Penulis Dang Thi Kim Lien menuturkan kedekatannya dengan Sungai Nhật Lệ bermula sejak masa sekolah menengah di Sekolah Dong Hai yang berada tepat di tepi sungai. Dari jendela kelas, ia kerap menyaksikan perahu nelayan kembali pada sore hari, suasana ramai para nelayan, serta feri yang bolak-balik menyeberangkan orang. Pengalaman-pengalaman itu, menurutnya, menanamkan emosi awal yang sulit dilupakan.
Dalam ingatannya, Sungai dan laut Nhật Lệ juga hadir sebagai simbol keberanian pada masa perang penghancuran oleh imperialis Amerika. Ia menyebut gambaran Ibu Suốt yang mendayung perahu, kapal-kapal perbekalan, hingga kehidupan di perkebunan kelapa Bảo Ninh yang tetap berlangsung di tengah kehancuran akibat bom dan peluru sebagai sumber inspirasi yang kuat.
Seiring waktu, Kim Lien dan suaminya, musisi Duong Viet Chien, kerap bersepeda menyusuri tepian Sungai Nhật Lệ. Dari kebiasaan itu, serta pemandangan orang-orang yang menyeberang dengan feri untuk bertemu keluarga dan orang terkasih, ia menulis puisi berjudul “Cinta Sungai Nhật Lệ.” Ia menggambarkan Sungai Nhật Lệ dan jalan-jalan di Dong Hoi sebagai tempat yang indah, diibaratkan seperti “kuncup mawar,” yang telah dikunjungi banyak penyair dan penulis.
Puisi tersebut membuka dengan citra sungai yang tenang di “gerbang menuju Vietnam Tengah,” tempat sungai dan laut bertemu. Pilihan kata “ingat” dan “sayangi” menegaskan bahwa kedekatan itu bukan sekadar nostalgia sesaat, melainkan kasih sayang yang tumbuh dari pengalaman masa kecil di tepi sungai, yang membentuk nada tulus sepanjang karya.
Dalam puisi, sungai diperlakukan sebagai entitas hidup yang mampu merasakan, mengingat, dan merindukan. Gambaran “air biru” dan pantulan “pohon kelapa hijau” dijelaskan lewat alasan emosional: biru hadir karena “kerinduan dan kenangan,” sementara pantulan tercetak karena “perasaan yang masih membekas.” Setelah menghadirkan suasana tenang, alur emosi kemudian bergerak menuju arus heroik perjuangan revolusioner.
Sosok Ibu Suốt ditempatkan di tengah lanskap sejarah itu: seorang ibu heroik yang mendayung perahu membawa tentara menyeberangi sungai di bawah pemboman dan penembakan. Kontras antara kekerasan perang dan keteguhan rakyat menonjolkan kepahlawanan revolusioner, sekaligus memperlihatkan bagaimana cinta personal dan cinta tanah air dapat hadir beriringan.
Kim Lien juga merangkai kisah cinta pribadi ke dalam konteks yang lebih luas. Ia menampilkan pertentangan antara waktu yang berlalu dan sungai yang “tetap awet muda selamanya,” yang memunculkan nuansa rindu. Pada saat yang sama, “dermaga feri” dan “dayung” menjadi penanda kasih sayang manusia yang terekam kuat, meski mengisyaratkan perpisahan. Dalam puisi itu, perpisahan bukan semata kesedihan, melainkan juga harapan: pemuda berangkat untuk tujuan besar, sementara yang tinggal menunggu dengan kesetiaan.
Pertanyaan retoris tentang tempat para pemuda dan pemudi mengucapkan sumpah sebelum pergi membela negara menegaskan peran sungai sebagai saksi. Kerinduan pribadi kemudian melebar menjadi kerinduan yang menyatu dengan alam—diumpamakan seperti perahu yang merindukan pelabuhan—hingga menjangkau ruang yang lebih luas, “mengikuti burung-burung yang terbang.” Pada titik ini, Sungai Nhật Lệ digambarkan sebagai penghubung: antara garis depan dan belakang, antara mereka yang pergi dan yang tinggal, serta antara masa lalu dan masa depan.
Di bagian lain, pengulangan frasa “Izinkan aku mengirim...” hadir seperti gelombang yang menekankan dorongan untuk berkontribusi. “Ladang garam putih” dimaknai sebagai simbol kerja keras dan hasil dari laut, sementara “peluit pabrik” menghadirkan suasana kehidupan industri. Penutup puisi didominasi warna hijau—“hijau dengan aspirasi”—yang digambarkan sebagai warna kedamaian, pertumbuhan, dan kemakmuran. Simbol “layar dipenuhi angin” saat “air pasang” menandai kesiapan untuk melangkah maju.
Dang Thi Kim Lien disebut sebagai anggota Asosiasi Sastra dan Seni Provinsi. Selain menulis puisi, ia juga peneliti budaya rakyat dengan sejumlah karya penelitian. Kecintaannya pada budaya tradisional turut membentuk suara puitis yang bernuansa “pedesaan,” dengan kelembutan lagu rakyat dan bentuk lục bát. Meski ada puisi yang bernuansa modern, gaya penulisannya tetap sederhana dan mudah dipahami.
Puisi “Cinta Sungai Nhật Lệ” kemudian berlanjut ke ranah musik melalui karya suaminya, komposer Duong Viet Chien. Ia menyatakan puisi-puisi Kim Lien memiliki kualitas musikal alami sehingga mudah diadaptasi. Duong Viet Chien mengaku tidak hanya menggubah musik untuk “Cinta Sungai Nhật Lệ,” tetapi juga untuk puluhan puisi lain karya Kim Lien. Menurutnya, kedekatan dengan Dong Hoi membantu membangun harmoni antara jiwa komposer dan keindahan sungai kampung halaman, sehingga ia dapat menggubah musik yang merangkum kedalaman visual, musikal, dan historis puisi tersebut.
Ia juga menyebut karya itu, setelah dirilis, mendapat pujian dari para ahli dan dibawakan oleh banyak penyanyi. Lagu tersebut, menurut keterangannya, memenangkan penghargaan musik dari Komite Nasional Persatuan Asosiasi Sastra dan Seni Vietnam.

