BERITA TERKINI
Opini: Malang sebagai Kota Pendidikan dan Meningkatnya Kasus Bunuh Diri di Kalangan Mahasiswa

Opini: Malang sebagai Kota Pendidikan dan Meningkatnya Kasus Bunuh Diri di Kalangan Mahasiswa

Kota Malang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan. Namun, di balik citra tersebut muncul ironi yang disorot dalam sebuah tulisan opini: meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa. Fenomena ini dipandang sebagai tanda adanya ruang-ruang sunyi yang dialami individu, ketika mereka berhadapan dengan tekanan tanpa penopang yang memadai.

Penulis menilai peristiwa bunuh diri kerap dibaca secara sempit sebagai tragedi personal—misalnya terkait kegagalan akademik, putus hubungan, atau tekanan ekonomi. Cara pandang itu disebut berisiko menyederhanakan masalah dan menutup pemahaman terhadap akar yang lebih dalam. Mengacu pada perspektif sosiolog Emile Durkheim, bunuh diri diposisikan bukan semata tindakan individual, melainkan gejala sosial yang mencerminkan keretakan hubungan antara individu dan struktur yang seharusnya menopang.

Mahasiswa yang datang ke Malang umumnya membawa harapan besar sebagai bagian dari upaya mobilitas sosial: meninggalkan kampung halaman untuk mengejar masa depan. Namun, mereka juga memikul beban ekspektasi keluarga, tuntutan untuk berhasil, dan ketakutan akan kegagalan. Ketika harapan tersebut tidak diimbangi dukungan yang memadai, tekanan dinilai dapat terus menggerus daya tahan mental.

Dalam tulisan itu, institusi pendidikan turut dikritik. Kampus disebut berpotensi terjebak dalam logika produksi—mendorong kelulusan cepat dengan standar akademik tinggi—sehingga mahasiswa lebih sering diposisikan sebagai subjek yang harus berhasil, bukan manusia yang juga dapat rapuh. Layanan konseling disebut memang ada, tetapi dinilai kerap bersifat administratif dan belum sepenuhnya menjadi ruang aman yang hadir dalam keseharian mahasiswa.

Meski demikian, penulis menekankan persoalan tidak bisa dibebankan pada kampus semata. Kampus dipandang beroperasi dalam kerangka yang lebih besar, yakni sistem pendidikan nasional. Negara, menurut tulisan tersebut, perlu masuk dalam lingkar kritik karena kebijakan pendidikan masih dianggap terlalu menekankan kompetisi dan capaian formal, sementara kesehatan mental belum ditempatkan sebagai prioritas yang setara.

Penulis juga menyoroti anggapan seolah setiap individu memiliki daya tahan yang sama. Ketika standar keberhasilan ditetapkan tinggi tanpa dukungan kuat, yang terjadi disebut sebagai “seleksi sunyi”: mereka yang tidak mampu bertahan tersingkir tanpa suara. Kritik terhadap negara, menurut tulisan itu, bukan untuk meniadakan tanggung jawab individu, melainkan untuk menempatkan persoalan dalam kerangka yang lebih adil karena individu selalu berada dalam jaringan struktur sosial.

Lapisan lain yang dianggap kerap luput adalah budaya masyarakat. Keberhasilan dipuja, sementara kegagalan sulit diterima. Mengeluh kerap dipersepsikan sebagai kelemahan, dan mencari bantuan psikologis masih dibayangi stigma. Akibatnya, banyak orang memilih diam dan menyimpan beban hingga mencapai titik yang tidak tertahankan.

Dalam konteks tersebut, bunuh diri tidak dipandang sebagai keputusan yang lahir dalam satu malam, melainkan akumulasi kesunyian panjang yang diproduksi oleh sistem yang tidak memberi cukup ruang bagi manusia untuk menjadi tidak sempurna. Penulis lalu mengaitkannya dengan pemikiran Albert Camus yang menyebut bunuh diri sebagai pertanyaan filsafat paling serius: apakah hidup layak dijalani. Pertanyaan ini dinilai menguat ketika individu tidak lagi menemukan makna dan hidup terasa mekanis, tanpa tujuan yang benar-benar dimiliki.

Malang, dalam tulisan opini itu, diposisikan bukan sekadar lokasi geografis, melainkan simbol yang merepresentasikan wajah pendidikan saat ini: penuh harapan, tetapi menyimpan retakan. Pendidikan dinilai mampu mencetak manusia cerdas, namun belum tentu membentuk ketangguhan emosional.

Upaya yang selama ini muncul juga dinilai cenderung reaktif, seperti pemasangan pagar di jembatan, peningkatan pengawasan, atau imbauan moral. Langkah-langkah itu disebut penting, tetapi belum menyentuh akar persoalan karena bunuh diri dipandang sebagai proses panjang yang tumbuh dalam diam.

Karena itu, penulis mendorong solusi yang tidak parsial. Kampus diminta mengintegrasikan kesehatan mental secara serius dalam kehidupan akademik, negara didorong merumuskan kebijakan yang menempatkan kesejahteraan psikologis sebagai bagian dari tujuan pendidikan, dan masyarakat diajak membangun budaya yang lebih ramah terhadap kerentanan. Tanpa perubahan tersebut, penulis menilai akan terus lahir generasi yang tampak kuat di permukaan, tetapi rapuh di kedalaman.

Pada akhirnya, fenomena bunuh diri di Malang disebut sebagai cermin tentang bagaimana manusia dibentuk melalui tuntutan, pengabaian, dan prioritas yang dipilih. Jika persoalan terus dilihat semata sebagai masalah individu, penulis menilai masyarakat sedang menolak untuk bercermin—dan kesunyian itu akan terus ada.