BERITA TERKINI
Di Balik Permintaan “Hilangkan Oneng”: Rieke Diah Pitaloka, Beban Ikon, dan Seni Mencari Wajah Baru di Layar

Di Balik Permintaan “Hilangkan Oneng”: Rieke Diah Pitaloka, Beban Ikon, dan Seni Mencari Wajah Baru di Layar

Isu yang Membuatnya Menjadi Tren

Nama Rieke Diah Pitaloka kembali ramai dibicarakan setelah ia mengungkap permintaan sutradara Cesa David: “Bu, ilangin Oneng-nya ya,” untuk film Seni Merayu Tuhan.

Kalimat singkat itu memantik rasa ingin tahu publik, karena “Oneng” bukan sekadar karakter sitkom Bajaj Bajuri, melainkan ikon budaya populer yang melekat lama.

Di ruang digital, isu ini cepat menjadi tren karena menyentuh sesuatu yang dekat dengan banyak orang: bagaimana seseorang berjuang keluar dari label yang menempel bertahun-tahun.

-000-

Permintaan sutradara tidak berhenti pada “Oneng”. Rieke juga diminta menghilangkan sisi “galak” dan menyiapkan berbagai versi menangis demi kebutuhan naskah.

Rieke menyebut permintaan ketiga paling sulit. Ia harus mencari perbedaan kesedihan tokoh Halimah yang ia perankan, dengan ragam emosi yang tidak seragam.

Di sisi lain, ia merasa tertolong oleh naskah yang ditulis Salman Aristo, Gina S. Noer, dan Rino Sarjono, yang menurutnya menjelaskan tokoh dengan sangat detail.

-000-

Film Seni Merayu Tuhan merupakan adaptasi dari buku berjudul sama karya Habib Ja’far Husein, dan dijadwalkan tayang 13 Agustus 2026.

Deretan pemainnya mencakup Ari Irham, Teuku Rizky, Lutesha, Onadio Leonardo, Sita Nursanti, dan Rieke Diah Pitaloka.

Namun, yang paling menyita perhatian justru proses kreatifnya: upaya sadar untuk memutus bayang-bayang karakter lama, demi membangun sosok baru di layar.

Mengapa Isu Ini Meledak: Tiga Alasan

Alasan pertama adalah kekuatan memori kolektif. “Oneng” adalah rujukan cepat lintas generasi, sehingga setiap upaya “menghapusnya” terasa seperti peristiwa budaya.

Orang tidak sekadar membaca berita film. Mereka membaca ulang masa lalu, lalu membandingkannya dengan masa kini, dan bertanya apakah perubahan itu mungkin dilakukan sepenuhnya.

-000-

Alasan kedua adalah daya tarik konflik kreatif yang halus namun tajam. Sutradara meminta, aktor menegosiasikan, dan publik mengintip dapur proses yang biasanya tertutup.

Permintaan “hilangkan Oneng” terdengar sederhana. Tetapi bagi aktor, itu menyangkut tubuh, intonasi, kebiasaan komedi, bahkan cara memandang lawan main.

-000-

Alasan ketiga adalah irisan identitas ganda Rieke. Ia dikenal sebagai aktris, sekaligus politisi PDI-P, sehingga setiap langkahnya mudah dibaca sebagai perubahan peran.

Di Indonesia, figur publik jarang diberi ruang untuk menjadi “biasa”. Mereka sering dipaksa konsisten dengan citra lama, bahkan ketika kehidupan bergerak.

Isu ini akhirnya menjadi cermin: masyarakat menilai apakah seseorang boleh tumbuh, atau harus selamanya tinggal di persona yang paling populer.

Rieke, Halimah, dan Beban Karakter Ikonik

Dalam konferensi pers, Rieke menyampaikan tiga permintaan sutradara. Pertama, menghilangkan sisi “Oneng”. Kedua, menghilangkan sisi “galak”.

Ketiga, menyiapkan berbagai versi menangis. Permintaan ini menuntut presisi, karena naskah meminta kesedihan yang berbeda-beda, bukan sekadar air mata.

-000-

Yang menarik, permintaan itu tidak menyalahkan masa lalu. Ia justru mengakui masa lalu sangat kuat, sampai-sampai perlu “dikelola” agar tokoh baru bisa hidup.

Di sinilah kerja akting menjadi kerja memori. Seorang aktor membawa arsip gestur dari peran lama, dan harus memilah mana yang masih berguna.

