Tumbuhnya Budaya Mendengar Musik Klasik di Vietnam

Rangkaian pertunjukan musik klasik dan balet internasional belakangan ini semakin sering hadir di Vietnam. Balet Negara Rusia, misalnya, menggelar tiga malam pementasan The Nutcracker dan Romeo and Juliet di Teater Ho Guom, Hanoi. Menyusul kemudian, pada akhir April, Orkestra Simfoni Gedung Opera Kerajaan Versailles mempersembahkan konser bertajuk The Quintessence of France di lokasi yang sama.

Di Kota Ho Chi Minh, konduktor asal Hongaria Andrea Daru memimpin Orkestra Pemuda dalam konser perayaan 70 tahun Konservatorium Musik Kota Ho Chi Minh pada malam 3 April. Sebelumnya, Vietnam juga telah menyambut berbagai kelompok seni ternama, antara lain London Symphony Orchestra (Inggris), Teatro Massimo Theatre (Italia), Vienna Chamber Orchestra (Austria), dan Daegu International Symphony Orchestra (Korea Selatan). Di saat yang sama, sejumlah seri konser dan festival—termasuk Musical Seasons, Vietnam Airlines Classic - Hanoi Concert, Dream Concert Vietnam 2025, hingga Festival Musik Baru Internasional ke-4 tahun 2025—ikut menambah padatnya agenda, di samping program-program dari seniman dalam negeri.

Teater Ho Guom sendiri mencatat total 154 pertunjukan sepanjang tahun lalu dan kerap disebut sebagai “jantung musik klasik” di Vietnam. Menanggapi intensitas pertunjukan yang meningkat, musisi Quốc Trung menyebutnya sebagai pertanda yang “sangat baik, jika bukan sangat luar biasa baik”.

Dalam wawancara dengan surat kabar Tuổi Trẻ, Quốc Trung menilai rasa “pusing” yang mungkin muncul ketika melihat frekuensi program musik klasik saat ini lebih disebabkan kebiasaan lama yang terbentuk ketika ekosistem seni pertunjukan masih sepi dan terisolasi dari arus dunia. Menurutnya, tingginya frekuensi pertunjukan merupakan prasyarat bagi perkembangan seni, sekaligus membuka akses lebih luas bagi penonton dan seniman Vietnam untuk berinteraksi dengan karya-karya kelas dunia.

Ia menilai paparan yang lebih sering dapat memicu motivasi meningkatkan kualitas artistik, sekaligus menumbuhkan kebiasaan dan permintaan apresiasi di kalangan publik. Dalam jangka panjang, kondisi itu dinilai dapat membantu membangun industri musik yang lebih komprehensif bagi pasar Vietnam.

Quốc Trung juga menyoroti keterlibatan sponsor dari kalangan bisnis dalam sejumlah program besar. Ia memandang perubahan tersebut sebagai pergeseran cara masyarakat menempatkan budaya dan seni dalam kehidupan sosial. Menurutnya, kontribusi bisnis tidak semata strategi pemasaran atau “hobi mewah”, melainkan dapat dibaca sebagai upaya sadar untuk memberi nilai bagi komunitas dan dunia seni, termasuk melalui penguatan citra sebagai pelindung seni dan budaya.

Di tengah rencana pembangunan dan pengembangan sejumlah gedung pertunjukan—seperti proyek Gedung Opera Hanoi, Teater Angkatan Darat, Teater Song Xanh, serta rencana teater seluas sekitar 9.000 meter persegi—muncul pertanyaan apakah pasokan akan melampaui permintaan. Quốc Trung menilai persoalan utamanya bukan pada banyaknya gedung, melainkan pada kualitas karya dan program yang disajikan.

Ia mengatakan teater akan menjadi tidak relevan bila tidak diisi karya seni yang cukup menarik untuk meyakinkan publik. Ia mengingatkan bahwa selama bertahun-tahun Vietnam hampir tidak membangun teater baru sejak era kolonial Prancis, namun tetap ada banyak teater yang penuh sesak, terbengkalai, atau hanya sesekali beroperasi. Dalam pandangannya, gedung yang indah bisa menarik orang untuk berfoto dan check-in, tetapi tanpa pertunjukan yang memikat, keberadaan teater akan terasa berlebihan.

