Gelombang lagu yang dihasilkan kecerdasan buatan (AI) kian sering terdengar belakangan ini. Sejumlah judul seperti “Okay,” “I Didn’t Know How to Love You,” “Wild Grass and Gardenia,” “Difficult to Keep Sincerity,” “Should We Break Up,” “Winter Beginning,” dan “It’s Still Raining” disebut menjadi bagian dari deretan musik AI yang ramai beredar.
Fenomena ini dinilai belum pernah sekuat sekarang: musik AI tampil menonjol di pasar, bahkan ada cover lagu oleh penyanyi sungguhan yang disebut-sebut “lebih rendah daripada AI.” Sejumlah lagu buatan AI juga dilaporkan telah menduduki puncak tangga lagu digital dan bersaing langsung dengan musisi manusia. Studi di dunia nyata turut menunjukkan tantangan lain: hingga 82% pendengar disebut tidak dapat membedakan melodi yang dihasilkan AI dengan melodi buatan manusia.
Profesor Madya Dr. Nguyen Van Thang Long, Wakil Kepala Departemen Komunikasi Profesional Universitas RMIT Vietnam, menilai tren penyanyi Vietnam yang membawakan musik yang dihasilkan AI saat ini menyerupai uji pasar tahap awal. Menurutnya, fenomena itu berpotensi segera menjadi tren utama di Vietnam karena berbagai alasan, seiring jumlah lagu yang meningkat dan kualitas yang kian tinggi.
Long menyebut gejala serupa telah terjadi di banyak negara Asia. Ia merujuk laporan People’s Daily Online yang menyatakan pasar Tiongkok tahun lalu mencatat tonggak ketika 56,9% lagu independen baru didukung AI. Luminate juga mencatat Tencent Music dan NetEase telah menerapkan alat penulisan lagu cerdas. Dalam konteks ini, banyak penyanyi baru mulai membuat versi cover atau memperoleh hak atas musik yang dihasilkan AI untuk dirilis secara resmi.
Menurut Long, perkembangan tersebut menunjukkan teknologi AI tidak lagi sekadar alat eksperimental, melainkan mulai menjadi tulang punggung proses produksi industri musik. Ia juga menyoroti restrukturisasi di berbagai industri budaya kreatif melalui strategi hibrida: mesin menangani tugas teknis atau analisis data dan menyarankan ide produk awal, sementara manusia menyesuaikannya sesuai orientasi emosional serta kedalaman budaya.
Long menambahkan, meng-cover lagu dari sumber AI menawarkan keuntungan berupa berkurangnya ketergantungan pada musisi, produser musik, atau arranger yang relatif mahal dan membutuhkan waktu produksi. Ia memandangnya sebagai model validasi pasar yang “cerdas”: algoritma dapat menunjukkan daya tarik melodi ketika menjadi viral, sementara penyanyi kemudian menghadirkan ulang emosi dan menanamkan “jiwa manusia” pada lagu yang sudah diterima pasar.
Salah satu contoh yang disebut menonjol ialah versi cover “50 Years Later” karya Tung Duong—lagu Tiongkok dengan lirik Vietnam—yang dibawakan oleh AI dan sempat menjadi sensasi. Namun, di tengah kondisi musik yang semakin mudah diproduksi massal, muncul pertanyaan apakah tren ini akan cepat memudar ketika keunggulan tak lagi bertumpu pada teknik atau kuantitas, melainkan pada kedalaman manusiawi.
Berbicara kepada surat kabar Tuoi Tre, Long mengatakan ia tidak melihat tren ini akan segera hilang, tetapi justru menjadi katalis yang mempercepat polarisasi pasar musik. Ia mengingatkan bahwa ketika teknologi menurunkan hambatan teknis, pasar cenderung dibanjiri musik komoditas yang diproduksi massal, sehingga nilai kreasi dangkal menjadi makin murah.
Risiko ini, menurut Long, nyata terutama untuk segmen utilitas seperti musik latar, musik perpustakaan, atau musik iklan, di mana AI menembus lebih dalam karena kecepatan dan keunggulan biaya. Namun, untuk segmen yang terkait dengan identitas artis, ia menilai AI masih belum menjadi pesaing langsung. Seiring AI berkembang, permintaan terhadap hal-hal yang unik dan sulit ditiru justru dapat meningkat sebagai konsekuensi kelangkaan.
Long mencontohkan Vietnam sebagai pasar musik digital yang masih berkembang tetapi sangat terkait dengan komunitas penggemar dan media sosial. Daya tarik seorang artis, menurutnya, tidak hanya datang dari melodi, melainkan juga perjalanan hidup dan kepribadian musik—sesuatu yang tidak mudah diciptakan ulang oleh algoritma. Karena itu, ia menilai tren artis meng-cover musik AI kemungkinan lebih menjadi strategi mengubah selera konten ketimbang tren kreatif arus utama. Ia menambahkan, tren ini tidak akan benar-benar masuk ke pusat industri musik tanpa kejelasan kerangka hukum hak cipta.
Di sisi hukum, pengacara Hoang Ha dari Asosiasi Pengacara Kota Ho Chi Minh menilai gelombang penyanyi yang membawakan musik AI dapat memicu banyak perselisihan baru. Produk yang dipersoalkan bukan hanya lagu asli, tetapi juga rekaman, penampilan yang dibuat AI, bahkan suara yang meniru artis sungguhan. Perselisihan bisa muncul terkait pihak yang harus dimintai izin, siapa yang harus dibayar, siapa pemegang hak atas produk AI, serta potensi pelanggaran hak suara, identitas digital, atau tindakan yang menyesatkan publik tentang keterlibatan artis.