“Hilangkan Oneng” pada akhirnya bukan perintah memusnahkan, melainkan ajakan membangun jarak. Jarak itu diperlukan agar Halimah berdiri dengan kakinya sendiri.

-000-

Rieke juga menekankan bantuan naskah yang detail. Ia menyebut naskahnya “sudah setengah jadi”, menandakan fondasi karakter telah disiapkan dengan rapi.

Dalam produksi film, naskah yang detail membantu aktor menahan godaan memakai kebiasaan lama. Ia tidak perlu mengandalkan “trik” yang pernah berhasil.

Ia bisa mengikuti peta emosi yang dirancang penulis, lalu mengisinya dengan pengalaman batin yang baru, lebih sunyi, dan mungkin lebih jujur.

Isu Besar di Baliknya: Budaya Label dan Ruang untuk Bertumbuh

Isu ini terkait dengan persoalan besar di Indonesia: budaya pelabelan. Kita mudah mengunci seseorang dalam satu identitas, lalu menagihnya berulang-ulang.

Pelabelan terlihat di politik, hiburan, bahkan kehidupan sehari-hari. Orang yang pernah lucu harus selalu lucu. Orang yang pernah tegas harus selalu tegas.

-000-

Di ruang kerja, pelabelan dapat menjadi penghambat mobilitas. Di ruang publik, ia bisa berubah menjadi hukuman sosial yang halus, namun melelahkan.

Berita tentang Rieke memperlihatkan bentuk pelabelan yang lebih lembut. Ia bukan serangan, melainkan bayang-bayang ketenaran yang sulit dilepas.

Ketika sutradara meminta “hilangkan Oneng”, kita melihat usaha institusional untuk melawan label. Itu bukan sekadar urusan estetika, melainkan urusan kebebasan kreatif.

-000-

Isu ini juga berkaitan dengan literasi budaya kita. Apakah penonton memberi kesempatan pada transformasi, atau menolak karena merasa kehilangan kenyamanan?

Dalam ekosistem film, kesempatan untuk transformasi menentukan kualitas. Industri yang sehat menumbuhkan aktor yang lentur, bukan mengulang pola yang sama.

Jika penonton hanya menginginkan nostalgia, maka karya baru akan terus diseret ke masa lalu, dan sinema kehilangan kemampuan mengejutkan kita.

Riset yang Relevan: Mengapa Persona Sulit Dilepas

Psikologi sosial mengenal gagasan bahwa manusia sering menilai orang lewat kategori yang mudah diingat. Dalam budaya populer, kategori itu kerap berupa karakter ikonik.

Ketika sebuah karakter sangat terkenal, publik membangun asosiasi otomatis. Wajah aktor menjadi pintu masuk menuju memori, bukan menuju tokoh baru.

-000-

Dalam kajian media, persona selebritas sering dipahami sebagai “teks” yang terus ditulis ulang oleh publik. Artinya, identitas figur publik dibentuk bersama.

Karena dibentuk bersama, ia juga sulit dibongkar sendirian. Dibutuhkan karya baru, strategi penyutradaraan, dan kesediaan penonton untuk membaca ulang.

-000-

Ada pula riset tentang typecasting dalam industri hiburan. Ketika aktor sukses dalam satu peran khas, industri cenderung mengulang formula demi kepastian pasar.

Namun formula yang diulang dapat mengurangi ruang eksplorasi. Dalam jangka panjang, ia membuat aktor dan penonton sama-sama terjebak dalam repetisi.

Permintaan Cesa David bisa dibaca sebagai upaya menolak repetisi itu. Ia ingin Halimah hadir tanpa “penyangga” komedi lama yang sudah dikenal.

-000-

Soal “berbagai versi menangis” juga menarik secara konseptual. Emosi bukan satu warna, melainkan spektrum yang dipengaruhi konteks, relasi, dan sejarah batin tokoh.

Kesedihan karena kehilangan berbeda dengan kesedihan karena penyesalan. Kesedihan karena takut berbeda dengan kesedihan karena pasrah.

Ketika naskah meminta ragam kesedihan, ia sedang menuntut akting yang lebih psikologis, lebih rinci, dan lebih dekat pada pengalaman manusia sehari-hari.

Rujukan Luar Negeri: Ketika Aktor Melawan Bayang-bayang Peran Lama

Fenomena serupa pernah terjadi di banyak negara. Sejumlah aktor dikenal begitu kuat lewat satu karakter, sampai peran berikutnya selalu dibandingkan.

