Model hiburan kuliner berupa pertunjukan makan malam kian mendapat tempat di Vietnam, terutama di Kota Ho Chi Minh. Salah satu program yang menonjol adalah Chào Show, yang menggabungkan musik tradisional, visual, dan rangkaian menu set dalam durasi 90 menit.
Hannah Levy, warga negara Inggris, datang bersama temannya setelah mengetahui acara tersebut dari media sosial. Keduanya melakukan perjalanan dari Vietnam Utara ke Kota Ho Chi Minh dan mengaku terkesan dengan keberagaman instrumen yang ditampilkan. Hannah mengatakan musiknya menarik, terutama karena ia melihat alat musik yang belum pernah ia temui sebelumnya. Ia juga menyoroti kemampuan para artis yang dapat memainkan 4–5 alat musik berbeda. Dari sisi kuliner, ia menyebut makanan cukup lezat, dengan nasi ayam sebagai salah satu yang paling berkesan, dan merasa seolah menikmati cita rasa dari berbagai daerah saat pertunjukan berlangsung.
Pertunjukan makan malam mulai muncul di Vietnam pada akhir 2014 dan banyak terkonsentrasi di Kota Ho Chi Minh. Model ini disebut berakar dari tradisi jamuan mewah bangsawan Eropa abad pertengahan yang memadukan santapan dengan hiburan musik. Dalam beberapa tahun terakhir, formatnya berkembang menjadi produk budaya multisensori. Di Saigon, Chào Show diposisikan sebagai program yang menghubungkan budaya Vietnam melalui pengalaman terpadu.
Program ini digelar setiap malam pukul 19.00–20.30, kecuali hari Senin. Harga tiket all-inclusive sekitar 1,3 juta VND per orang. Menurut Tran Minh Hoang, perwakilan program, gagasan pertunjukan berangkat dari keinginan menghadirkan produk wisata malam yang mendalam sekaligus menghormati nilai tradisional. Tim memilih gaya pertunjukan modern agar lebih mudah menjangkau publik, terutama wisatawan internasional. Program tersebut disebut telah digagas lima tahun sebelum peluncuran resminya.
Selain wisatawan mancanegara, pertunjukan ini juga menarik perhatian Generasi Z. Quoc Hung dari Da Nang datang bersama dua temannya khusus untuk menonton di Kota Ho Chi Minh. Ia menyebut kelompoknya penasaran pada alat musik tradisional dan baru pertama kali menyaksikan pertunjukan langsung semacam itu. Hung menilai pengalaman visualnya mengesankan dan menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya Vietnam, seolah melakukan perjalanan melintasi tiga wilayah. Namun, ia juga mencatat beberapa lagu di bagian awal bertempo lambat sehingga berpotensi mengurangi dampak emosional.
Segmen utama pertunjukan adalah rangkaian “Pemandangan Indah” yang menampilkan 30 instrumen berbeda. Auditorium menggunakan teknologi Immersive Audio 20.4 dengan suara surround 3D. Sepanjang pertunjukan, layar LED menampilkan gambar 54 kelompok etnis Vietnam untuk membawa penonton menjelajahi berbagai destinasi.
Saat lampu meredup, pengalaman dimulai dengan teh kacang hitam panggang, anggur aprikot Yen Tu, serta apel liar. Setelah itu, penonton diajak menelusuri perjalanan kuliner tiga wilayah melalui menu set yang terdiri dari lima hidangan pembuka, dua hidangan utama, dan satu set hidangan penutup. Hidangan disajikan di atas nampan bambu sejak awal agar penonton dapat mendengar, melihat, dan mencicipi secara bersamaan.
Pertunjukan dibuka dengan suara dari wilayah pegunungan Utara, menampilkan khen be dan pi pap yang membangkitkan gambaran jalan pegunungan, lembah, serta tanah kuno Thang Long. Untuk menghadirkan nuansa tiap wilayah secara akurat, para seniman disebut berlatih berbulan-bulan. Instrumen yang digunakan dibuat dengan tangan secara autentik dan diangkut ke Kota Ho Chi Minh.
Hidangan pembuka meliputi sup ayam dengan jamur salju dan jamur shiitake, lumpia goreng, ikan dengan adas dan saus tiga rasa, pho gulung dengan daging babi panggang dan jamur, serta daging sapi panggang dalam daun sirih. Untuk hidangan utama, rangkaian cerita kuliner disampaikan lebih jelas melalui nasi ayam Hoi An dan bihun Hanoi dengan daging babi panggang. Menu set dinilai cukup mengenyangkan untuk satu orang, dengan nasi ayam Hoi An—berupa nasi ketan dan ayam yang empuk serta manis—sebagai hidangan andalan. Sejumlah hidangan lain disebut cenderung terlalu asin bagi penonton yang menyukai rasa ringan hingga sedang, meski bumbu dapat disesuaikan agar lebih cocok bagi selera kebanyakan orang.
Di bagian tengah, penonton dibawa ke Vietnam Tengah: dimulai dari suasana lembut menyusuri Sungai Perfume di Hue, lalu bergeser ke irama tarian Cham yang lebih semarak di Khanh Hoa dan Ninh Thuan pada masa lampau. Perpaduan gerak pertunjukan dengan suara kecapi bulan, zither, drum, dan seruling disebut menciptakan efek audio-visual yang kuat.
Penyelenggara juga menyediakan pilihan menu set Halal untuk Muslim serta menu set vegetarian tujuh hidangan. Paket vegetarian mencakup sup sayur, pangsit biji teratai, lumpia vegetarian, pho vegetarian, nasi goreng sayur, jamur tiram panggang, sayuran tumis, dan set makanan penutup. Rasa menu vegetarian disebut cukup enak. Seluruh sajian menggunakan cangkir, mangkuk, dan piring tradisional etnis yang dirancang khusus untuk program tersebut.
Segmen terakhir menggambarkan budaya dan lagu rakyat Delta Mekong serta kemeriahan Kota Ho Chi Minh, sekaligus memperkenalkan landmark ikonik kota. Sepanjang program, para seniman tidak hanya tampil, tetapi juga berperan sebagai pencerita yang menyampaikan nilai budaya dari tiga wilayah Vietnam.
Menu penutup menutup rangkaian santap dengan puding matcha, yogurt ketan ungu, serta kue beras gula aren dari An Giang. Hidangan penutup digambarkan memiliki lapisan rasa, dimulai dari karakter yang kaya dan lembut, diimbangi rasa asam, lalu ditutup manis yang bertahan.
Hingga kini, program tersebut disebut telah menyambut hampir 30.000 pengunjung, dengan komposisi sekitar 40% pengunjung internasional dan 60% warga Vietnam. Penyelenggara berharap nilai warisan seperti musik rakyat dapat menjadi materi penting untuk memperkenalkan pemandangan, budaya, dan masyarakat Vietnam kepada publik internasional.