Meski porsi kolom opini di koran disebut kian berkurang atas nama efisiensi, rubrik ini masih dipandang bergengsi. Dalam buku Menulis Politik (Penerbit Kompas, 2001), Ignas Kleden menilai penulis opini yang tulisannya dimuat di surat kabar dan memperoleh honor pada dasarnya telah memiliki kredensial sebagai penulis, karena naskah melewati kurasi redaktur dari banyak submisi dan tidak bergantung pada koneksi.
Agus Sarjono dan Ignas Kleden dalam Majalah Horison edisi khusus Esai (2004) juga menyebut kolom opini sebagai medium untuk mempopulerkan diskursus ilmiah di ruang publik. Mereka memandang opini media massa serupa esai—perpaduan tulisan ilmiah yang “dingin” dan vitalitas karya sastra yang “panas”—sehingga unsur objektivitas dan subjektivitas bertemu dalam satu tulisan.
Konsistensi menulis opini turut dikaitkan dengan peran cendekiawan atau intelektual publik. Mengacu pada istilah pendiri majalah Basis, almarhum Romo Dick Hartoko dalam Golongan Cendekiawan (Penerbit Obor, 1980), penulis yang rutin hadir di ruang publik dinilai membumikan pengetahuan untuk kemaslahatan umum. Pengakuan serupa disebut tampak pada penghargaan yang diberikan harian Kompas, yang salah satu tolok ukurnya adalah ketekunan merawat nalar dialektis publik melalui kolom opini (dalam Penghargaan Kompas: Cendekiawan Berprestasi Kompas 2008-2016, Penerbit Buku Kompas, 2017).
Berangkat dari pengalaman lapangan selama 15 tahun mengisi kolom opini di sejumlah media massa, penulis membagikan sejumlah tips praktis bagi pembaca yang ingin mulai menulis opini.
1. Menentukan momentum tulisan
Bagi penulis yang mengalami kebuntuan ide, tema dapat diambil dengan mengomentari isu terkini, memanfaatkan peringatan hari tertentu (misalnya Hari Buku, Hari Musik, Hari HAM, Hari Kemerdekaan), atau menanggapi opini penulis lain melalui polemik.
Ada pula kebiasaan di sejumlah surat kabar terkait “hari” dan tema. Hari Jumat disebut kerap cocok untuk isu-isu agama, sedangkan hari Sabtu cenderung memberi ruang pada isu budaya seperti kebahasaan, sastra, filsafat, dan humaniora, yang tidak selalu terikat aktualitas. Adapun hari Senin disebut lebih identik dengan isu aktual, terutama politik dan ekonomi-bisnis. Penulis juga mengingatkan agar judul tidak dibuat terlalu panjang seperti judul artikel jurnal ilmiah.
2. Memahami teknis dan syarat naskah
Secara umum, surat kabar mematok panjang artikel sekitar 6.000–7.500 karakter tanpa spasi, sehingga patokan utamanya bukan jumlah halaman. Font yang lazim digunakan adalah Times New Roman ukuran 12. Disebutkan, Koran Tempo mematok sekitar 7.500 karakter; Media Indonesia dan Bisnis Indonesia 5.500 karakter; Jawa Pos 7.000 karakter; dan Kompas sekitar 5.000–7.500 karakter.
Untuk koran daerah, Kedaulatan Rakyat mensyaratkan artikel maksimal 650 kata, Banjarmasin Post maksimal 900 kata, dan Solopos sekitar 5.500 karakter.
Pengiriman naskah umumnya disertai biodata, file KTP, dan file NPWP, dengan format dokumen .doc atau .rtf. Terkait pengiriman ke media lain, waktu tunggu yang disarankan adalah dua minggu, kecuali beberapa media yang disebut memiliki batas lebih singkat: Jawa Pos (5 hari), Bisnis Indonesia (7 hari), Media Indonesia (7 hari), dan Koran Tempo (7 hari).
Jika penulis ingin mengirimkan naskah ke media lain sebelum masa tunggu tersebut, disarankan mengirim surat penarikan kepada redaktur. Alasannya, jika terjadi pemuatan ganda, penulis berisiko masuk daftar hitam.
3. Menentukan segmen media
Penulis menekankan pentingnya menyesuaikan materi dengan karakter media. Kritik keras terhadap pemerintah, misalnya, dinilai tidak cocok untuk koran yang lebih pro pemerintah dan lebih tepat dikirim ke media yang dikenal kritis seperti Koran Tempo.
Disebutkan pula, Media Indonesia pada hari Senin hanya menerima tulisan bertema pendidikan. Sementara Kontan dan Bisnis Indonesia berfokus pada opini ekonomi dan hukum, terutama hukum bisnis serta isu korupsi.
4. Tips penyusunan kolom
Dalam aspek penulisan, satu alinea disarankan tidak terlalu panjang. Penulis mengutip nasihat Stephen King dalam On Writing (Qanita, 2005) tentang pentingnya memangkas tulisan (killing your darlings). Ia juga mengutip dialog Prof Forrester yang diperankan Sean Connery dalam film Finding Forrester (1995): menulis perlu menggunakan hati, tetapi mengedit harus memakai kepala.
Tips lain adalah memakai instrumen numerikal untuk menyajikan poin penting. Mengacu pada saran kolumnis Alfan Alfian dalam Bagaimana Saya Menulis (Penjuru Ilmu Sejati, 2016), penulis dapat memecah faktor penyebab masalah dan solusi ke dalam kategori bernomor, misalnya “setidaknya ada tiga faktor penyebab banjir: pertama..., kedua..., ketiga...”, lalu diikuti uraian solusi dengan pola serupa.
5. Kontak redaksi dan kisaran honor
Berikut alamat surel redaksi opini dan kisaran honor yang disebutkan:
Kompas: opini@kompas.id (Rp 400 ribu–Rp 1 juta).
Media Indonesia: opinimi@yahoo.com (Rp 500 ribu–Rp 750 ribu).
Koran Tempo: pendapat@tempo.co.id (Rp 400 ribu).
Jawa Pos: opini_jp@jawapos.co.id (Rp 500 ribu–Rp 750 ribu).
Bisnis Indonesia: redaksi@bisnis.com (Rp 750 ribu).
Kontan: red@kontan.co.id (Rp 500 ribu).
Jakarta Post: opinion@thejakartapost.com (Rp 600 ribu).
Banjarmasin Post: redaksi@banjarmasinpost.co.id (Rp 200 ribu). Disebutkan hanya memuat kolom opini dari penulis luar setiap Rabu dan Kamis.
Kedaulatan Rakyat: opinikr@gmail.com (Rp 250 ribu).
Solopos: redaksi@solopos.co.id (Rp 300 ribu).
Penulis menutup dengan catatan bahwa saat ini kolom opini tidak hanya dimuat di media cetak, tetapi juga ditayangkan di situs media terkait. Informasi yang dibagikan diharapkan membantu pembaca yang ingin memulai menulis opini di surat kabar konvensional.

