BERITA TERKINI
Pertemuan Global Kota Musik UNESCO Digelar Hybrid di Seoul, Bahas Kolaborasi Regional hingga Legitimasi Focal Point

Pertemuan Global Kota Musik UNESCO Digelar Hybrid di Seoul, Bahas Kolaborasi Regional hingga Legitimasi Focal Point

Pertemuan global kota-kota kreatif berbasis musik dalam jejaring UNESCO digelar secara hybrid pada 14 April 2026 di Seoul, Korea Selatan. Forum ini menghasilkan sejumlah konsep dan pola pikir yang diproyeksikan dapat dibawa ke pertemuan tahunan serta sub-pertemuan kluster musik UNESCO.

Direktur AMO sekaligus Focal Point Ambon UNESCO City of Music dan Regional Ambassador Asia Pasifik UNESCO Cities of Music, Ronny Loppies, hadir mewakili kota-kota kreatif di kawasan Asia Pasifik. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya penguatan kerja sama dan partisipasi regional melalui penyelenggaraan event berskala besar, seperti Daegu Global Forum dan Amboina International Music Festival.

Menurut Loppies, Amboina International Music Festival di Ambon City of Music pada 2024–2025 memberi dampak pada meningkatnya kepedulian kota-kota kreatif se-Asia Pasifik untuk mengelaborasi musik dengan isu lingkungan dalam aktivitas kota dan budaya bermusik. Sementara itu, Daegu Global Forum 2022–2025 disebut memberi dampak kuat terkait jalur pertukaran global yang menghubungkan Daegu dengan dunia, termasuk inisiatif pendidikan dan program-program unggulan.

Selain kerja sama berbasis kegiatan, Loppies juga menyampaikan komitmen untuk memfokuskan pembahasan pada Deklarasi Mondiacult 2022/2025, khususnya terkait budaya untuk perdamaian. Dalam konteks situasi global saat ini, ia menilai kota-kota kreatif, terutama di Asia Pasifik, perlu terus mengangkat hubungan antara budaya dan perdamaian. Implementasi deklarasi tersebut dinilai penting untuk memengaruhi perspektif kota dalam membahas pembangunan berkelanjutan dengan budaya sebagai instrumen perdamaian.

Forum juga menyoroti respons kota-kota jejaring terhadap pengumuman Decade of Culture dari Sekretariat UCCN, serta pembaruan mengenai konferensi tahunan dan pertemuan tahunan kluster musik. Dalam pembahasan ini, disampaikan bahwa bagi sejumlah kota, termasuk Ambon City of Music, keterbatasan anggaran menjadi tantangan untuk menghadiri pertemuan tahunan maupun pertemuan kluster, seiring kebijakan efisiensi anggaran negara.

Isu lain yang dibahas adalah kebutuhan legitimasi tertulis dari UNESCO terkait focal point UCCN. Loppies menilai legitimasi tersebut krusial untuk memperkuat posisi focal point dalam menjalankan peran di kota. Ia juga menyinggung bahwa penunjukan focal point kerap dilakukan atas nama UCCN, meski kondisi dan isu di tiap kota tidak selalu sama, sehingga diperlukan dasar legitimasi yang kuat.

Di sisi komunikasi, pertemuan turut mendorong pembentukan media UNESCO Cities of Music untuk mengakomodasi berita-berita terkini dari kota-kota kreatif dunia dan memperluas promosi budaya musik ke berbagai wilayah.

Pertemuan yang diikuti berbagai focal point dari kota-kota musik UNESCO ini disebut mendapat respons positif. Para peserta menilai jejaring kota musik dapat berperan dalam mendorong kota yang berkelanjutan serta meningkatkan kepedulian terhadap budaya musik sebagai salah satu penggerak dalam mengatasi persoalan urban perkotaan.