Kembalinya PSS Sleman ke Liga 1 atau BRI Super League musim depan turut memunculkan antusiasme di kalangan pendukungnya, termasuk dari Over Distortion, band asal Sleman yang sejak lama lekat dengan kultur tribun. Nama Over Distortion dikenal dekat dengan kelompok suporter PSS, khususnya Brigata Curva Sud (BCS).
Para personel Over Distortion telah aktif datang ke stadion sejak era Slemania sebelum kemudian beralih menjadi bagian dari BCS. Dari keterlibatan itu, mereka memutuskan untuk menempatkan Over Distortion sebagai band suporter. Keputusan tersebut, menurut salah satu personel bernama Amek, sempat memiliki konsekuensi tersendiri. “Risikonya waktu itu ya kami cuma main di Sleman, karena hubungan antarsuporter dulu belum sedamai sekarang,” katanya.
Band yang menetapkan 19 Desember 2010 sebagai hari jadi itu kemudian dikenal melalui lagu-lagu yang bercerita tentang tribun, loyalitas, serta dinamika yang mengiringi perjalanan PSS dan suporternya. Amek menyebut, sebagian besar karya Over Distortion lahir dari pengalaman pribadi maupun pengalaman kolektif bersama teman-teman di tribun. “Banyak cerita dan peristiwa yang menurut kami harus diceritakan lewat lagu,” ucapnya.
Salah satu contohnya adalah album 10 Tahun di Barisan yang dibuat sebagai dokumentasi perjalanan BCS selama satu dekade. Meski identik dengan kultur suporter dan kerap dikaitkan dengan genre yang mereka sebut “Curva Rockers”, Amek menegaskan hal itu tidak membuat ruang kreatif Over Distortion menjadi sempit.
Menurutnya, pengalaman di tribun justru membantu lagu-lagu mereka lebih mudah diterima suporter dari berbagai kota. Ia menilai persoalan dan dinamika di dunia suporter kerap memiliki kemiripan, sehingga karya Over Distortion dapat menemukan relevansinya di tempat lain. “Ternyata masalah-masalah di dunia suporter itu mirip-mirip. Jadi lagu kami juga bisa diterima di tempat lain,” lanjutnya.