Kegemaran terhadap idola asal Korea kerap dipandang sebelah mata. Tidak sedikit yang menilainya sekadar hobi impulsif yang menghabiskan waktu dan energi.
Namun, bagi Novi Sita Priastuti, kegemaran tersebut justru menjadi ruang aman untuk bertahan di tengah dinamika hidup. Remaja yang akrab disapa Sita ini memaknai menjadi penggemar bukan hanya menikmati musik pop atau tarian panggung, melainkan sebagai cara menjaga kesehatan mental.
Ia mengatakan, hobi itu menjadi salah satu sumber semangat setelah dirinya didiagnosis penyakit yang tidak bisa sembuh. “Hobi ini juga bisa jadi semangat untuk aku bertahan setelah didiagnosis penyakit yang tidak bisa sambuh. Bisa dibilang, kegiatan ini juga jadi salah satu obat buat aku,” ujarnya.
Warga Desa Tunah, Kecamatan Semanding, tersebut mengaku musik dengan lirik penuh motivasi menjadi pelarian yang sehat di tengah rutinitas yang kerap menekan. Saat rasa lelah dan kesepian datang, lagu-lagu yang didengarkan mampu menghadirkan kembali semangat.
Dorongan juga ia peroleh dari perjalanan para idola yang dikaguminya. Menurutnya, proses panjang, kerja keras, hingga cara menghadapi kritik memberi perspektif baru. Nilai konsistensi dan keberanian itu kemudian ia coba terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegemaran tersebut turut berdampak pada pengembangan diri. Sita, pelajar jurusan Bisnis Digital SMK Negeri 2 Tuban, mulai tertarik mempelajari bahasa baru, lebih berani mengekspresikan diri, serta mencoba berbagai hal yang sebelumnya tidak terpikirkan.