BERITA TERKINI
Permintaan Mulai Pulih, Pasar Perkantoran Jakarta Masih Berjalan Selektif

Permintaan Mulai Pulih, Pasar Perkantoran Jakarta Masih Berjalan Selektif

Pasar perkantoran Jakarta masih bergerak dengan pendekatan konservatif di tengah pemulihan yang dinilai belum sepenuhnya solid. Sejumlah pemilik gedung memilih bersikap hati-hati, sehingga kondisi pasar tetap cenderung menguntungkan penyewa. Dalam situasi ini, penyewa memanfaatkan peluang untuk mengamankan ruang kantor, terutama di gedung berkualitas tinggi dengan pengelolaan baik dan tarif sewa yang kompetitif.

Meski permintaan mulai menunjukkan tanda pemulihan, pasar masih berada dalam fase wait and see. Pengembang tetap memandang Jakarta sebagai pusat aktivitas bisnis nasional, namun rencana pengembangan baru diperkirakan dilakukan secara selektif dan bertahap. Fokusnya diarahkan pada kualitas bangunan, efisiensi desain, serta kesesuaian dengan kebutuhan penyewa.

Head of Research Colliers, Ferry Salanto, menyampaikan bahwa sepanjang 2025 permintaan pasar perkantoran masih didominasi oleh perpanjangan masa sewa. Di saat yang sama, aktivitas relokasi perusahaan tercatat meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, kondisi ini menjadi sinyal positif terkait meningkatnya kepercayaan korporasi terhadap prospek bisnis ke depan.

Ferry juga menjelaskan bahwa aktivitas ekspansi ruang mulai terlihat lebih menonjol dibandingkan pengurangan luas kantor. Pergeseran tersebut dinilai menunjukkan transisi dari strategi efisiensi ruang pascapandemi menuju fase pertumbuhan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Di sisi lain, penyewa masih memanfaatkan posisi tawar yang kuat untuk memperoleh harga sewa yang lebih kompetitif, baik saat memperpanjang sewa maupun ketika berpindah ke gedung dengan kualitas yang lebih baik. Strategi ini disebut turut mendorong perbaikan tingkat hunian gedung perkantoran di Jakarta secara bertahap.

Ke depan, pergerakan tarif sewa diperkirakan sangat bergantung pada tingkat keterisian gedung, terutama untuk properti premium dan Grade A yang berlokasi strategis, termasuk di luar kawasan CBD. Seiring proyeksi membaiknya tingkat hunian, pemilik gedung berpotensi mulai memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian tarif sewa.

Namun, efisiensi biaya tetap menjadi pertimbangan utama penyewa dalam menentukan lokasi kantor. Selain harga sewa dasar, penyewa juga memperhitungkan berbagai insentif dari pemilik gedung, seperti masa bebas sewa dan dukungan biaya fit-out. Ferry menyebut, selisih antara tarif sewa yang ditawarkan dan harga transaksi umumnya berada di kisaran 10% hingga 30%, bergantung pada ukuran unit dan posisi tawar penyewa.