DENPASAR – Pergeseran tren terlihat dalam pelaksanaan Bali Spirit Festival (BSF) di Bali. Jika sebelumnya festival ini identik dengan peserta berusia matang dan komunitas yoga internasional, beberapa tahun terakhir profil pengunjung justru didominasi generasi muda yang datang karena tren gaya hidup sehat, pengaruh media sosial, dan konsep wellness yang kian populer.
Co Founder Bali Spirit Festival, I Made Gunarta, mengatakan perubahan tersebut terjadi seiring berubahnya cara generasi muda memandang kesehatan, liburan, dan pengalaman hidup. Menurutnya, generasi muda saat ini tidak lagi menempatkan kesehatan hanya sebagai kebutuhan saat sakit, melainkan bagian dari gaya hidup.
“Sekarang paradigma hidup sudah berbeda. Kalau dulu orang tidak terlalu concern soal kesehatan, sekarang orang muda justru mulai mencari wellness,” ujar Gunarta saat ditemui Sabtu (4/4/2026) di The Ambengan Tenten (TAT).
Ia menjelaskan, tren wellness seperti yoga, meditasi, hingga healing trip banyak diminati kalangan usia muda, terutama generasi Z yang aktif di media sosial. Faktor media sosial dinilai turut mendorong kedatangan anak muda ke festival karena konten tentang Bali, yoga, healing, dan gaya hidup sehat dianggap menarik sekaligus photogenic.
Pergeseran usia pengunjung ini secara tidak langsung mengubah karakter BSF. Dari yang sebelumnya dikenal sebagai festival yoga dan spiritual untuk kalangan tertentu, kini berkembang menjadi festival gaya hidup sehat yang lebih luas dan diminati generasi muda. Gunarta menyebut, generasi Z cenderung mencari pengalaman yang bisa dibagikan di media sosial, mulai dari tempat yang unik, aktivitas yang berbeda, hingga pengalaman spiritual atau wellness yang dipandang memberi nilai lebih dibanding liburan biasa.
“Generasi Z itu kekuatan media sosialnya luar biasa. Kadang mereka mencari spot yang photogenic, mencari pengalaman baru, dan sekarang gaya hidup itu banyak mengkombinasikan antara bisnis, lifestyle, dan kesehatan,” katanya.
Fenomena tersebut juga mencerminkan perubahan tren pariwisata Bali. Wisata tidak lagi hanya berfokus pada pantai dan hiburan, tetapi juga mengarah pada wellness tourism, self healing, komunitas, serta pengalaman hidup. Dengan perubahan itu, BSF disebut terus bertransformasi mengikuti perkembangan generasi dan tren gaya hidup global, sekaligus berkembang sebagai lifestyle event yang memadukan kesehatan, komunitas, seni, musik, dan pengalaman wisata.
Selain pergeseran usia, komposisi pengunjung juga berubah. BSF tidak lagi sepenuhnya didominasi wisatawan mancanegara karena pengunjung domestik mulai meningkat, meski jumlahnya masih sekitar 20 persen dari total pengunjung.
Untuk wisatawan asing, pasar yang masih kuat disebut berasal dari Amerika dan Australia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan pengunjung juga datang dari negara Asia seperti India dan China. Gunarta mengatakan pihaknya aktif melakukan pendekatan komunitas di kedua negara tersebut, termasuk komunitas yang pernah datang ke Bali dan kemudian melakukan promosi mandiri.
“Kita banyak pendekatan dengan India dan China. Bahkan ada komunitas di China yang melakukan self campaign tentang Bali karena mereka pernah datang dan tahu situasi di Bali seperti apa,” ujarnya.
Terkait pelaksanaan festival tahun ini, Gunarta mengaku tetap optimistis meski situasi politik di Timur Tengah memanas. Namun, ia menilai tantangan terbesar bukan pada penyelenggaraan acara, melainkan pada mahalnya harga tiket pesawat internasional yang membuat sebagian wisatawan harus menempuh rute penerbangan memutar.
Menurutnya, wisatawan yang sudah mencintai Bali tetap akan datang meski harus melalui perjalanan yang lebih panjang. “Tantangannya sekarang bukan di event, tapi harga tiket pesawat yang mahal. Mereka harus rerouting, mungkin lewat Hong Kong atau negara lain dulu,” katanya.
Untuk menjaga kualitas pengalaman peserta, Bali Spirit Festival tetap membatasi jumlah pengunjung sekitar 2.000 orang agar suasana tetap nyaman dan tidak terlalu padat.

