BERITA TERKINI
Mengapa Musik Pop Indonesia Timur Cepat Viral di Media Sosial

Mengapa Musik Pop Indonesia Timur Cepat Viral di Media Sosial

Musik pop khas Indonesia Timur belakangan kian sering muncul di linimasa media sosial dan menarik perhatian pendengar di berbagai daerah. Sejumlah lagu dari kawasan tersebut bahkan mencatatkan capaian penonton yang besar di platform digital, menandai meluasnya penerimaan publik terhadap warna musik yang sebelumnya lebih identik dengan ruang-ruang lokal seperti pesta dan hajatan.

Data yang dikutip dari katadata.co.id menyebutkan, per 3 Maret 2026 lagu “Tabola-Bale” meraih 467 juta kali ditonton di YouTube. Capaian itu diikuti “Stecu Stecu” dengan 202 juta, “Orang Baru Lebe Gacor” 164 juta, dan “Ngapain Repot” 124 juta. Angka tersebut memperlihatkan besarnya animo terhadap musik pop Indonesia Timur dalam skala nasional.

Etnomusikolog Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Aris Setiawan, menilai formula musik Indonesia Timur yang ramai di algoritma media sosial pada dasarnya tidak banyak berubah dibanding periode sebelumnya. Ia mencontohkan popularitas “Poco-Poco” pada awal 2000-an hingga “Gemu Fa Mi Re” beberapa tahun lalu. Menurut Aris, yang berubah terutama bukan bentuk musiknya, melainkan ruang peredarannya. “Yang berubah bukanlah musiknya, tetapi ruang edarnya,” ujarnya kepada media (9/2).

Dari sisi musikal, salah satu ciri yang menonjol adalah kepadatan ritme. Musik Indonesia Timur relatif “berbunyi” di sela ketukan kuat, baik lewat gitar, kibor, maupun perkusi tambahan, sehingga kesannya lebih cepat. Dalam konteks birama 4/4 yang umum dipakai musik pop, bunyi di sela ketukan kuat ini membuat nyaris tidak ada jeda atau “ruang kosong” di antara ketukan utama.

Pola bunyi yang mengisi ruang kosong itu muncul berulang sepanjang lagu dan dikenal sebagai looping beat. Sirkulasi akor yang berulang—karakter yang juga lazim pada musik pop—dimanfaatkan untuk menopang aspek ritmis tersebut. Akibatnya, fokus musik lebih menonjol pada pola ritme ketimbang eksplorasi melodi dan harmoni, sehingga nuansa perkusif dan ritmis terdengar padat.

Selain ritme instrumen, Aris juga menyoroti karakter vokal yang dinilai selaras dengan pola konsumsi konten di platform seperti TikTok. Ia berpendapat perbedaan vokalisasi dapat ditelusuri dari konstruksi kebahasaan serta budaya tutur atau logat daerah asal. Dalam musik yang berakar pada kebudayaan Jawa, seperti karawitan hingga campursari, gaya vokal cenderung mendayu dan melismatis—dalam satu kata bisa memuat beberapa nada.

Di banyak musik Indonesia Timur, setiap kata cenderung memiliki nada berbeda, menciptakan kesan ritmis yang lebih bergerak. Secara kuantitatif, perubahan ritme vokal pada lagu “Pamer Bojo” dan “Renungkanlah” disebut terjadi rata-rata 1,04 kali per detik dengan interval sekitar 0,96 detik. Sementara pada “Tabola-Bale” dan “Orang Baru Lebe Gacor”, perubahan ritme vokal mencapai rata-rata 2,08 kali per detik dengan interval sekitar 0,48 detik. Artinya, perubahan ritme vokal pada dua lagu tersebut hampir dua kali lebih sering dibanding pembandingnya.

Gaya vokal ini juga disebut tidak lepas dari pengaruh rap yang menekankan kecepatan dan permainan rima. Skema rap dilaporkan berkembang di wilayah NTT, Maluku, dan Papua. Dalam lagu “Orang Baru Lebe Gacor”, rapper asal Gorontalo Ecko Show diketahui terlibat kolaborasi dan disebut mendapat penghargaan sebagai Penyanyi Solo Rap/Hip Hop Terbaik.

Aris melihat ada kesinambungan antara karakter musikal khas Timur dengan kultur TikTok yang berfokus pada video pendek—sering berdurasi kurang dari 60 detik—dan mendorong konsumsi cepat. Pengguna tidak hanya menonton, tetapi juga memproduksi ulang: melihat video joget, lalu membuat versi pribadi dengan lagu yang sama. Dalam konteks ini, “Tabola-Bale” beredar dalam berbagai versi, mulai dari orisinal, potongan pendek, hingga remix yang dimodifikasi. Versi yang banyak digunakan justru berdurasi kurang dari satu menit atau digarap ulang agar terasa kuat dalam waktu singkat.

Di tengah popularitas yang meningkat, muncul pula wacana penamaan identitas budaya. Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong penggunaan istilah “Timurnesia” sebagai penanda identitas budaya dan sebagai bentuk pengakuan kontribusi wilayah Timur dalam lanskap kebudayaan nasional yang selama ini dinilai masih Jawa-sentris.

Namun, gagasan tersebut memicu perdebatan. Mengutip tirto.id, musisi asal Labuan Bajo, Aden Firman, menilai pencetusan “Timurnesia” terkesan terburu-buru jika ditetapkan sebagai genre. Ia berpendapat fenomena yang belakangan disebut “lagu Timur” sebaiknya diberi waktu lebih panjang dan organik untuk bertumbuh, mengingat musik ini telah lebih dulu viral secara alamiah, termasuk dalam konteks pesta dan hajatan. “Usulan Timurnesia tampaknya lebih memberi kesan menandai dirinya sebagai kumpulan dilema lama dari kawasan timur Indonesia yang serba terbatas, ketimbang benar-benar hadir sebagai sebuah genre,” kata Aden saat dihubungi Tirto (6/2).

Penyanyi asal NTT, Andmesh Kamaleng, juga menyarankan agar para penggagas “Timurnesia” kembali berdiskusi dengan melibatkan lebih banyak musisi Indonesia Timur. Ia menyebut, akan lebih baik jika para pencetus istilah tersebut duduk bersama dan mengajak musisi-musisi lain dari timur untuk berembuk.

Terlepas dari perdebatan istilah, meluasnya jangkauan musik pop Indonesia Timur menunjukkan perubahan besar pada cara musik beredar dan dikonsumsi. Dengan karakter ritme yang padat, vokal yang bergerak cepat, serta format yang cocok untuk video pendek, musik dari kawasan Timur menemukan momentum baru di media sosial dan memperluas ruang dengarnya di tingkat nasional.