Industri musik Indonesia kembali diramaikan oleh kemunculan talenta dari daerah yang mencuri perhatian warganet. Muh Isnan Dahir, musisi sekaligus produser asal Makassar, Sulawesi Selatan, yang dikenal dengan nama panggung IDRRD, belakangan menjadi perbincangan setelah sejumlah karyanya viral di berbagai platform digital.
IDRRD dinilai berhasil memperkuat eksistensi warna musik khas Indonesia Timur di tengah persaingan industri kreatif nasional yang kian dipengaruhi pergerakan media sosial. Popularitasnya terutama terlihat dari tingginya penggunaan lagu-lagunya sebagai audio latar konten di TikTok dan Instagram.
Sejumlah lagu yang ramai digunakan warganet antara lain “Ade Baju Hitam Bikin Candu”, “Modal Tampan”, “Cinta Tak Dianggap”, dan “Pesona Gadis Sulsel”. Salah satu yang menonjol, “Ade Baju Hitam Bikin Candu”, disebut dipakai sebagai audio latar ratusan ribu konten.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa karya kreator dari daerah memiliki daya tarik kuat di ruang digital. Dengan aransemen khas dan lirik yang dekat dengan keseharian, lagu-lagu ciptaan IDRRD mampu menjangkau pasar nasional tanpa mengandalkan jalur promosi konvensional.
Viralnya karya IDRRD juga menegaskan bagaimana transformasi digital membuka ruang yang lebih demokratis bagi musisi daerah. Tanpa harus berpindah ke pusat industri atau bergantung sepenuhnya pada label besar yang berpusat di ibu kota, ia membangun basis penggemar secara organik dari daerah asalnya.
Selain aktif sebagai pencipta lagu, IDRRD juga dikenal bergerak di balik layar sebagai produser musik dan kreator konten. Untuk memperluas jangkauan, ia melakukan kolaborasi dengan sejumlah nama yang memiliki basis penggemar kuat di ranah musik digital, di antaranya Ecko Show, Ical Majene, dan Valdy Nyonk.
“Kolaborasi menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan warna musik khas Indonesia Timur kepada pasar yang lebih luas sekaligus membuka ruang pertukaran kreativitas antar musisi,” ujar IDRRD kepada awak media saat memaparkan visinya.
Di sisi lain, IDRRD juga menunjukkan kepedulian terhadap regenerasi musisi di Makassar. Ia mendirikan studio rekaman mandiri yang difungsikan sebagai pusat pembinaan dan inkubasi bagi talenta muda. Melalui studio tersebut, para pendatang baru dibimbing untuk memahami proses produksi musik, pematangan karya, hingga strategi membangun personal branding di era digital.