Musisi Duong Cam mengumumkan rangkaian konser langsung bertajuk “Ruang Tamu Tiga Generasi”, sebuah proyek yang mengusung gagasan memperkuat ikatan keluarga melalui perpaduan musik, cerita, dan desain ruang pertunjukan. Pengumuman tersebut dihadiri sejumlah musisi, penyanyi, kolega, serta pecinta musik.
Duong Cam menjelaskan, dalam kehidupan modern, relasi antaranggota keluarga lintas generasi—dari kakek-nenek dan orang tua hingga anak-anak—kian terasa berjarak, baik dalam gaya hidup, cara berpikir, maupun selera artistik. Ia menilai momen berkumpul hangat pada malam hari di sejumlah keluarga juga perlahan menghilang. Dari realitas itu, ia merumuskan konsep konser yang membawa musik kembali ke ruang yang paling akrab di rumah: ruang tamu.
“Dalam ‘Three Generations Living Room,’ musik menjadi dialog tanpa batas antar generasi, dan ini juga merupakan titik temu di mana setiap penonton dapat melihat diri mereka sendiri dalam cerita tersebut. Saya tidak memilih konsep yang muluk-muluk, tetapi membawa musik kembali ke citra yang paling familiar di rumah: ruang tamu—simbol kebersamaan,” kata Duong Cam.
Dalam proyek ini, Duong Cam bertindak sebagai Direktur Umum sekaligus Direktur Musik. Ia tidak hanya menyusun musik dan tata suara, tetapi juga merancang perjalanan emosional program serta bahasa artistiknya, sebagai bagian dari pendekatan pementasan yang ia bangun.
Malam pembukaan “Ruang Tamu Tiga Generasi” digelar pada 14 Juni di Teater Ho Guom. Pertunjukan berdurasi 120 menit itu menampilkan Background Band, E-Symphony String Orchestra, serta empat penyanyi dengan karakter yang disebut membentuk struktur generasi yang jelas: Duc Huy dengan lagu-lagu yang membangkitkan kenangan; Ho Quynh Huong dengan vokal kuat dan emosional; Bui Cong Nam dengan gaya bertutur yang intim dan modern; serta Vu Thanh Van yang merepresentasikan karakter muda Generasi Z.
Duong Cam menyusun kehadiran para penyanyi itu sebagai satu alur musik terpadu. Sejumlah lagu yang dikenal penonton ditampilkan kembali dari sudut pandang berbeda, sehingga masa lalu, masa kini, dan masa depan seolah hidup berdampingan dalam satu ruang. Program juga menghadirkan mash-up yang dirancang untuk mempertemukan lagu-lagu populer dari berbagai generasi, sejalan dengan semangat “musik menyatukan keluarga”.
Dari sisi panggung, sutradara panggung Dang Xuan Truong menyebut program ini dirancang sebagai pengalaman yang merekonstruksi “ruang keluarga” dengan beberapa lapis penceritaan. Ia menjelaskan, panggung menghadirkan kembali suasana ruang keluarga era 1980-an dan 1990-an sebagai tempat berkumpul yang hangat dan sarat kenangan, sekaligus menampilkan transisi menuju ruang terbuka melalui desain arsitektur minimalis dan modern yang dimaknai sebagai metafora perkembangan zaman dan teknologi.
Elemen cahaya, citra, dan gerak diposisikan sebagai bagian dari bahasa artistik yang berjalan selaras dengan musik untuk membangun pengalaman multidimensi. Konsep ini ditujukan agar penonton tidak hanya menyaksikan konser, tetapi juga merasakan kembali suasana ruang yang familiar, seolah berada di ruang tamu mereka sendiri.
Rangkaian konser langsung “Ruang Tamu Tiga Generasi” direncanakan terdiri dari delapan pertunjukan yang berlangsung dari Juni 2026 hingga Februari 2027, dengan melibatkan banyak artis dari berbagai generasi musik Vietnam.
Duong Cam juga menekankan peran mash-up sebagai salah satu ciri pendekatannya selama ini. Ia menyatakan, mash-up yang ia bangun bukan sekadar penggabungan teknis, melainkan struktur naratif yang menempatkan lagu-lagu dari era berbeda dalam dialog yang terarah.
“Kami mencari titik-titik koneksi emosional antar lagu, sehingga ketika lagu-lagu itu bertemu, penonton tidak merasakan perbedaan tetapi merasakan keakraban dengan cara yang baru. Artis tidak hanya menyanyikan lagu mereka sendiri; mereka juga harus melangkah ke dunia lagu lain, generasi lain. Di sanalah momen-momen paling otentik muncul,” ujar Duong Cam.
Melalui proyek ini, ia menyampaikan pandangannya bahwa musik bukan semata hiburan, melainkan juga memiliki misi menghadirkan kerinduan akan cinta dan koneksi. Dengan pola pikir musik kontemporer yang tetap menghargai nilai-nilai lama, Duong Cam dan timnya menyusun aransemen yang mengupayakan pertemuan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu aliran yang terpadu.