BERITA TERKINI
Punkesmas Angkat Kritik Sosial-Politik Lewat Satir dan Energi Musik Punk

Punkesmas Angkat Kritik Sosial-Politik Lewat Satir dan Energi Musik Punk

Punkesmas, band punk asal Karawang, Jawa Barat, menghadirkan kritik sosial-politik melalui musik punk yang enerjik dengan lirik bernuansa satir dan jenaka. Mereka menyebut upayanya sebagai cara “menyehatkan” nalar publik—bukan dalam arti harfiah, melainkan sebagai respons atas kondisi sosial yang dinilai kian “sakit-sakitan”.

Nama Punkesmas sendiri merupakan akronim dari Punk Kesehatan Masyarakat. Band ini lahir dari keresahan kolektif dan diperkuat oleh Eris Ristendi (gitar), Fahri Bajili (drum), Bayu Guntara (vokal), serta Komarudin (bass). Kehadiran mereka menegaskan punk, bagi Punkesmas, masih menjadi medium yang jujur untuk memotret realitas di tingkat akar rumput.

Bayu Guntara menjelaskan alasan memilih jalur punk di tengah tren musik yang dinilai semakin seragam. Menurutnya, pilihan itu berkelindan dengan “DNA Karawang” sebagai wilayah yang berada di koridor industri timur Jakarta, berdampingan dengan Bekasi dan Purwakarta. Ia menyebut Karawang sebagai paradoks: daerah industri, lumbung padi, sekaligus zona tambang yang eksploitatif.

Kondisi sosiologis tersebut dipandang Punkesmas sebagai “laboratorium” yang subur bagi tumbuhnya nilai anti-establishment dan counter-culture. Dalam pernyataannya pada Selasa (14/4/2026), Bayu menyoroti sejumlah persoalan yang ingin mereka suarakan, mulai dari buruh yang jam kerjanya diperas dengan upah murah, kerusakan lingkungan akibat tambang, hingga buruh tani yang didorong swasembada namun ditinggalkan ketika gagal panen.

Melalui pendekatan yang lugas dan tidak menggurui, Punkesmas menjadikan keresahan itu sebagai bahan bakar karya. Sebagai perkenalan, mereka langsung merilis tiga single: “Awas Ada Tai”, “Belajar Berhitung”, dan “Negaraku”.