Di Hollywood, Daniel Radcliffe lama dibayangi citra Harry Potter. Ia kemudian memilih peran-peran yang berbeda untuk memutus asosiasi tunggal itu.

-000-

Elijah Wood juga menghadapi bayang-bayang Frodo dari The Lord of the Rings. Ia menempuh proyek-proyek yang lebih kecil dan beragam untuk memperluas spektrum.

Di televisi Amerika, Bryan Cranston dikenal sebagai Hal dari Malcolm in the Middle sebelum mengubah persepsi publik lewat Breaking Bad.

Contoh-contoh itu menunjukkan satu pola: transformasi memerlukan waktu, pilihan peran yang tepat, serta keberanian kreatif dari pembuat film.

-000-

Kasus Rieke memiliki konteks lokal yang khas. “Oneng” lahir dari sitkom yang sangat membumi, sehingga kedekatannya dengan publik terasa personal.

Ketika publik merasa personal, perubahan terasa lebih emosional. Penonton seakan berkata, “Kami mengenalmu,” padahal yang dikenal adalah karakter.

Di sinilah seni bekerja: ia mengajak kita membedakan manusia dari peran, dan memberi ruang agar keduanya tidak saling menelan.

Analisis: Antara Nostalgia, Ekspektasi, dan Keberanian Artistik

Nostalgia adalah energi besar di internet. Ia membuat konten mudah menyebar karena orang gemar berbagi kenangan yang sama.

Namun nostalgia juga bisa menjadi penjara. Ia menuntut pengulangan, menolak perubahan, dan memaksa seniman memproduksi rasa aman tanpa risiko.

-000-

Permintaan sutradara kepada Rieke memperlihatkan keberanian artistik. Ia tidak mengandalkan memori penonton sebagai mesin tiket semata.

Ia justru meminta aktor menanggalkan “jatah tawa” yang sudah otomatis. Ini langkah yang menuntut kepercayaan pada cerita, pada naskah, dan pada penonton.

Di titik ini, peran penulis naskah menjadi penting. Rieke menyebut naskah sangat detail, menandakan karakter Halimah punya fondasi yang jelas.

-000-

Permintaan “hilangkan galak” juga menarik. Ia menandakan sutradara ingin memurnikan karakter, bukan menempelkan temperamen yang mungkin sudah diasosiasikan publik.

Dengan kata lain, film ini berusaha menghindari kebocoran persona. Ia ingin emosi tokoh lahir dari situasi cerita, bukan dari kebiasaan citra.

Ketika itu berhasil, penonton akan menyaksikan sesuatu yang jarang: aktor yang benar-benar menghilang, lalu yang tersisa hanya tokoh.

Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, publik sebaiknya membedakan karakter ikonik dan manusia yang memerankannya. Mengingat Oneng sah, tetapi menuntut Oneng hadir terus-menerus tidak adil.

Ruang tumbuh adalah kebutuhan semua orang, termasuk figur publik. Dukungan terbaik adalah memberi kesempatan pada karya baru untuk berbicara.

-000-

Kedua, industri film dapat menjadikan isu ini pelajaran tentang risiko kreatif. Typecasting memang menguntungkan sesaat, tetapi merugikan keragaman jangka panjang.

Produser dan sutradara bisa lebih berani menawarkan peran yang melawan stereotip. Penulis juga dapat merancang karakter yang kompleks dan tidak klise.

-000-

Ketiga, media dan warganet sebaiknya mendiskusikan proses, bukan sekadar sensasi. Membicarakan “berbagai versi menangis” lebih kaya daripada sekadar “Oneng dihapus”.

Diskusi semacam itu membantu meningkatkan literasi sinema. Ia membuat publik mengapresiasi kerja akting sebagai keterampilan, bukan sekadar kemasan ketenaran.

-000-

Pada akhirnya, tren ini mengingatkan kita pada satu pertanyaan sederhana: apakah kita memberi ruang bagi perubahan, atau kita hanya mencintai versi lama seseorang?

Jika seni adalah cara manusia mencari makna, maka transformasi aktor adalah bagian dari pencarian itu. Ia mengajarkan bahwa identitas tidak pernah final.

Dan mungkin, di situlah daya emosinya: melihat seseorang berani meninggalkan tempat yang nyaman, demi menjadi manusia yang lebih utuh di karya berikutnya.

-000-

“Kita tidak tumbuh ketika tetap aman. Kita tumbuh ketika berani berubah.”