Hanoi membuka tahun dengan penampilan pianis Eric Lu, pemenang Kompetisi Piano Chopin Internasional, dalam program konser “Spring Aspirations” di Teater Ho Guom. Presiden Asosiasi Musik Klasik Vietnam, Nguyen Van Than, menyebut Eric Lu tetap memprioritaskan kedatangannya ke Vietnam meski memiliki jadwal padat hingga tiga tahun ke depan. Menurutnya, kesediaan seorang seniman kelas dunia menyesuaikan agenda untuk tampil di Vietnam menjadi sinyal meningkatnya daya tarik pasar musik klasik di dalam negeri.
Pertukaran artistik internasional juga berlanjut pada akhir April, ketika konduktor Zahia Ziouani—salah satu tokoh musik klasik Prancis—dijadwalkan tampil bersama Orkestra Simfoni Vietnam di Hanoi serta Orkestra Simfoni dan Gedung Opera Kota Ho Chi Minh (HBSO). Dengan gaya konduksi yang dikenal energik, ia diharapkan membawa pengalaman baru sekaligus memberi inspirasi mengenai peran perempuan dalam dunia konduksi orkestra. Dalam rangkaian kunjungannya, Ziouani juga akan terlibat dalam kelas master bagi seniman muda dan menghadiri sesi temu sapa dengan penonton.
Direktur Akademi Musik Nasional Vietnam, Dr. Do Quoc Hung, menilai meningkatnya popularitas musik klasik sebagai perkembangan yang menggembirakan. Ia menekankan bahwa ketika penonton secara aktif mencari dan membeli tiket konser, hal itu menunjukkan apresiasi musik masyarakat Vietnam yang makin canggih dan beragam.
Menurut Do Quoc Hung, kehadiran program dari seniman internasional bukan hanya menawarkan pengalaman estetika tingkat tinggi, tetapi juga menciptakan “tekanan positif” bagi seniman domestik untuk terus berinovasi dan mendekati standar dunia. Ia menilai hal ini sekaligus membantah anggapan bahwa seni klasik bersifat asing atau tidak terjangkau. Baginya, kunci terletak pada kualitas karya dan pendekatan profesional; bila keduanya terjaga, penonton akan menerimanya.
Perkembangan tersebut turut mencerminkan kematangan ekosistem orkestra di Vietnam. Orkestra Simfoni Vietnam disebut memegang peran inti secara nasional, sementara Orkestra Simfoni Sun menghadirkan dinamika melalui model sosialisasi, dan HBSO menjaga vitalitas artistik di kota-kota besar. Sinergi ini dinilai mendorong persaingan, memperkaya ragam program, dan perlahan membentuk pasar yang lebih profesional.
Musisi Quoc Trung menyoroti bahwa kesempatan penonton domestik menikmati program kelas dunia—termasuk dari orkestra dan institusi seperti London Symphony Orchestra (Inggris), Teatro Massimo Theatre (Italia), Vienna Chamber Orchestra (Austria), Daegu Symphony Orchestra (Korea Selatan), serta rangkaian konser berskala besar—ikut meningkatkan standar apresiasi. Ia menilai publik datang ke teater untuk merasakan kedalaman seni, bukan sekadar memperhatikan bentuknya, sehingga ekspektasi terhadap penyelenggara domestik pun meningkat.
Di sisi lain, munculnya lembaga budaya modern dan pola pikir organisasi yang lebih sistematis turut membantu Vietnam memosisikan diri di peta seni regional. Keterlibatan dunia usaha dalam mensponsori serta mengundang seniman dan teater internasional juga dipandang sebagai sinyal bahwa seni tingkat tinggi mulai ditempatkan dalam kerangka tanggung jawab sosial sekaligus strategi penguatan citra merek.
Momentum baru juga datang dari peluncuran resmi Orkestra Simfoni Angkatan Darat. Direktur orkestra tersebut, Letnan Kolonel sekaligus komposer Do Quoc Bao, mengatakan unit itu dibentuk untuk membangun kekuatan seni klasik yang profesional dan elit, dengan misi “mensimfonisasi” karya-karya revolusioner serta menceritakan sejarah bangsa melalui bahasa musik simfoni.
Dari perspektif profesi, Presiden Asosiasi Musisi Vietnam, Duc Trinh, menilai pembentukan orkestra berskala besar di lingkungan militer—sebagaimana dilakukan di banyak negara—berpotensi meningkatkan profesionalisme dan memperkuat posisi musik Vietnam di panggung internasional.