Chris Cornell masih dikenang sebagai salah satu vokalis rock paling berpengaruh sepanjang masa. Karakter suaranya bersama Soundgarden dan Audioslave terus hidup di kalangan penggemar musik hingga kini, sekalipun ia telah berpulang pada 2017 dan meninggalkan duka besar bagi dunia musik internasional.
Di era 1990-an, Cornell menjadi salah satu simbol kebangkitan musik grunge asal Seattle. Karisma panggung serta kemampuan vokalnya membuatnya disegani oleh banyak musisi lintas generasi, sementara karya-karyanya tetap melekat kuat dalam sejarah rock modern.
Nama Cornell kembali menjadi sorotan setelah media Consequence merilis daftar 100 frontman dan penyanyi terbaik sepanjang sejarah musik. Daftar itu melibatkan penilaian dari lebih dari 50 musisi dari berbagai genre, dan menempatkan Cornell di posisi ke-19. Penilaian tersebut didasarkan pada karakter suara, teknik bernyanyi, serta pengaruh besar yang ia tinggalkan di industri musik.
Cornell dikenal memiliki vibrato kuat dan suara serak yang menjadi ciri khasnya di atas panggung. Jangkauan vokalnya yang hampir mencapai empat oktaf membuatnya mampu menyanyikan nada-nada tinggi dengan tenaga yang tetap terjaga.
Selain teknik vokal, cara Cornell membawakan lirik juga kerap mendapat pujian. Banyak pendengar menilai emosi dan nuansa melankolis dalam lagu-lagunya terasa mendalam dan autentik.
Dalam sebuah wawancara pada 2008, Cornell pernah mengungkapkan bahwa ia tidak terlalu sering mengikuti pelatihan vokal formal. Meski begitu, beberapa teknik dasar yang dipelajarinya disebut membantu menjaga kualitas suara saat menjalani tur dengan jadwal padat.
Di balik reputasinya sebagai rockstar, Cornell juga menghadapi tantangan fisik. Kebiasaan merokok dan jadwal konser yang melelahkan sempat membuat kemampuan vokalnya mengalami gangguan.
Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, Cornell diketahui terbuka mengenai perjuangannya melawan depresi, kecemasan, dan kecanduan. Hingga kini, ia tetap dianggap sebagai salah satu ikon terbesar dalam sejarah musik rock dunia.