BERITA TERKINI
Mengenang Lê Dung, suara soprano yang disebut “harta karun” musik vokal Vietnam

Mengenang Lê Dung, suara soprano yang disebut “harta karun” musik vokal Vietnam

Dalam sejarah musik vokal Vietnam, Seniman Rakyat Lê Dung dikenang sebagai salah satu suara paling menonjol. Ia memiliki soprano yang langka dan kerap dipandang sebagai ikon musik klasik Vietnam, tidak hanya di kalangan profesional musik, tetapi juga di mata masyarakat luas.

Karakter suaranya digambarkan cerah, beresonansi, dan kuat, namun tetap lembut serta halus. Perpaduan teknik vokal yang matang dan emosi yang kuat membuatnya mampu membawakan beragam genre, mulai dari opera dan semi-klasik hingga musik pra-perang dan lagu-lagu revolusioner. Sejumlah karya yang sering dikaitkan dengan penampilannya antara lain “Người Hà Nội” (Rakyat Hanoi), “Trường ca sông Lô” (Epik Sungai Lô), dan “Xa khơi” (Jauh dari Pantai), yang disebut meninggalkan jejak sebagai kenangan berharga bagi generasi berikutnya.

Sejumlah ahli menilai Lê Dung termasuk sedikit seniman Vietnam yang mendekati standar internasional dalam musik vokal klasik. Karena itu, ada pula pandangan bahwa jika istilah “diva” digunakan dalam makna sebenarnya, Lê Dung merupakan salah satu nama yang paling layak menyandangnya di Vietnam.

Perjalanan artistiknya juga dicirikan oleh pencarian dan pembaruan diri yang berkelanjutan. Dengan jiwa artistik yang bebas, ia pernah merambah musik ringan dan membawakan komposisi dari sejumlah komponis besar seperti Văn Cao, Phạm Duy, Phú Quang, dan Dương Thụ. Periode tersebut disebut membantunya memperluas jangkauan emosional, memperkaya pemikiran musikal, serta menyempurnakan pendekatan interpretasi yang lebih halus dan fleksibel.

Meski telah dikenal luas, Lê Dung sempat menunda kariernya untuk melanjutkan studi pascasarjana pertunjukan vokal di Konservatorium Tchaikovsky, Rusia. Di sana, ia mengakses khazanah musik klasik Barat, belajar dari penyanyi-penyanyi ternama, dan dibimbing pengajar berpengalaman. Bekal akademis itu disebut berperan dalam mematangkan teknik dan meningkatkan kemampuan bernyanyinya ke tingkat yang lebih tinggi.

Namun, yang kerap dianggap membedakannya bukan semata kemampuan opera, melainkan kemampuannya memadukan teknik klasik ke dalam lagu-lagu Vietnam yang sudah dikenal publik. Melalui pendekatan itu, lagu-lagu revolusioner dan musik rakyat yang dekat dengan masyarakat disebut memperoleh tampilan baru.

Salah satu contoh yang kerap disorot adalah lagu Nguyễn Văn Tý “Ibu Mencintai Anaknya”. Karya yang pada dasarnya liris dan manis itu, melalui suara Lê Dung, disebut terangkat menjadi lebih epik, dalam, dan agung. Ia dinilai cermat mengolah tiap kata, memadukan teknik vokal musik kamar dengan pelafalan yang terinspirasi dari musik rakyat, sehingga menghasilkan nuansa lembut, intim, namun tetap elegan.

Hal serupa juga disebut tampak pada “Lagu Harapan” (Song of Hope). Tanpa menonjolkan klimaks dramatis, penampilannya dinilai mengandalkan kemurnian, keringanan, dan emosi yang terkendali, yang membuat lagu tersebut menyentuh banyak pendengar dan menjadi simbol keyakinan serta aspirasi pada masanya.

Dengan teknik yang kuat dan kedalaman emosi, Lê Dung disebut ikut meletakkan dasar bagi perkembangan musik kamar di Vietnam. Hingga kini, rekaman-rekamannya masih didengarkan, dan publik disebut masih dapat merasakan kualitas suara yang dianggap abadi, halus, serta kaya emosi—warisan yang oleh sebagian pihak disebut sebagai “harta karun” musik vokal Vietnam.