BERITA TERKINI
Musik Klasik dan Neoklasik Kian Diminati Anak Muda, dari Teman Fokus hingga Ruang Tenang di Era Digital

Musik Klasik dan Neoklasik Kian Diminati Anak Muda, dari Teman Fokus hingga Ruang Tenang di Era Digital

Musik instrumental—termasuk klasik dan neoklasik—kian lekat dengan keseharian generasi yang tumbuh bersama internet. Fenomena ini terlihat dari maraknya daftar putar seperti “Belajar dengan Mozart”, “Fokus Mendalam pada Piano”, dan “Neo-klasik untuk Membaca” di Spotify, hingga menjamurnya konten bertagar #MusikKlasik dan #Classictok di TikTok.

Di TikTok, tagar #Classictok mengumpulkan ratusan juta penayangan, dengan konten yang berputar di sekitar karya Beethoven, Chopin, Tchaikovsky, dan Debussy. Karya yang dulu identik dengan buku teks musik kini hadir dalam format meme, video singkat, maupun cerita tentang kehidupan para komposer. Banyak anak muda mengenal “Sonata Cahaya Bulan” lewat video viral, sementara yang lain mencari karya Chopin setelah menonton film yang memakai musik klasik sebagai latar.

Media sosial, yang kerap dianggap mengganggu konsentrasi, justru ikut meruntuhkan prasangka bahwa musik klasik itu jauh dan tidak terjangkau. Di balik pergeseran ini, tersirat perubahan kebutuhan psikologis dan spiritual anak muda di era digital.

Generasi Z hidup di tengah arus informasi yang padat. Dalam beberapa menit menjelajahi TikTok, pengguna bisa menghadapi puluhan video dengan edit cepat, suara intens, dan limpahan informasi. Pakar media menyebut kondisi ini sebagai “stimulasi berlebihan”, yakni kelebihan rangsangan sensorik. Dalam situasi ketika setiap aplikasi berebut perhatian, kemampuan fokus menjadi keterampilan yang semakin langka.

Karena itu, sebagian anak muda mencari “oase mental” untuk belajar, bekerja, atau sekadar beristirahat tanpa terseret notifikasi dan pesan singkat. Musik klasik dan neoklasik dinilai sesuai untuk kebutuhan tersebut: tanpa lirik yang mengalihkan perhatian, tanpa pola chorus yang “menempel”, dan tanpa hentakan kuat seperti pada EDM. Yang tersisa adalah melodi, ritme, dan emosi. Karya piano dari Ludovico Einaudi, Yiruma, atau Max Richter kerap menjadi teman sesi belajar larut malam, jam kerja di kedai kopi, atau momen yang menuntut konsentrasi tinggi.

Jika sebelumnya musik lo-fi banyak dipakai sebagai pengiring belajar, musik neoklasik kini perlahan menjadi “musik kedai kopi” yang baru. Musik klasik tradisional membantu sebagian pendengar muda menemukan estetika seni akademis, sementara neoklasik berperan sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini. Dibanding simfoni yang dapat berlangsung puluhan menit, neoklasik cenderung lebih minimalis, mudah didengarkan, dan dekat dengan emosi kehidupan modern.

Sejumlah musisi seperti Ludovico Einaudi, Ólafur Arnalds, Nils Frahm, dan Max Richter memadukan piano dan biola dengan teknologi suara kontemporer. Hasilnya adalah karya yang tetap memiliki kedalaman nuansa klasik, namun lebih selaras dengan selera modern—terutama bagi generasi yang menghargai emosi personal tanpa ingin “tertekan” oleh struktur musik yang terlalu kompleks.

Kebangkitan musik klasik dan neoklasik juga dibaca sebagai cerminan kebutuhan akan keseimbangan mental. Jika sebelumnya musik kerap dipakai untuk membangkitkan emosi, kini semakin banyak anak muda menggunakannya untuk menenangkan diri. Popularitas daftar putar seperti “Focus Music”, “Calm Piano”, “Deep Work”, atau “Stress Relief Classical” di layanan streaming memperlihatkan bagaimana musik diposisikan sebagai alat bantu perawatan kesehatan mental.

Musisi Vo Thien Thanh menilai ketertarikan Generasi Z pada musik klasik tidak berarti mereka meninggalkan musik pop atau arus utama. Menurutnya, yang terjadi adalah selera yang makin beragam dan mendalam. “Pergeseran ini menunjukkan bahwa generasi muda saat ini tidak lagi dibatasi oleh batasan genre. Mereka bersedia menjelajahi genre apa pun jika memenuhi kebutuhan emosional dan spiritual mereka. Di era di mana segala sesuatu bergerak lebih cepat, mungkin daya tarik terbesar musik klasik dan neoklasik terletak pada sesuatu yang sangat sederhana: memberi pendengar kesempatan untuk memperlambat tempo, lebih fokus, dan mendengarkan diri mereka sendiri di tengah kebisingan dunia digital,” ujarnya.

Bagi banyak anak muda, musik juga menjadi bagian dari rutinitas perawatan diri, bahkan dianggap seperti “obat penenang ringan” untuk membantu menyeimbangkan emosi di tengah tekanan hidup. Di TikTok, tren “Musik Penurun Kortisol” menyebar dengan jutaan penonton, menampilkan konten tentang musik yang membantu relaksasi, mengurangi stres, dan menghadirkan rasa damai.

Menariknya, bukan hanya lagu internasional yang mendapat tempat dalam tren ini. Beberapa lagu Vietnam juga disebut memperoleh penerimaan lintas negara karena selaras dengan semangat gaya hidup santai dan momen “penyembuhan”. Salah satu contoh yang disorot adalah “Ai đưa em về” (Siapa yang Akan Mengantarmu Pulang), yang digunakan sejumlah kreator konten asing sebagai musik latar untuk video bertema alam, ritme hidup yang pelan, atau suasana menenangkan.

Meski demikian, para musisi mengingatkan agar musik tidak dipahami sebagai solusi tunggal. “Tentu saja, musik tidak dapat menggantikan psikolog, pengobatan, atau perawatan kesehatan mental profesional. Daftar putar lofi tidak dapat mengatasi akar penyebab depresi atau gangguan kecemasan,” kata musisi OnlyC.

Namun, menurutnya, musik tetap bernilai sebagai penopang emosional. Seperti secangkir teh panas yang tidak menyelesaikan semua masalah tetapi bisa membuat seseorang merasa lebih baik, musik dapat membantu mengatur emosi, mengurangi rasa kesepian, dan menyediakan jeda mental yang dibutuhkan. “Masalahnya bukan apakah musik memiliki khasiat ‘penyembuhan ajaib’, tetapi lebih pada kemampuannya untuk membantu orang memulihkan energi emosional untuk sementara waktu,” tegasnya.