BERITA TERKINI
Pergelaran "Musik Sampah" Libatkan Warga dan Hidupkan Taman Kelayan Barat

Pergelaran "Musik Sampah" Libatkan Warga dan Hidupkan Taman Kelayan Barat

Pergelaran seni bertajuk “Musik Sampah” meninggalkan kesan bagi warga Kelurahan Kelayan Barat, Banjarmasin Selatan. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari itu dirancang dengan melibatkan partisipasi masyarakat setempat dalam setiap rangkaian acara.

Puncak kegiatan digelar pada Sabtu malam, 9 Mei 2026, di kawasan Taman Kelayan. Ratusan warga dari berbagai usia memadati lokasi, sementara anak-anak hingga komunitas lokal turut tampil mengisi pertunjukan.

Inisiator kegiatan, Muh. Arqam, mengatakan pelibatan warga dilakukan agar manfaat program dapat dirasakan langsung oleh lingkungan sekitar. “Karena konsepnya penerima manfaat ini tidak hanya kami saja, namun juga berdampak kepada masyarakat,” ujarnya.

Taman Kelayan dipilih sebagai lokasi utama karena posisinya yang bersinggungan dengan permukiman padat penduduk. Reaktivasi ruang publik tersebut diharapkan dapat memberdayakan warga melalui pemanfaatan area yang tersedia.

Keterlibatan masyarakat disebut telah dimulai sejak persiapan, termasuk saat pembangunan panggung pertunjukan. Selain pertunjukan, panitia juga menggelar workshop edukasi pengelolaan limbah selama lima hari. “Itulah yang kami harapkan tertanam dalam diri anak-anak. Ini hasil yang kami bangun selama dua bulan,” kata Arqam.

Kegiatan ini berangkat dari keresahan terkait penanganan sampah di Kota Banjarmasin dan mendapat dukungan dari empat Rukun Tetangga (RT). Ketua RT 02 Kelayan Barat, Nuristawati, menyebut sekitar 50 anak terlibat langsung dalam pergelaran.

Selain anak-anak, para ibu rumah tangga di lingkungan sekitar juga diberdayakan melalui pelatihan teknis pengelolaan sampah rumah tangga. Menurut Nuristawati, warga menyambut positif agenda tersebut karena dinilai memberi edukasi yang bermanfaat. “Kami juga senang dengan adanya kegiatan ini. Dari kemarin anak-anak dan orang tuanya juga antusias,” ucapnya.

Nuristawati menambahkan, kegiatan ini turut berdampak pada aktivitas ekonomi warga. Kawasan Taman Kelayan yang biasanya sepi menjadi lebih ramai dan memberi peluang bagi pedagang kecil. “Orang-orang jualan jadi ramai. Otomatis menambah daya tarik ke kawasan ini yang biasanya sepi,” ujarnya.

Pertunjukan bertema Ecomusicology Soundscapes itu menghadirkan kolaborasi 11 seniman dan empat komposer musik. Seluruh karya bunyi yang dihasilkan direncanakan diproduksi dan disebarluaskan melalui platform musik digital.

Untuk dokumentasi berkelanjutan, tim “Musik Sampah” juga berencana menerbitkan buku panduan sebanyak 50 eksemplar. Buku tersebut akan dibagikan ke sejumlah sekolah di Banjarmasin sebagai materi edukasi lingkungan.