BERITA TERKINI
Musik Berbasis AI Kian Marak di Restoran hingga Taksi, Pendengar Mencari “Pereda Nyeri” Emosional

Musik Berbasis AI Kian Marak di Restoran hingga Taksi, Pendengar Mencari “Pereda Nyeri” Emosional

Musik yang digubah dan dinyanyikan dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) kian mudah ditemui, tidak hanya di platform digital, tetapi juga merambah ruang-ruang keseharian seperti kafe, restoran, hingga taksi. Fenomena ini menandai perubahan dalam cara publik menemukan, mengonsumsi, dan memaknai musik.

Beberapa tahun lalu, musik AI masih terasa asing bagi banyak pendengar. Bahkan ketika lagu hit “AI Says a Lifetime for You” viral di media sosial sekitar Oktober 2025, sebagian orang menilai kemunculannya hanya tren sesaat. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan sebaliknya: musik AI terus bertambah dan semakin akrab di telinga masyarakat.

Ledakan musik AI tampak dari banyaknya lagu yang meraih jutaan penayangan serta menjadi tren di TikTok, Reels, dan platform video pendek lain. Salah satu contoh yang menonjol adalah lagu “50 Years Later”. Dengan melodi lembut dan lirik bernuansa nostalgia, versi AI lagu ini—terutama bagian chorus “Aku berdoa agar 50 tahun dari sekarang / Kita akan selalu bersama”—menjadi viral. Di YouTube, lagu tersebut telah didengarkan sekitar 14 juta kali dan dipakai sebagai musik latar ribuan video pendek.

Fenomena serupa juga terlihat di TikTok, ketika sejumlah lagu yang dibawakan AI bersamaan masuk daftar tren, di antaranya “My Wedding”, “I Didn’t Know How to Love You”, “Hard to Keep Sincerity”, dan “Should We Break Up?”.

Pengamatan media Dan Tri menyebut audiens musik AI tidak terbatas pada anak muda, tetapi meluas hingga pendengar usia menengah. Genre ini juga menjadi pilihan banyak pengemudi taksi. Dari bolero versi AI hingga balada berbahasa Vietnam yang terinspirasi musik Tiongkok, lagu seperti “Mengapa Kau Meninggalkanku?”, “Awal Musim Dingin”, “Hujan Masih Turun”, serta “Rumput Liar dan Bunga Gardenia” disebut kerap diputar di dalam taksi.

Salah satu pengemudi, Tran Manh Cuong (lahir 1969), mengaku belakangan daftar putar favoritnya di YouTube banyak berasal dari kanal musik AI seperti TRO Music, meChillMusic, dan Cham Music Box. Ia mengatakan pekerjaannya menuntut waktu mengemudi 10–12 jam per hari sehingga tidak sempat mencari lagu atau sering mengganti pilihan musik. Menurutnya, daftar putar bolero dan balada yang dihasilkan AI terasa lembut dan mudah didengarkan.

“Penumpangnya beragam, mulai dari muda hingga tua, jadi saya memilih musik yang menciptakan suasana nyaman dan menyenangkan bagi semua orang. Saya tidak peduli lagi siapa yang menyanyi, asalkan musiknya bagus, enak didengar, dan membuat perjalanan nyaman bagi saya dan para penumpang,” kata Cuong.

Do Quang Chi, pakar media dan produser konten hiburan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun, menilai musik AI bukan lagi sekadar tren, melainkan tanda restrukturisasi industri musik. Ia melihat pergeseran perilaku publik: dari mendengarkan penyanyi tampil menjadi “mendengarkan keadaan emosional”. Perubahan ini, menurutnya, berpengaruh pada proses penciptaan, distribusi, dan konsumsi musik.

Chi juga menyoroti perbedaan mendasar antara ledakan musik AI dan tren musik sebelumnya. Jika pada era indie, R&B, atau EDM manusia tetap menjadi pusat penciptaan, kini alat AI membuat jarak antara “pencipta” dan “pendengar” makin tipis. Seseorang tanpa latar teori musik, pelatihan vokal, atau kemampuan aransemen tetap dapat menghasilkan karya yang berpeluang menyebar luas.

Dari sisi produksi, musik AI dinilai unggul karena dapat dibuat cepat, berbiaya rendah, dan tidak bergantung pada tim serta jadwal artis. Selain itu, Chi menyebut AI memiliki kemampuan untuk mengoptimalkan melodi berdasarkan perilaku pendengar. “Manusia menciptakan berdasarkan naluri artistik, sementara AI mengoptimalkan berdasarkan logika fundamental,” ujarnya, seraya menilai AI memahami progresi akord dan ritme yang membuat pendengar bertahan lebih lama.

