BERITA TERKINI
Prof. Sukri: Masa Depan Kota Ditentukan Kesehatan Warga, Bukan Sekadar Infrastruktur

Prof. Sukri: Masa Depan Kota Ditentukan Kesehatan Warga, Bukan Sekadar Infrastruktur

MAKASSAR — Forum Musrenbang Kota Administrasi Jakarta Barat menjadi ruang sorotan terhadap tantangan kesehatan perkotaan di tengah laju urbanisasi yang kian ekstrem, Senin (7/4/2026). Dalam forum tersebut, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Prof. Sukri Palutturi, mengingatkan bahwa masa depan kota tidak ditentukan semata oleh kemegahan infrastruktur, melainkan oleh kualitas kesehatan warganya.

Prof. Sukri memulai paparannya dengan gambaran global. Saat ini, sekitar 4,4 miliar manusia hidup di wilayah perkotaan. Angka itu diproyeksikan meningkat hingga mencapai 68 persen populasi dunia pada 2050.

Namun, menurutnya, urbanisasi juga membawa paradoks besar. Di balik pertumbuhan kota, terdapat sekitar 1,1 miliar manusia yang hidup di kawasan kumuh. Selain itu, polusi udara disebut berkontribusi terhadap 8,1 juta kematian setiap tahun, dengan dampak yang banyak menimpa negara berkembang.

Ia menilai kota-kota modern kini menjadi episentrum beban ganda penyakit. Penyakit menular seperti tuberkulosis (TBC) dan dengue masih tinggi, sementara penyakit tidak menular seperti jantung, stroke, dan kanker meningkat tajam seiring perubahan gaya hidup urban.

Prof. Sukri menekankan bahwa kesehatan perkotaan tidak bisa dipandang sebagai persoalan medis semata. Ia menyebut berbagai determinan sosial—mulai dari sanitasi, kemiskinan, kepadatan, hingga minimnya ruang hijau—sebagai faktor yang secara langsung memengaruhi kualitas hidup masyarakat.

Dalam konteks Indonesia, ia menyebut sekitar 58 persen penduduk saat ini tinggal di perkotaan, dengan proyeksi meningkat menjadi 68 persen pada 2035. Kondisi itu, menurutnya, menjadikan isu kesehatan perkotaan sebagai prioritas nasional yang tidak bisa ditunda.

Jakarta disebut sebagai contoh ekstrem urbanisasi di Indonesia. Kota ini bahkan masuk dalam sepuluh kota terpadat di dunia, dengan kepadatan lebih dari 15 ribu jiwa per kilometer persegi.

Khusus Jakarta Barat, Prof. Sukri memaparkan situasi yang dinilai lebih kompleks. Wilayah ini memiliki populasi sekitar 2,49 juta jiwa dengan kepadatan mencapai 19.200 jiwa per kilometer persegi. Di Kecamatan Tambora, kepadatan disebut menembus 40.000 jiwa per kilometer persegi, menjadikannya salah satu wilayah terpadat di Asia Tenggara.

“Di wilayah seperti ini, kesehatan bukan lagi soal pelayanan medis, tetapi soal bagaimana kita mengelola ruang hidup manusia,” kata Prof. Sukri.

Ia menguraikan enam tantangan utama yang perlu segera ditangani di Jakarta Barat, yakni kepadatan ekstrem dan permukiman kumuh, krisis sanitasi dan air bersih, tingginya risiko stunting, kemiskinan perkotaan, polusi udara, serta ketimpangan akses layanan kesehatan.

Masalah sanitasi menjadi salah satu sorotan dalam pemaparannya. Namun, bagian data terkait capaian Open Defecation Free (ODF) dalam materi yang disampaikan tidak tercantum lengkap pada naskah yang tersedia.