BERITA TERKINI
Nguyen Truong, Guru Biola yang Melestarikan dan Mencipta Alat Musik Bambu dari Dataran Tinggi Tengah

Nguyen Truong, Guru Biola yang Melestarikan dan Mencipta Alat Musik Bambu dari Dataran Tinggi Tengah

Pagi musim semi yang sejuk di sebuah rumah kecil di Jalan Ngo Quyen, Kelurahan Buon Ma Thuot, Provinsi Dak Lak, diisi bunyi biola yang mengalun dari tangan para siswa. Di sana, guru Nguyen Truong—yang telah memasuki usia enam puluhan—masih tampak aktif membimbing murid-muridnya, memperagakan gerak dan postur layaknya seniman panggung saat mendemonstrasikan latihan.

Nguyen Truong merupakan lulusan jurusan biola dari Akademi Musik Hue. Pada 1981, ia meninggalkan kampung halamannya untuk bekerja di Dataran Tinggi Tengah bersama Grup Tari dan Musik Etnis Dak Lak. Ia kemudian mengajar biola di Sekolah Tinggi Kebudayaan dan Seni Dak Lak dan mengabdikan diri selama beberapa dekade untuk pendidikan seni. Setelah pensiun pada 2018, ia memulai perjalanan baru: meneliti, merestorasi, dan menciptakan alat musik tradisional Dataran Tinggi Tengah dengan memanfaatkan bambu dan rotan.

Ketertarikan itu, salah satunya, berangkat dari pengalaman mendengar bunyi alat perkusi bambu (k'kong emo) yang dikalungkan di leher sapi saat mencari makan atau ketika ternak kembali ke desa pada malam hari. Menurutnya, sejak dahulu masyarakat setempat terampil memanfaatkan bambu dan pipa buluh untuk menghasilkan bunyi-bunyian sederhana. Perkembangan berikutnya melahirkan beragam instrumen seperti t'rưng, ding pơng, dingpăh, ching kram, ding tut, ding puốt, gong, hingga xilofon batu. Namun seiring waktu, sebagian alat musik menghadapi risiko hilang karena volume bunyi yang rendah, berkurangnya orang yang mengajarkan, makin sedikit yang bisa memainkan, dan minimnya pembuat alat musik.

Instrumen pertama yang ia buat dari bambu terinspirasi dari lonceng sapi tradisional. Sejak itu, Nguyen Truong menekuni restorasi alat musik rakyat, sekaligus mengadaptasi sejumlah instrumen Barat menggunakan bahan lokal dengan biaya lebih rendah agar lebih mudah dimiliki oleh mereka yang membutuhkan.

Ia menekankan bahwa pembuatan alat musik tidak bisa diukur hanya dengan waktu singkat. Prosesnya menuntut pengalaman dan eksperimen bertahun-tahun, karena penyimpangan ukuran sekecil sepersepuluh milimeter dapat membuat bunyi tidak keluar atau tidak memenuhi standar. Pemilihan bambu juga harus cermat—tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Bambu dikeringkan di tempat teduh hingga hampir kering, lalu direndam air garam selama 20–30 hari, dan diasapi di loteng di atas dapur untuk mencegah serangga serta meningkatkan ketahanan.

Setelah berbulan-bulan memukul, menyeimbangkan, dan menyetel, ia berhasil membuat serangkaian instrumen seperti t'rưng, dingpăh, dan ching ding arap m'ô. Di antara karya yang paling menarik perhatian para ahli adalah viokram, biola dari bambu. Ia menyebut viokram sebagai gabungan kata “biola” dan “kram” yang berarti bambu dalam bahasa Ede. Instrumen itu dikembangkan berdasarkan prinsip alat musik gesek Barat, namun diadaptasi menggunakan bambu lokal. Viokram tetap memiliki empat senar (g, d, a, mi) seperti biola standar.

Nguyen Truong menggambarkan warna bunyinya sebagai “alami dan hangat”, kadang selembut lagu pengantar tidur, kadang dalam dan beresonansi seperti kisah yang dituturkan tetua. Ia juga bereksperimen menggunakan tunggul kayu pohon kopi tua—yang biasanya dibakar petani—untuk membuat biola bernama cofevio, yang menghasilkan nada unik, hangat, dan dalam.

Selain instrumen gesek, ia menciptakan seperangkat 14 gong terpisah milik suku Jarai yang disetel mengikuti tangga nada Dataran Tinggi Tengah. Untuk penyangga, ia memanfaatkan kembali batang pohon kopi kering. Setelah direndam garam untuk mencegah rayap dan pemutihan, rangka gong didirikan menyerupai atap rumah panjang tradisional sehingga menghadirkan nilai estetika sekaligus performatif. Menurutnya, perangkat ini dapat memainkan berbagai genre dan dipadukan secara harmonis dengan instrumen modern maupun instrumen tradisional Vietnam, sesuatu yang dinilainya sulit dilakukan oleh gong tradisional karena volume rendah, ketidakakuratan nada, dan keterbatasan portabilitas.

Karyanya juga dibawa ke ruang publik. Nguyen Truong dan murid-muridnya pernah menampilkan viokram dalam program “Show of Life” pada 2021 yang disiarkan di VTV7. Ia juga memamerkan alat musik bambu dan rotan pada Konferensi Asosiasi Bambu Dunia di Binh Duong (kini bagian dari Kota Ho Chi Minh) pada 2022.

Di luar panggung, ia mendatangi desa-desa terpencil untuk mengajarkan siswa dari kelompok etnis minoritas cara membuat dan memainkan alat musik bambu tradisional. Ia berharap kelak alat musik bambu tradisional dapat menjadi kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dasar dan menengah, agar siswa memahami budaya serta kebanggaan etnis mereka.

Nguyen Truong menilai pencapaian tidak semata soal penghargaan, melainkan penerimaan masyarakat. Ia menyebut musik rakyat amat luas dan pemahamannya hanya “sebutir pasir”, namun ia ingin berkontribusi pada restorasi ilmiah alat musik yang perlahan menghilang, terutama setelah puluhan tahun hidup di tengah komunitas Ede, M'nong, dan Jarai.

Apresiasi juga datang dari kalangan pendidik. Ho Phi Han, guru di Sekolah Asrama Etnis Cu Kuin (Dak Lak) yang murid-muridnya pernah belajar dari Nguyen Truong, menyebutnya sebagai sosok istimewa karena tidak hanya mencipta alat musik dari bambu, alang-alang, akar kopi, dan bahan lain, tetapi juga menanamkan kecintaan pada tanah dan alat musik tradisional kepada generasi muda. Ia menilai para siswa belajar cepat dan banyak yang kemudian mampu memainkan instrumen bambu dan alang-alang untuk menghasilkan bunyi yang mencerminkan esensi Dataran Tinggi Tengah.

Di tengah arus urbanisasi, bunyi biola bambu dan instrumen ciptaan Nguyen Truong terus terdengar dari ruang latihan: kadang lembut, kadang riang, kadang tenang. Pada masa pensiun, ia tetap berkarya—menghidupkan kembali suara-suara yang nyaris hilang sekaligus memperkaya khazanah alat musik tradisional Dataran Tinggi Tengah.