Chi menambahkan, dari perspektif psikologis, kesetiaan pendengar bergeser: bukan lagi pada satu suara atau nama artis tertentu, melainkan pada perasaan yang dihadirkan musik. Hal ini terlihat dari daftar putar AI yang banyak dibangun di atas emosi lembut, melankolis, dan bernuansa penyembuhan, alih-alih menonjolkan identitas penyanyi. Musik pun bergerak dari sekadar hiburan menjadi konsumsi emosional.

Ia juga mengaitkan tren ini dengan kondisi sosio-psikologis masyarakat modern. Menurutnya, ledakan musik AI mencerminkan realitas bahwa manusia masa kini lebih kesepian dan lebih lelah, sehingga membutuhkan “pereda nyeri instan”. Dalam pandangannya, musik AI dapat berfungsi sebagai “kebisingan putih emosional” untuk mengisi kekosongan dan menjadi bentuk penghiburan dengan “biaya emosional terendah”.

Di kolom komentar video musik AI, sejumlah pendengar menyampaikan pengalaman emosional serupa. Pada lagu “50 Years Later”, misalnya, sebagian penonton menilai lagu itu menyentuh dan membangkitkan kenangan bersama pasangan atau mimpi tentang pernikahan dan cinta yang bertahan lama. Lagu seperti “My Wedding” dan “The Wrong Name on the Wedding Invitation” juga memantik komentar tentang cinta, perpisahan, serta pasang surut kehidupan pribadi.

Namun, meluasnya musik AI turut memunculkan perdebatan. Sebagian pihak menganggap vokal yang terdengar sempurna dan nada yang akurat menetapkan standar baru kualitas teknis. Di sisi lain, ada yang menilai “kesempurnaan” itu justru mengurangi kedalaman emosi dan keaslian. Ada pula pendengar yang menilai akses yang terlalu mudah—cukup beberapa klik untuk menemukan ratusan lagu sesuai selera—membuat pengalaman mendengarkan menjadi rata dan seragam, sehingga koneksi personal dengan lagu tertentu menjadi lebih jarang.

Di tengah perbandingan antara musik AI dan musik yang dibawakan penyanyi, penyanyi Tung Duong dalam unggahan pada 1 April menyatakan AI dan manusia adalah dua entitas berbeda. Menurutnya, musik AI bisa terdengar sempurna, bersih, dan akurat, tetapi musik tidak pernah sekadar urusan matematika. Ia menekankan bahwa suara manusia yang autentik bisa bergetar dan tidak sempurna, namun justru ketidaksempurnaan itulah yang memberi ruang bagi emosi.

Duong menilai lagu buatan manusia mungkin tidak 100% akurat, tetapi bisa mencerminkan kehidupan nyata—kenangan, rasa sakit, kegembiraan, dan kesedihan. Sementara AI, meski disaring dari jutaan titik data, tetap merupakan simulasi emosi, bukan pengalaman yang benar-benar dialami. Ia memperingatkan, bila suatu saat pendengar hanya memilih sesuatu yang “tepat” secara teknis, yang hilang bukan hanya beberapa penyanyi, melainkan kemampuan orang untuk tergerak oleh musik; pada titik itu, musik berisiko menjadi sekadar produk.

Do Quang Chi berpendapat musik yang dibawakan penyanyi tetap memiliki nilai yang kuat. Ia menilai seni tidak lahir dari kesempurnaan, melainkan dari “celah” yang sangat manusiawi—pengalaman hidup, ketidakpastian, dan emosi nyata yang muncul dalam nyanyian. Menurutnya, AI bisa mendominasi jumlah pendengar, tetapi tidak menciptakan ekonomi penggemar. Pendengar mungkin bersedia membayar untuk daftar putar AI, namun loyalitas yang mendorong orang mengeluarkan banyak uang untuk menonton idola di panggung dinilai lahir dari ketulusan dan hubungan manusiawi.

Karena itu, Chi menilai AI tidak akan menggantikan seniman sepenuhnya, tetapi akan menggantikan hal-hal yang dapat digantikan. Dalam lanskap musik yang semakin mudah diproduksi massal, keunggulan tidak lagi semata pada teknik atau hasil produksi, melainkan pada kedalaman manusia. Ia menilai penyanyi perlu kembali menonjolkan sisi manusiawi: hidup lebih otentik, berani berbagi pergumulan batin, dan memperkuat pengalaman langsung di panggung—interaksi, kontak mata, dan momen emosional yang tidak dapat ditiru mesin.

Ke depan, Chi memperkirakan dalam lima tahun AI akan menjadi bagian alami dari proses penciptaan artistik. Namun, menurutnya, masa depan bukan milik mereka yang menolak AI sepenuhnya atau bergantung total padanya, melainkan mereka yang mampu memanfaatkan teknologi untuk mengurangi beban kerja sambil menjaga inti kemanusiaan dalam musik. “Teknologi dapat menciptakan suara yang didengar oleh jutaan orang. Tetapi hanya manusia yang dapat menciptakan kenangan yang tak tergantikan,” ujarnya.