Ha menilai kesenjangan hukum terbesar adalah belum adanya aturan spesifik di Vietnam untuk menentukan ambang batas kontribusi kreatif manusia dalam karya musik berbantuan AI, serta belum jelasnya batas antara gaya, vokal, dan rekaman tertentu. Ia juga menyoroti belum adanya aturan rinci tentang pelabelan dan transparansi musik AI, sehingga perselisihan dikhawatirkan meningkat lebih cepat daripada laju perkembangan hukum. Menurutnya, tantangan tersulit ke depan adalah mengidentifikasi subjek hak yang tepat, pemilik hak yang benar, dan dasar hukum yang benar untuk mengajukan klaim.
Ha menekankan isu musik AI seharusnya tidak dipandang semata sebagai fenomena teknologi, melainkan titik temu antara hak cipta, hak terkait, data pribadi, hak pribadi, dan tanggung jawab transparansi kepada publik. Ia mendorong adanya pedoman khusus untuk membedakan karya berbantuan AI, rekaman yang dibuat AI, suara yang meniru orang sungguhan, serta kewajiban memberi label. Ia juga menilai perlu ada transparansi data masukan dan prinsip persetujuan yang lebih ketat ketika menggunakan suara artis yang dapat diidentifikasi, karena menyangkut kekayaan intelektual sekaligus data pribadi.
Selain itu, Ha mengusulkan perlunya kriteria kreativitas manusia untuk menentukan siapa yang menjadi penulis saat AI terlibat, mekanisme perizinan dan pembagian keuntungan yang layak, serta peningkatan standar bukti digital agar proses kreatif dan sumber data dapat dibuktikan ketika sengketa terjadi.
Di tengah perdebatan ini, Long menilai tren tersebut memaksa industri musik Vietnam meninjau kembali nilai-nilai intinya. Ia mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada teknologi bukan hanya persoalan teknis, melainkan juga etika profesional dan keberlangsungan kreativitas individu. Jika semakin banyak seniman mengikuti arus, pasar dikhawatirkan dibanjiri musik cepat saji yang mudah dilupakan setelah sekali dengar, sehingga “inflasi musik” dapat menghapus keunikan artis melalui karya-karya individual.
Long juga mengingatkan bahwa tanpa regulasi, tren ini berisiko melegitimasi teknologi sebagai sumber kreativitas yang dianggap sah, dan secara bertahap mengikis peran musisi serta komposer. Sementara itu, lagu-lagu AI seperti “Enough” dengan tema “hidup damai sudah cukup” menunjukkan bagaimana karya semacam ini bisa viral di media sosial.
Di tingkat global, alat pembuat musik otomatis seperti Suno dan Udio disebut memberi dampak besar karena memungkinkan siapa pun membuat lagu lengkap dalam hitungan detik tanpa musisi, penyanyi, atau studio. Platform streaming Prancis, Deezer, melaporkan jumlah lagu AI di platformnya meningkat dari 10.000 lagu per hari pada Januari 2025 menjadi 50.000 per hari pada akhir tahun, lalu mencapai 60.000 per hari pada awal tahun ini—hampir 40% dari unggahan harian. Presentasi penggalangan dana yang diperoleh Billboard menyebut Suno menghasilkan sekitar 7 juta lagu per hari. Forbes melaporkan Suno melampaui 2 juta pelanggan berbayar dan lebih dari 100 juta orang telah menggunakannya untuk membuat musik, meski penentangan di industri meningkat.
Sejumlah laporan juga menyebut pasar musik AI bergerak dari fase percontohan menuju penerapan luas, bernilai ratusan juta dolar dan diproyeksikan meningkat berkali-kali lipat dalam 5–10 tahun ke depan. Perusahaan Riset Bisnis memprediksi pasar musik yang dihasilkan AI tumbuh dari 0,44 miliar dolar AS pada 2025 menjadi 0,57 miliar dolar AS pada 2026, dan mencapai 1,34 miliar dolar AS pada 2030. Amerika Utara diperkirakan menjadi wilayah terbesar pada 2025, sementara Asia-Pasifik diproyeksikan tumbuh paling cepat pada periode berikutnya.
Dalam laporan pemantauan Februari berjudul “Membentuk Kembali Kebijakan untuk Kreativitas,” UNESCO memperingatkan generasi AI berpotensi menyebabkan kerugian pendapatan signifikan bagi seniman pada 2028 dan mengancam mata pencaharian jutaan pekerja budaya. UNESCO menyerukan pemerintah memprioritaskan kebijakan budaya untuk melindungi mata pencaharian seniman, sekaligus memastikan kreativitas tetap mendorong kohesi sosial, peluang ekonomi, dan keragaman budaya di tengah perubahan cepat.
Di tengah laju teknologi dan pertumbuhan pasar, perdebatan mengenai batas kreativitas, identitas artis, serta kepastian hak dan kewajiban menjadi penentu: apakah musik AI akan memperluas ruang kreasi secara sehat, atau justru memicu banjir konten dan sengketa yang melampaui kesiapan regulasi.