BERITA TERKINI
Pertunjukan Nonverbal Korea "FLYING" Memukau Penonton di Jakarta

Pertunjukan Nonverbal Korea "FLYING" Memukau Penonton di Jakarta

Pertunjukan nonverbal asal Korea berjudul FLYING sukses memikat penonton di Jakarta lewat perpaduan seni tradisional, komedi, akrobatik, serta teknologi panggung. Pentas yang digelar pada Kamis (18/09/2025) ini didatangkan langsung dari Kota Gyeongju, Provinsi Gyeongsangbuk, Korea.

Penyelenggaraan pertunjukan tersebut menjadi bagian dari rangkaian penyambutan Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (KTT APEC) yang akan digelar di Gyeongju. FLYING merupakan hasil kolaborasi Kementerian Budaya, Olahraga, dan Pariwisata Korea; Kedutaan Besar Korea di Indonesia; serta Korean Cultural Center Indonesia (KCCI).

Dengan format nonverbal, FLYING dirancang dapat dinikmati tanpa batas bahasa. Pertunjukan dibuka dengan video yang menampilkan berbagai ikon Gyeongju, mulai dari Kuil Hwangnyongsa, mahkota emas era Kerajaan Silla, hingga Cheomseongdae. Tayangan pembuka itu menegaskan latar cerita yang mengarah pada era Silla.

Setelah video pembuka, suasana panggung berubah ketika lampu teater dipadamkan sejenak, lalu sorotan cahaya merah jambu perlahan menampilkan tarian seorang wanita berbusana hanbok khas Silla. Permainan warna lembut kostum dan tata cahaya menciptakan nuansa misterius. Tak lama kemudian, intensitas meningkat saat para penampil lain muncul sebagai prajurit Hwarang dengan tameng dan tombak, menampilkan gerakan bela diri yang mengingatkan pada taekwondo.

Ketegangan kemudian berganti tawa saat karakter dokkaebi—makhluk mitologi Korea yang dikenal usil—hadir di panggung. Interaksi dokkaebi dengan para Hwarang menghadirkan sejumlah adegan komedi, termasuk momen gerak lambat ala film laga. Salah satu bagian yang paling mengundang tawa adalah ketika dokkaebi mengetuk kepala para Hwarang dengan pentungan berduri, membuat mereka bertingkah aneh dan kacau.

Keistimewaan FLYING juga tampak pada pemanfaatan teknologi panggung. Proyektor tidak hanya menjadi latar visual, tetapi turut menuntun alur cerita, berpadu dengan tata cahaya dan suara yang disusun cermat. Elemen akrobatik seperti senam udara, trampolin, dan tali gantung dari langit-langit panggung menambah dimensi pertunjukan, ketika para pemain melayang dan berputar di udara sehingga menciptakan ilusi seolah benar-benar “terbang”.

Alur cerita berkembang tak terduga saat pertarungan antara Hwarang dan dokkaebi memunculkan portal waktu yang membawa mereka ke masa depan, tepatnya ke SMA Silla yang tengah bersiap mengikuti kompetisi pemandu sorak tingkat internasional. Konflik dan interaksi antara tim pemandu sorak dengan karakter dari masa lalu menjadi rangkaian yang menghibur hingga akhir.

Di penutup cerita, SMA Silla berhasil memenangkan lomba pemandu sorak, sementara portal waktu kembali terbuka untuk mengantarkan para karakter dari masa lalu pulang ke era Silla. Kisah yang dibalut humor, aksi, dan sentuhan emosional ringan itu disambut tepuk tangan serta sorakan meriah dari penonton.