BERITA TERKINI
Pembangunan Huntara di Sawang Capai 60 Persen, Pemerintah Aceh Didorong Percepat dan Jaga Kualitas Jelang Ramadan

Pembangunan Huntara di Sawang Capai 60 Persen, Pemerintah Aceh Didorong Percepat dan Jaga Kualitas Jelang Ramadan

Pemerintah Aceh terus mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) bagi korban banjir bandang di Kabupaten Aceh Utara. Di Kecamatan Sawang, progres pembangunan mulai terlihat, meski masih terdapat sejumlah pekerjaan yang harus dituntaskan sebelum Ramadan.

Di Dusun Payarube, Desa Gunci, sebanyak 43 unit huntara sedang dibangun dengan capaian sekitar 60 persen. Huntara tersebut dipersiapkan untuk warga terdampak parah di Dusun Lok Pungki yang rumahnya hanyut total akibat banjir bandang beberapa waktu lalu. Namun, kebutuhan riil di lokasi itu disebut mencapai 86 unit, sehingga pembangunan tahap pertama baru memenuhi sekitar separuh kebutuhan.

Sementara pembangunan berjalan, sebagian warga masih bertahan di tenda pengungsian dengan kondisi terbatas. Persediaan logistik dilaporkan mulai menipis, cuaca yang tidak menentu menambah beban, dan semakin dekatnya Ramadan membuat harapan agar huntara segera rampung kian menguat.

Sejumlah pemberitaan juga menyoroti adanya variasi kualitas bangunan huntara di lapangan. Ada unit yang telah dilengkapi peredam panas, namun ada pula yang masih sederhana.

Ketua Yayasan Hijau Bina Desa Cerdas, Ismunazar SE MM, menilai langkah percepatan yang dilakukan Pemerintah Aceh sudah berada pada arah yang tepat, meski tantangan teknis masih perlu diatasi. Ia menyebut progres 60 persen dalam waktu relatif singkat sebagai capaian yang patut dicatat, sembari menekankan pentingnya percepatan dan pengawasan kualitas.

“Pemerintah Aceh sudah menunjukkan komitmen nyata. Progres 60 persen dalam waktu relatif singkat itu bukan angka kecil. Tinggal bagaimana kita memastikan percepatan dan pengawasan kualitas agar warga benar benar bisa menempati huntara dengan layak sebelum Ramadan,” ujar Ismunazar.

Menurutnya, kondisi di Sawang tidak bisa disamakan dengan wilayah lain, seperti Aceh Tamiang, yang progresnya disebut hampir rampung. Perbedaan medan, akses material, distribusi logistik, hingga faktor cuaca dinilai memengaruhi kecepatan pembangunan di setiap lokasi.

“Kita tidak bisa menyamakan semua lokasi. Medan, akses material, hingga cuaca sangat memengaruhi progres. Tapi justru di situlah pentingnya koordinasi lintas sektor agar tidak ada warga yang tertinggal,” katanya.

Ismunazar juga mengingatkan agar aspek kualitas tidak dikorbankan demi mengejar target waktu. Ia menilai huntara bukan sekadar tempat tinggal sementara, melainkan bagian dari pemulihan warga terdampak.

“Huntara ini bukan sekadar bangunan sementara. Ini ruang pemulihan psikologis warga. Jangan sampai cepat selesai tapi kurang nyaman. Percepatan harus sejalan dengan standar kelayakan,” tegasnya.

Secara umum, percepatan pembangunan huntara menjadi bagian dari respons Pemerintah Aceh terhadap bencana banjir bandang di Aceh Utara. Dukungan publik serta pengawasan konstruktif diharapkan dapat membantu proses pembangunan rampung tepat waktu, sehingga warga terdampak dapat menjalani Ramadan dengan lebih tenang.