BERITA TERKINI
Mengenal Wota JKT48: Chant, Identitas, dan Alasan Fans Tetap Bertahan

Mengenal Wota JKT48: Chant, Identitas, dan Alasan Fans Tetap Bertahan

JKT48 kerap disebut sebagai anomali di industri musik Indonesia. Idol group ini memiliki 210 member yang tersebar dalam 11 generasi, serta mengelola teater pribadi di Mal fX Sudirman. Di balik skala yang tidak lazim itu, ada basis penggemar fanatik yang sering dicap sebagai wota—kelompok yang menjadi penopang utama keberlangsungan aktivitas JKT48.

Wota dan atmosfer pertunjukan

Di sekitar pertunjukan, wota kerap terlihat membawa light stick. Mereka biasanya tampak pendiam sebelum acara dimulai. Namun suasana berubah saat JKT48 naik panggung dan musik diputar. Teriakan chant mix pun menggema, menjadi bentuk dukungan langsung kepada para member yang tampil dengan seragam dan koreografi khas.

Sejumlah seruan yang biasa terdengar antara lain:

  • Aaa…Yossha-ikuzo (あ~ よっしゃいくぞ~ / Alright let’s go~)
  • Taigaa (タイガー / Tiger)
  • Faiyaa (ファイヤー / Fire)
  • Saibaa (サイバー / Cyber)
  • Faibaa (ファイバー / Fiber)
  • Daibaa (ダイバー / Diver)
  • Baibaa (バイバー / Viber)
  • Jyaa Jyaa (ジャージャー)

Istilah “wota” dan kaitannya dengan otaku

Peneliti Budaya Populer BRIN, Ranny Rastati, menilai istilah wota yang melekat pada penggemar JKT48 sebenarnya tidak sepenuhnya tepat bila dipahami terlalu sempit. Menurutnya, wota merujuk pada penggemar idol group secara umum, bukan hanya terbatas pada keluarga “48” atau JKT48 saja.

Ranny menjelaskan, istilah wota berkaitan dengan otaku—yang dulu berarti penggemar budaya pop Jepang, tetapi kini maknanya menyempit menjadi orang-orang yang menyukai manga atau komik. Ketika idol group berkembang, sebagian penggemar merasa istilah otaku tidak lagi cocok untuk mendefinisikan diri. Dari situ, kata Ranny, muncul istilah wota yang berasal dari kata wotaku (serupa dengan otaku) dan kemudian disingkat.

Profil fans menurut survei

Survei yang dirilis Mamen.id pada 22 Oktober 2020 menggambarkan latar belakang penggemar JKT48. Mayoritas pekerjaan utama responden adalah mahasiswa (41,3%), disusul pegawai swasta (23,6%) dan pelajar (14%). Ada pula responden dari kalangan PNS hingga ibu rumah tangga.

Mamen.id disebut sebagai media bagi penggemar JKT48 untuk mengaktualisasikan diri. Situs ini lahir dari gagasan Shania Gracia (member JKT48 generasi ketiga). Survei tersebut melibatkan 1.000 responden dari sejumlah wilayah, mulai Jabodetabek, Bandung, hingga Makassar. Kuesioner disebarkan secara online ke komunitas-komunitas penggemar sejak 31 Agustus 2020 sampai 13 September 2020.

Dalam survei itu, 78,1% responden adalah laki-laki, sementara 21,9% perempuan.

Mengapa fans bertahan, termasuk yang berusia dewasa

Ranny menyebut ada sejumlah alasan yang membuat wota bertahan, termasuk penggemar militan yang usianya sudah kepala tiga ke atas dan rutin hadir di konser maupun Theater JKT48. Di teater yang berada di lantai empat Mal fX Sudirman, sebagian penggemar laki-laki terlihat datang dengan penampilan rapi—mulai dari kemeja, batik, hingga pantofel—dan menyisihkan waktu sepulang kerja untuk menonton pertunjukan yang biasanya dimulai pukul 19.00 WIB.

Menurut Ranny, ada tiga faktor utama:

  • Visual member yang dinilai cantik, imut, dan menggemaskan.
  • Sistem pergantian member (graduation) yang membuat grup terasa “fresh” dan tidak membosankan.
  • Kebutuhan biaya untuk mengikuti aktivitas fandom secara rutin.

