Meme selama ini kerap dipandang sebagai hiburan ringan di media sosial. Namun, perkembangannya menunjukkan bahwa meme juga dapat berfungsi sebagai medium untuk menyampaikan kritik dan mengasah pemikiran kritis. Pandangan ini mengemuka setelah diskusi tentang meme internet yang, di satu sisi, telah banyak membahas asal-usul istilah meme dan perannya dalam kebudayaan, tetapi di sisi lain belum sepenuhnya menyoroti fungsi meme sebagai alat berpikir kritis.
Dalam konteks budaya populer, meme dipahami sebagai pesan yang diproduksi dan dikonsumsi masyarakat setiap hari. Melalui meme, keluh kesah dan respons publik terhadap suatu peristiwa dapat tertangkap dalam bentuk sindiran, humor, atau komentar singkat yang mudah dikenali dan dibagikan.
Ketika Meme Menjadi Bahasa Kritik
Salah satu contoh yang disorot terjadi pada 19 April, ketika Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengunggah meme tentang pencairan gaji ke-13 dan tunjangan hari raya (THR) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui akun Instagram resminya. Dalam unggahan tersebut, ia menyebut kerap menerima kiriman meme dengan beragam versi menjelang Idulfitri—yang umumnya berisi sindiran jenaka tentang kapan THR dan gaji ke-13 dibayarkan.
Unggahan itu dibaca sebagai sinyal bahwa pemerintah menangkap kritik masyarakat yang disampaikan lewat meme. Dari sini, meme internet terlihat bukan sekadar lelucon, melainkan salah satu cara publik mengomunikasikan ide dan kritik secara luas.
Mudah Diproduksi, Mudah Direproduksi
Wacana meme tidak terbatas pada meme internet. Meme juga dapat menyebar melalui mode, perilaku, sistem kepercayaan, seni, dan berbagai produk budaya lain. Meme internet yang kini paling dikenal luas hanyalah salah satu bentuk dari proses penyebaran ide yang kemudian direproduksi oleh orang lain.
Contoh reproduksi budaya ini ditunjukkan lewat peristiwa Met Gala 2022, ketika Kim Kardashian mengenakan gaun yang identik dengan busana yang pernah dipakai Marilyn Monroe saat menyanyikan lagu Happy Birthday untuk Presiden John F. Kennedy pada 1962. Dalam kerangka ini, busana tersebut dipahami sebagai “meme fesyen” yang direproduksi kembali dalam konteks berbeda.
Media Sosial dan Kembalinya Pola “Prosumer”
Perkembangan media sosial ikut memperkuat posisi meme, terutama karena masyarakat tidak lagi hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen. Pola ini sejalan dengan gagasan “prosumer” yang pernah dipopulerkan Alvin Toffler dalam The Third Wave (1980), yang menggambarkan meleburnya peran produsen dan konsumen.
Jika sekitar dua dekade lalu penyebaran informasi lebih banyak ditentukan media arus utama—seperti produser televisi dan radio serta editor koran dan majalah—kini masyarakat dapat memproduksi, menyebarkan, sekaligus mengonsumsi informasi melalui berbagai kanal, termasuk YouTube, unggahan media sosial, dan meme internet.
Alternatif Kritik yang Halus dan Jenaka
Meleburnya peran produsen dan konsumen membuka peluang bagi meme internet untuk menjadi sarana kritik yang lebih kreatif. Pada masa awal Reformasi, kritik sering disampaikan melalui demonstrasi atau tulisan di media massa. Kini, meme internet menjadi salah satu bentuk lain yang menonjol, karena mampu menyampaikan sindiran secara halus dan sering kali jenaka.
Karakter ini membuat meme kerap dibandingkan dengan karikatur atau komik strip di media konvensional. Perbedaannya, meme internet dinilai lebih mudah dibuat oleh siapa saja dan lebih cepat direproduksi oleh pengguna lain.
Butuh Strategi agar Pesan Tidak Cepat Tenggelam
Di balik kemudahannya, meme internet memiliki keterbatasan: cepat naik dan mudah tenggelam. Fenomena ini kerap digambarkan dengan istilah “fifteen minutes of fame” yang dipopulerkan Andy Warhol, merujuk pada ketenaran singkat di ruang publik.
Karena itu, meski meme bisa dibuat oleh siapa saja, tetap diperlukan strategi agar pesan tersampaikan efektif. Pakar semiotika dan linguistik dari Universitas Toronto, Marcel Danesi, menyebut meme yang berhasil umumnya memiliki ciri:
- mudah diproduksi,
- mudah dipahami,
- dan mudah dibagikan.
Bagi mereka yang tidak memiliki energi untuk turun berdemonstrasi atau akses untuk menulis di media massa, meme internet dapat menjadi alternatif untuk menyalurkan gagasan kritis. Dengan daya sebar yang tinggi dan bentuk yang ringkas, meme kini semakin diperhitungkan sebagai sarana menyebarkan ide, sindiran, dan kritik terhadap fenomena sosial maupun kebijakan pemerintah.

