Amerika Serikat (AS) dan Iran dijadwalkan menggelar perundingan lanjutan di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4/2026), di tengah masa gencatan senjata yang baru disepakati kedua pihak. Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya diplomatik untuk meredakan permusuhan yang disebut telah berlangsung sejak 28 Februari.
Kesepakatan gencatan senjata dicapai pada Rabu (8/4/2026) dan disebut berlaku selama dua pekan. Rentang waktu tersebut diproyeksikan menjadi periode negosiasi antara Washington dan Teheran untuk mencari jalan penyelesaian konflik.
Perundingan di Pakistan berlangsung sekitar enam minggu setelah serangan AS dan Israel ke Teheran yang memicu pecahnya perang di Teluk dan menewaskan Ayatollah Ali Khamenei. Pakistan, yang bertetangga dengan India, disebut berperan sebagai mediator dalam tercapainya kesepakatan gencatan senjata dan kini menjadi tuan rumah pertemuan lanjutan.
Menurut rincian yang beredar, pembicaraan akan dimulai Sabtu pagi waktu setempat dan berlangsung di Hotel Serena, yang berada di Zona Merah Islamabad, dekat kantor Kementerian Luar Negeri Pakistan. Zona Merah dikenal sebagai kawasan pusat pemerintahan dan lokasi berbagai kedutaan besar di ibu kota Pakistan.
Agenda perundingan ini dilaporkan berdampak pada aktivitas kota. Hotel Serena disebut mengosongkan tamu, sementara pemerintah Pakistan disebut telah memesan gedung-gedung di lokasi tersebut sejak Rabu malam hingga Minggu (12/4). Otoritas setempat juga menetapkan 9–10 April sebagai hari libur umum di ibu kota federal, dengan pengecualian layanan esensial seperti kepolisian, rumah sakit, dan pusat utilitas.
Keamanan di Islamabad turut diperketat. Zona Merah ditutup bagi pengunjung, dan pintu masuk utama menuju Islamabad disebut ditutup untuk mendukung pengamanan perundingan.
Pemerintah Pakistan menyatakan belum memastikan siapa saja delegasi yang akan dikirim AS dan Iran sampai para utusan benar-benar tiba. Namun, Gedung Putih telah mengonfirmasi susunan delegasi AS: Wakil Presiden JD Vance akan memimpin, didampingi utusan khusus Steve Witkoff serta Jared Kushner, menantu Presiden Donald Trump.
Dari pihak Iran, perwakilan yang dilaporkan akan hadir adalah Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Belum ada kejelasan apakah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) akan ikut dalam delegasi, meski Ghalibaf disebut sebagai mantan komandan IRGC.
Para delegasi diperkirakan akan disambut Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif sebagai tuan rumah, sementara fasilitasi perundingan diperkirakan dilakukan oleh Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Ishaq Dar.
Format pembicaraan disebut akan berlangsung secara tidak langsung. Delegasi AS dan Iran direncanakan berada di ruangan terpisah, sementara pihak Pakistan akan bolak-balik menyampaikan pesan sebagai perantara.
Substansi utama perundingan diperkirakan berpusat pada kesepakatan penghentian perang, dengan salah satu fokus pada apa yang disebut sebagai 10 poin tuntutan Iran. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan pihaknya menerima proposal 10 poin dari Iran dan akan menjadikannya dasar perundingan, tetapi pernyataan itu memunculkan ambiguitas karena narasi publik dari kedua pihak dinilai berbeda.
Iran sebelumnya menjelaskan bahwa 10 poin tersebut mencakup penghentian operasi militer terhadap kelompok bersenjata yang menjadi sekutu mereka, pencabutan sanksi dari Badan Energi Atom Internasional serta Dewan Keamanan PBB, hingga pengendalian lalu lintas Selat Hormuz oleh Iran.
Namun, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan Iran telah merevisi 10 poin itu sehingga “sepenuhnya berbeda serta ringkas” dibanding yang beredar di media. Leavitt tidak merinci isi proposal terbaru tersebut, tetapi menyebut Trump bersedia bernegosiasi berdasarkan versi yang telah diperbarui.
Selain proposal tuntutan Iran, isu Lebanon diperkirakan turut membayangi pembicaraan. Sebelumnya, Perdana Menteri Pakistan menyebut gencatan senjata Iran-AS juga berlaku untuk situasi di Lebanon, tetapi pernyataan itu ditentang oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Pada Rabu, Netanyahu menyatakan Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata dan Israel masih memiliki tujuan militer di negara tersebut. Beberapa jam setelah pernyataan itu, Israel melakukan pemboman besar-besaran di Lebanon.
Militer Israel menyebut pihaknya membom 100 target, termasuk kawasan padat penduduk, dalam kurun 10 menit. Otoritas Lebanon melaporkan sedikitnya 254 orang tewas dan ribuan lainnya terluka akibat serangan tersebut.
Iran memperingatkan dapat keluar dari kesepakatan gencatan senjata jika Lebanon terus diserang Israel. Sementara itu, AS mengakui klaim Israel dan menyatakan Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan.
Sejauh mana Israel akan terlibat secara tidak langsung dalam negosiasi di Islamabad disebut menjadi salah satu isu yang mengiringi agenda perundingan. Mantan duta besar Pakistan untuk Cina, Masood Khalid, menilai konflik di Lebanon berpotensi melemahkan proses negosiasi.
Ia menyatakan pemboman yang berlanjut dapat memicu situasi di mana pihak-pihak terkait semakin memperkeras posisi dan proses negosiasi berisiko digagalkan. Menurutnya, pembicaraan kemungkinan akan rumit dan berlarut, serta dapat melampaui batas waktu 15 hari.