BERITA TERKINI
Musisi Malang Yaqin Rilis Album Perdana ‘Kebiasaan’ Berisi Delapan Lagu

Musisi Malang Yaqin Rilis Album Perdana ‘Kebiasaan’ Berisi Delapan Lagu

Musisi asal Malang, Yaqin, resmi merilis album perdana bertajuk Kebiasaan yang memuat delapan lagu. Album ini mulai tersedia di seluruh platform musik digital pada 12 Juni 2026, sekaligus menandai langkah Yaqin menapaki industri musik Indonesia setelah sebelumnya merilis sejumlah single dan dikenal lewat proyek musik Sorai Seroja.

Dalam Kebiasaan, Yaqin menghadirkan warna retro pop, jazz, hingga city pop. Album ini tidak hanya menjadi kumpulan lagu, tetapi juga memuat kisah personal tentang cinta, kehilangan, perantauan, serta proses pendewasaan yang ia alami.

“Album ini lahir dari segala tingkah laku yang ditulis dan disimpan rapi dalam buku catatan. Hingga pada tahun 2025 buku itu kembali dibuka. Melalui bait, kalimat dan gumaman yang tersimpan, album ini kemudian dibuat dan diwujudkan dengan tangan dingin tim produksi yang ada di baliknya hingga tuntas di pertengahan tahun 2026,” kata Yaqin dalam keterangan tertulis, Kamis (11/6/2026).

Yaqin menyebut album barunya menawarkan ruang musikal yang berbeda dibanding Sorai Seroja. Jika proyek sebelumnya identik dengan suasana sunyi di alam terbuka, Kebiasaan justru menggambarkan perjalanan malam di kota metropolitan—dengan lampu jalan, percakapan yang tak selesai, serta rasa kehilangan yang hadir dalam diam.

“Saya bukan orang yang lihai menulis buku atau puisi yang manis. Semua yang terpendam saya sampaikan lewat gumaman dan lagu yang saya percayai suatu saat akan menjadi catatan hidup,” ujarnya.

Secara garis besar, Kebiasaan digambarkan sebagai memoar musikal tentang perjalanan hidup Yaqin saat memutuskan merantau demi mengejar karier di dunia musik. Album ini memotret kesepian di kota besar, upaya beradaptasi dengan lingkungan baru, hingga benturan nilai dan prinsip hidup yang sempat mengguncang cara pandangnya.

Untuk lagu utama, Yaqin memilih “Purnama”. Lagu bertema kasih tak sampai ini disebut terinspirasi dari nuansa emosional “Bunga Terakhir” karya Bebi Romeo. Ditulis bersama Vickry Kusuma, “Purnama” berangkat dari kisah seorang teman yang menyimpan surat cinta yang tak pernah terkirim.

“Lagu ini merupakan permintaan seorang teman yang ingin kisah patah hatinya, yang hanya tersimpan dalam sepucuk surat tak pernah terkirim, diubah menjadi sebuah lagu. Judul ‘Purnama’ sendiri merupakan nama samaran sosok yang menjadi inspirasi lagu tersebut dan uniknya juga merujuk pada Bebek Purnama,” ungkap Yaqin.

Selain menjadi ruang pengakuan personal, album ini juga disebut sebagai wujud ketertarikan Yaqin pada estetika vintage dan musik pop klasik Indonesia. Ia menyebut pengaruh musisi seperti Rafika Duri, January Christy, hingga Bebi Romeo terasa pada pendekatan melodi, sementara sentuhan generasi baru dari Ardhito Pramono dan Bilal Indrajaya membuatnya terdengar akrab sekaligus segar.

Dalam proses produksi, Yaqin didukung Bayu Aji sebagai road manager, Decky Anugrah sebagai produser, dan Daniel Silalahi sebagai gitaris. Ia menyampaikan apresiasi atas peran ketiganya dalam meramu keseluruhan album.

“Terima kasih harus terucap kepada Bayu sebagai roadman, Decky yang menjadi ‘chef’ dalam meramu dan mengaransemen lagu, serta Daniel Silalahi yang memberikan sentuhan-sentuhan magis melalui gitarnya,” tuturnya.

Setelah perilisan Kebiasaan, Yaqin berencana menggelar showcase pada awal 2027 untuk memperkenalkan materi album kepada publik lebih luas. Dalam waktu dekat, ia juga akan mempersiapkan video musik untuk beberapa lagu di album tersebut.

“Setelah album ini, rencananya saya bakal showcase InsyaAllah di awal tahun 2027. Kalau tur masih belum kepikiran dan yang paling dekat kami akan mempersiapkan video musik untuk beberapa lagu di album Kebiasaan,” katanya.

Melalui album perdananya, Yaqin menegaskan ia tidak berupaya menjadi yang paling modern atau eksperimental. Ia ingin menghadirkan musik yang dapat menemani pendengar yang sedang dilanda kegundahan, kesepian, maupun kelelahan menghadapi kehidupan kota yang bergerak cepat.

“Album ini adalah alternatif bagi mereka yang sedang gundah. Saya ingin Kebiasaan menjadi teman pendamping di perjalanan, menjadi jejak yang bisa dikenang, dan membuktikan bahwa rasa sakit pun bisa disuarakan dengan nada yang santun nan indah,” pungkasnya.