BERITA TERKINI
Puluhan Guru dan Siswa Seni Musik di Bregas Ikuti Workshop Pembelajaran Berbasis AI Bersama Unnes

Puluhan Guru dan Siswa Seni Musik di Bregas Ikuti Workshop Pembelajaran Berbasis AI Bersama Unnes

Puluhan guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya Jurusan Seni Musik tingkat SMP-SMA/SMK di wilayah Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, dan Kota Tegal (Bregas) menggelar workshop pembelajaran seni budaya berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Kegiatan berlangsung di Gedung Rakyat Slawi pada Rabu-Kamis, 1-2 Juli 2026.

Workshop tersebut digelar bekerja sama dengan Universitas Negeri Semarang (Unnes). Selain para guru, kegiatan juga diikuti puluhan siswa dari berbagai sekolah di tiga wilayah tersebut.

Sejumlah peneliti dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unnes menjadi pemateri, yakni Prof Dr Syahrul Syah Sinaga, Hafid Zuhdan Bahtiar S.Pd., M.Sn., Antonius Edi Nugroho S.Pd., M.Pd., Dr Irfanda Rizki Harmono Sejati S.Sn., M.A., dan Ian Septian Raharjo S.Pd., M.Pd.

Prof Dr Syahrul Syah Sinaga menjelaskan, kegiatan ini bertujuan memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan MGMP dalam mengembangkan pembelajaran seni budaya yang relevan dengan perkembangan teknologi digital. Ia mengatakan, pihaknya ingin mengetahui kebutuhan MGMP terkait pengembangan pembelajaran seni budaya.

Syahrul juga menyebut Unnes memiliki platform yang mendukung implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan keempat tentang pendidikan berkualitas. Menurutnya, sinergi tersebut diharapkan dapat menghadirkan inovasi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan guru di era digital.

Ia menambahkan, salah satu fokus pengembangan yang dilakukan Unnes adalah pemanfaatan platform digital dalam proses pembelajaran. Dalam konteks perkembangan teknologi saat ini, guru dinilai perlu memahami bagaimana platform digital dapat menunjang pembelajaran seni budaya, termasuk ketika memasuki era AI.

Meski demikian, Syahrul menegaskan AI tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran guru. Menurutnya, teknologi berfungsi sebagai alat bantu, sementara sentuhan manusia tetap menjadi unsur utama dalam pendidikan, terutama untuk membangun karakter, kreativitas, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Syahrul menilai pemanfaatan AI dalam pendidikan tidak bisa dihindari, terlebih sejalan dengan perkembangan Kurikulum Merdeka. Karena itu, ia menekankan pentingnya kemampuan guru dalam menggunakan AI secara bijak dan tepat sesuai kebutuhan pembelajaran.

Ia juga mengingatkan bahwa AI mampu merespons berbagai pertanyaan, namun belum memiliki kemampuan menilai konteks, etika, maupun aspek sopan santun sebagaimana manusia. Karena itu, penilaian dan pendampingan guru tetap diperlukan agar penggunaan AI dalam pembelajaran berjalan tepat dan bertanggung jawab.