Ranny juga menilai selera ini berkaitan dengan pengalaman masa kecil sebagian penggemar yang banyak menonton dan mendengarkan OST anime, sehingga terbentuk preferensi pada musik bernuansa Jepang dengan karakter suara kawai atau imut.

Makna seragam dan salah tafsir yang muncul

Ranny menambahkan, kesan kawai juga diperkuat oleh penggunaan seragam sekolah yang identik dengan JKT48. Ia menjelaskan seragam lazim ditemukan dalam anime dan manga. Menurutnya, seragam sekolah (seifuku) mulai dipakai di Jepang pada awal 1800-an sebagai bagian dari modernisasi, lalu pada 1920-an berkembang penggunaan seragam kerah sailor yang dikaitkan dengan gagasan kesetaraan gender. Dalam budaya populer, seragam kemudian dipakai untuk menampilkan sisi yang familiar dari kehidupan sehari-hari di Jepang.

Ranny menyebut seragam menyimbolkan masa muda, disiplin, dan persatuan kelompok. Karena itu, idol group seperti AKB48 dan JKT48 masih mempertahankan seragam sebagai simbol identitas anak muda sekaligus persatuan.

Namun, konsep seragam ini juga kerap disalahartikan. Salah satu penggemar JKT48, Dhimas Ginanjar, mengatakan ada orang yang mengaitkan JKT48 dengan hal negatif seperti lolita complex hingga pedofilia. Ia menilai, orang di luar fandom kerap melihat JKT48 melalui perilaku penggemarnya. Karena itu, Dhimas memilih menunjukkan hal-hal positif agar publik mengetahui tidak semua penggemar seperti stigma yang beredar.

Dhimas, penggemar berusia 37 tahun yang menulis buku

Dhimas kini berusia 37 tahun dan memiliki dua anak. Ia mengenal idol group Jepang sejak kuliah pada 2005. Ketika JKT48 muncul di Indonesia pada 11 September 2011, ketertarikannya berlanjut. Ia kemudian menulis buku Laptime JKT48: Lima Tahun Penuh Cerita pada 2017, yang memotret perjalanan JKT48 saat berusia lima tahun.

Dhimas menyebut dirinya merasa memiliki tanggung jawab sebagai penggemar untuk ikut mempopulerkan JKT48. Menurutnya, karena grup itu memberi kesenangan, ia merasa perlu turut menjaga eksistensinya.

Soal introvert dan pencarian identitas

Dalam buku Fandom Unbound: Otaku Culture in a Connected World (2012), disebutkan bahwa orang-orang yang menyukai budaya pop Jepang cenderung introvert, menarik diri secara sosial, dan lebih nyaman berkomunikasi melalui internet.

Sosiolog Universitas Udayana, Wahyu Budi Nugroho, menilai budaya pop Jepang tidak serta-merta membuat penggemar idol group atau anime menarik diri dari dunia sosial. Menurutnya, kecenderungan “autisme sosial” justru berkaitan dengan perkembangan media sosial yang masif. Ia juga melihat sebagian anak muda menggunakan budaya luar untuk mengartikulasikan karakter diri ketika merasa tidak memiliki kultur yang pas untuk mengekspresikannya.

Wahyu memberi contoh fenomena lain, seperti booming kaos Osama bin Laden pada 2000-an yang menurutnya dapat menjadi simbol ketidaksetujuan publik Indonesia terhadap Amerika. Dalam konteks budaya Jepang, ia menilai ada unsur yang dianggap sesuai dengan kepentingan anak muda di Indonesia.

Meski demikian, Wahyu menegaskan tidak ada orang yang benar-benar sendirian di masyarakat. Yang ada, menurutnya, individu yang belum bertemu dengan orang lain yang memiliki kesamaan minat. Itu pula yang menjelaskan mengapa penggemar yang tampak pendiam dapat berubah sangat bersemangat ketika oshi-nya tampil di panggung.

Wahyu juga menyoroti banyaknya orang dewasa yang menyukai JKT48. Ia menilai hal itu sebagai upaya meminjam simbol semangat dan gairah hidup untuk melengkapi sesuatu yang dirasa kurang, sekaligus membangun “identitas naratif” agar hidup terasa lebih masuk akal bagi diri mereka—sebuah dorongan menuju keterpenuhan.