Ascott Waterplace Surabaya menggelar program Ascott Soiree pada 7 Juni 2026 dalam rangka menyambut Hari Musik Sedunia. Program ini dirancang sebagai ruang bagi seniman, pengrajin, dan pelaku budaya untuk memperkenalkan karya sekaligus upaya pelestarian kekayaan budaya Indonesia.
Penyelenggaraan kali ini menjadi edisi kedua setelah kegiatan Tropical Flower Workshop pada Maret lalu. Mengusung tema The Symphony of Afternoon Tea, acara menghadirkan pengalaman afternoon tea dengan sajian teh artisan asal Bali yang dipadukan dengan pertunjukan musik klasik.
Dalam sambutannya, perwakilan Ascott Waterplace Surabaya, Ana Maharti, menyebut Ascott Soiree telah memasuki tahun ketiga pelaksanaan. Ia menekankan bahwa kegiatan tersebut tidak semata berfokus pada seni dan budaya, tetapi juga bertujuan mendekatkan audiens dengan seniman, budayawan, serta komunitas agar upaya pelestarian seni, budaya, dan kerajinan dapat berjalan seiring dengan terbangunnya koneksi antarmanusia.
Acara yang berlangsung di Residents Lounge dari sore hingga menjelang senja itu dihadiri belasan tamu domestik serta ekspatriat dari China, India, dan Jepang. Dalam pelaksanaannya, Ascott Waterplace Surabaya berkolaborasi dengan Brew Me Tea, produsen teh artisan ramah lingkungan asal Bali.
Selain menikmati pertunjukan musik klasik dan sesi tea pairing, para tamu mengikuti Tea Sensory Journey untuk mengenal karakter serta cerita di balik teh yang ditanam di Bali. Peserta menerima segelas teh dalam double wall glass beserta daun teh kering untuk diamati, lalu diajak mengeksplorasi aroma, rasa, karakteristik, hingga proses produksi tiap jenis teh.
Empat varian teh diperkenalkan, yakni White Peony Tea dan Organic Balinese Oolong sebagai kategori single origin, serta Apple Pie Tea dan La Vie en Rose sebagai kategori blend. Marketing Brew Me Tea, Novita Nurul Hayah, menjelaskan teh Bali memiliki karakter berbeda dibandingkan teh dari daerah lain di Indonesia, terutama dari sisi aroma dan cita rasa yang cenderung lebih manis.
Menurut Novita, teh yang ditanam di Bali memiliki rasa yang bersih dan bertekstur halus, dengan sentuhan fruity dan floral serta aftertaste manis yang bertahan. Ia menyebut karakter tersebut dipengaruhi tanah vulkanik Bali yang kaya mineral mikro sehingga membantu tanaman teh menghasilkan senyawa asam amino, seperti L-theanine, dalam jumlah lebih tinggi. Senyawa ini berkontribusi pada rasa manis alami dan umami yang lebih kuat saat teh diseduh.
Ia juga menyampaikan sebagian besar kebun teh di Bali berada di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut dengan suhu sejuk dan kondisi berkabut. Faktor ini memperlambat fotosintesis sehingga kadar katekin—senyawa yang memunculkan rasa pahit dan sepat—cenderung lebih rendah.
Dalam sesi tea pairing, setiap jenis teh dipadukan dengan kudapan yang memadukan cita rasa Indonesia dan Barat. White Peony Tea yang beraroma floral dan manis lembut dipasangkan dengan Creamy Sus Galantine. Organic Balinese Oolong Tea dengan karakter nutty, sedikit smoky, dan manis yang muncul perlahan dipadukan dengan Kroket Ayam Jamur.
Apple Pie Tea yang menghadirkan aroma apel dan bunga dipadukan dengan Pie Buah, sedangkan La Vie en Rose Tea dengan sentuhan mawar dan vanila dipasangkan dengan Raspberry Strawberry Macaron. Selama acara, para tamu menunjukkan antusiasme terhadap varian teh yang disajikan, dengan preferensi yang beragam—mulai dari karakter kuat Organic Balinese Oolong hingga aroma floral La Vie en Rose dan kesegaran Apple Pie Tea.
Seorang ekspatriat asal China, Mrs. Candice, menyebut La Vie en Rose sebagai pengalaman yang paling berkesan. “Saya suka dengan La Vie en Rose, terasa mewah dan menawan, baunya juga harum mawar, saya kebetulan suka mawar, jadi ini cocok dengan saya,” ujarnya.
Sementara itu, Organic Balinese Oolong Tea yang dipadukan dengan Kroket Ayam Jamur menjadi favorit bagi sejumlah tamu pria. Salah satunya, Mr. Shane Singh asal India, mengatakan, “Saya paling suka dengan Balinese Oolong, itu terasa smooky dan klasik, terasa fresh, itu membuat saya tidak bosan karena paduannya balance, manis, nutty, smooky sedikit pahit, pas menurut saya.”
Acara ditutup dengan penampilan lebih dari 12 karya musik klasik yang dibawakan oleh Lala Lili Musician. Repertoar yang dimainkan antara lain Salut d'Amour, Cinema Paradiso, Serenade to Spring, Always with Me, Dvořák Romantic Pieces Op. 75 No. 1, serta Lelo Ledung, lagu pengantar tidur tradisional dari Jawa Tengah.
Melalui Ascott Soiree, Ascott Waterplace Surabaya menyatakan harapannya untuk terus menghadirkan pengalaman yang mempertemukan budaya, seni, musik, dan komunitas dalam suasana yang hangat dan bermakna.