Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon memastikan buku hasil penulisan ulang sejarah Indonesia tidak akan dirilis pada 17 Agustus 2025, bertepatan dengan peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI. Ia menjelaskan, tanggal tersebut sejak awal merupakan tenggat penyelesaian penulisan naskah, bukan jadwal peluncuran.
“Bukan ditunda. Memang belum selesai karena rancangannya itu penulisannya selesai 17 Agustus [2025]. Itu deadline yang kami berikan dan sudah selesai,” kata Fadli saat ditemui di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta, Sabtu (16/8/2025).
Fadli menyebut penyusunan buku kini memasuki tahap editing. Pada fase ini, tim akan memasukkan masukan dari masyarakat, terutama kalangan akademik, yang dihimpun melalui rangkaian diskusi dan seminar publik yang digelar Kementerian Kebudayaan.
Uji publik draf buku sejarah Indonesia telah dilaksanakan di empat lokasi, yakni Universitas Indonesia pada 25 Juli 2025, Universitas Lambung Mangkurat pada 28 Juli 2025, Universitas Negeri Padang pada 31 Juli 2025, serta Universitas Negeri Makassar pada 4 Agustus 2025. “Kita sedang melakukan proses editing, nanti proses editing-nya tentu memasukkan masukan-masukan dari masyarakat setelah adanya diskusi publik, adanya seminar publik. Nah baru nanti setelah itu kita luncurkan,” ujar Fadli.
Dalam keterangan sebelumnya, Fadli menyampaikan peluncuran buku tersebut direncanakan pada rentang Oktober hingga November 2025. “Penulisan sudah selesai masih proses editing. Peluncuran nanti Oktober-November [2025],” katanya dalam pesan singkat, Jumat (15/8/2025).
Awalnya, buku hasil penulisan ulang sejarah nasional ditargetkan rampung dan diluncurkan pada 17 Agustus 2025 sebagai penanda 80 tahun kemerdekaan Indonesia. Buku itu direncanakan berjudul Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global, disusun oleh 112 penulis dari beragam disiplin ilmu, antara lain arkeologi, sejarah, epigrafi, filologi, geografi, hingga ilmu sosial-humaniora.
Para penulis berasal dari 34 perguruan tinggi di seluruh Indonesia dan delapan lembaga non-akademik, dengan memperhatikan keterwakilan wilayah serta keseimbangan gender. Naskah buku dirancang terdiri atas 10 jilid, masing-masing sekitar 550 halaman.
Sepuluh jilid tersebut, berdasarkan draf yang diumumkan dalam Diskusi Publik Draf Penulisan Buku Sejarah Indonesia di Universitas Indonesia, Depok, Jumat (25/7/2025), meliputi: Jilid 1 Akar Peradaban Nusantara; Jilid 2 Nusantara dalam Jaringan Global: India, Tiongkok dan Persia; Jilid 3 Nusantara Dalam Jaringan Global: Asia Barat; Jilid 4 Interaksi Awal dengan Barat: Kompetisi dan Aliansi; Jilid 5 Masyarakat Indonesia dan Terbentuknya Negara Kolonial; Jilid 6 Pergerakan Kebangsaan; Jilid 7 Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan; Jilid 8 Konsolidasi Negara Bangsa: Konflik, Integrasi, dan Kepemimpinan Internasional, 1950–1965; Jilid 9 Pembangunan dan Stabilitas Nasional Era Orde Baru 1967–1998; serta Jilid 10 Dari Reformasi ke Konsolidasi Demokrasi, 1998–2024.
Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, menyatakan bahwa per 25 Juli 2025 proses penulisan telah menghasilkan 5.536 halaman. Ia menambahkan, penggarapan naskah telah memasuki tahap editing oleh editor per jilid dan akan dilanjutkan ke tahap editing umum.
Restu menjelaskan uji publik dilakukan untuk membuka ruang saran dan masukan konstruktif dari masyarakat akademik maupun umum sebelum naskah disempurnakan. “Nanti setelah dapat masukan ini mudah-mudahan bisa melengkapi yang masih bolong-bolong, yang kurang-kurang, sebelum masuk kepada editor umum untuk disempurnakan, dibaca kembali dan diselaraskan dengan temuan-temuan baru dan masukan,” ujarnya.
Tiga editor umum yang memimpin penyusunan buku tersebut adalah Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M.Hum (Universitas Indonesia), Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum (Universitas Diponegoro), dan Prof. Jajat Burhanudin, M.A (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). Sementara itu, tiap jilid ditangani oleh satu hingga dua editor khusus, di antaranya Prof. Dr. R. Cecep Eka Permana, M.Si, Dr. Ninie Susanti Tejowasono, M.Hum, Zacky Khairul Umam, Ph.D, Prof. Dr. Agus Suwignyo, M.A, Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan, M.Hum, Prof. Nawiyanto, M.A., Ph.D, Nur Aini Setiawati, Ph.D, Dr. Didik Pradjoko, M.Hum, dan Dr. Amurwani Dwi Lestariningsih, M.Hum.