Quốc Trung menekankan perlunya menumbuhkan kebiasaan dan tuntutan apresiasi penonton dengan meningkatkan kualitas artistik dan kapasitas kreatif. Menurutnya, konsumsi pada akhirnya bergantung pada bakat dan kemampuan tim kreatif, sementara puncak karya seni selalu memiliki daya untuk meyakinkan penonton.

Ia juga menyinggung realitas bahwa sebagian program pada dasarnya diselenggarakan untuk “membayar” sponsor, misalnya melalui tiket yang diterbitkan secara internal, bukan benar-benar berjalan sebagai pasar. Namun, ia menegaskan bahwa tidak ada penonton yang dapat mencintai dan menghargai seni tanpa paparan yang teratur. Musik klasik, menurutnya, membutuhkan pemahaman dan ketenangan agar dapat dinikmati sepenuhnya.

Berkaca dari pengalamannya menyaksikan penampilan London Symphony Orchestra maupun Saint Petersburg Symphony Orchestra di Vietnam, Quốc Trung menilai bakat sejati mampu memikat semua penonton, bahkan ketika karya yang dibawakan tergolong sulit diapresiasi. Ia mengingatkan Vietnam baru memulai proses yang telah dibangun negara-negara lain selama ratusan tahun. “Tetapi jika kita tidak memulai, segala sesuatunya tidak akan pernah terjadi secara alami, baik itu budaya maupun pasar,” ujarnya.

Ketika ditanya peluang Vietnam menjadi destinasi pertunjukan musik klasik, setidaknya di Asia Tenggara, Quốc Trung menilai keberhasilan tidak hanya bergantung pada uang, tetapi juga pada perencanaan yang matang dan berkelanjutan—hal yang ia sebut masih kurang. Ia menyarankan pembangunan pasar dilakukan bertahap, dimulai dari pemenuhan kebutuhan masyarakat akan hiburan budaya.

Menurutnya, negara dapat mempertimbangkan kebijakan preferensial, seperti pembebasan atau pengembalian pajak bagi bisnis yang mensponsori budaya, atau pembentukan dana budaya untuk memobilisasi kontribusi lebih luas dari berbagai sektor.

Ia juga menekankan pentingnya memandang industri kreatif atau industri budaya sebagai sektor yang menghasilkan manfaat ekonomi signifikan dari kreasi artistik, sehingga tidak terlalu bergantung pada sponsor dan tidak berbasis semata pada acara atau promosi merek.

Quốc Trung mencontohkan Thailand dan Singapura, yang pertunjukan dan konsernya dinilai menarik serta memenuhi kebutuhan hiburan bukan hanya penonton domestik, melainkan juga kawasan yang lebih luas. Ia menyebut pendanaan pemerintah untuk genre musik elit seperti musik klasik dan musik rakyat di negara-negara tersebut dialokasikan secara efektif, mendukung seniman menyusun strategi dan proyek dengan jangkauan internasional.

Di Vietnam, ia menilai dukungan pemerintah sebagian besar masih terbatas pada entitas milik negara. Ia juga menyoroti minimnya dana budaya untuk membantu seniman membawa proyek ke luar negeri serta kurangnya organisasi yang berperan menghubungkan, memperkenalkan, atau mendukung mereka. Kondisi itu, menurutnya, membatasi daya saing dan aspirasi seniman Vietnam.

Di antara pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika puluhan ribu penonton Hanoi duduk di luar ruangan untuk mendengarkan London Symphony Orchestra pada periode 2017–2019. Quốc Trung mengatakan antusiasme dan sikap penonton yang tertib membuat para musisi orkestra terharu. Baginya, momen itu menjadi bukti bahwa keunggulan artistik dapat meyakinkan siapa pun, asalkan ada keberanian dan ketekunan untuk mengejar standar tertinggi.