BERITA TERKINI
Meme “Adili Jokowi” dan Dua Wajah Budaya Internet: Aktivisme Digital hingga Risiko Disinformasi

Meme “Adili Jokowi” dan Dua Wajah Budaya Internet: Aktivisme Digital hingga Risiko Disinformasi

Dunia maya pekan lalu diramaikan oleh meme bergambar anime dengan latar tembok bertuliskan “Adili Jokowi”. Gambar itu beredar di media sosial bersamaan dengan munculnya coretan “Adili Jokowi” di tembok-tembok sejumlah kota. Fenomena ini kembali menegaskan peran meme bukan sekadar bahan candaan, melainkan juga medium ekspresi, kritik, dan protes terhadap dinamika politik. Namun, meme juga dapat membawa konsekuensi serius ketika digunakan untuk tujuan menyesatkan, termasuk menyebarkan hoaks.

Dalam penelusuran Tim Cek Fakta Tempo, pembuat meme “Adili Jokowi” mengakui memasukkan unsur corat-coret vandalisme ke dalam serial anime “Bocchi The Rock!” agar pesannya menjangkau masyarakat yang lebih luas. Pemilik akun @pgsb_id mengatakan, meme itu dikemas dengan anime agar mudah dipahami banyak orang.

Respons dari komunitas penggemar anime—sering disebut wibu—pun muncul. Salah satunya akun Hisyam Anwar (@anw_pecirotan) di X yang membagikan meme karakter manga K-ON membawa cat pilox semprot. Setelah itu, beredar rangkaian video aksi grafiti “Adili Jokowi” di tembok-tembok kota di Indonesia.

Hisyam menduga jumlah penggemar anime di Indonesia cukup besar, tetapi keterlibatan mereka dalam tren tersebut lebih bersifat spontan dan tidak terkoordinasi. Ia juga menilai aktivisme digital semacam ini bukan hal baru.

Sebelumnya, penggemar anime juga terlibat dalam aksi “Peringatan Darurat” pada Agustus 2024 dengan membagikan meme animasi Jepang yang menampilkan simbol Garuda berwarna biru untuk menolak perluasan politik dinasti Joko Widodo. Contoh lain, Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Universitas Andalas (Unand) pada 27 Maret 2023 pernah mengunggah meme yang memuat foto wajah Ketua DPR RI Puan Maharani dengan tubuh menyerupai titan, merujuk pada anime “Attack on Titan”.

Menurut Hisyam, budaya populer Jepang seperti animasi dan manga dapat menjadi jembatan bagi aktivisme para penggemarnya. Mereka biasanya mencari adegan atau karakter yang sesuai dengan ekspresi yang ingin disampaikan. Pemilihan karakter pun tidak selalu menggambarkan perlawanan atau tindakan vandalisme. Ia menyebut, kadang karakter yang tampak paling polos justru dipakai untuk menimbulkan kesan komedik yang kontras.

Di luar ranah politik, meme juga memiliki sisi gelap ketika digunakan untuk memicu reaksi emosional dan menyisipkan pesan terselubung. Meme politik, misalnya, kerap meminjam humor dan sindiran untuk memancing respons emosional, termasuk reaksi negatif yang kuat, sehingga pesan yang lebih problematis bisa tersamarkan.

Risiko ini menjadi semakin serius ketika meme berkaitan dengan keputusan penting, seperti kesehatan. Selama pandemi Covid-19, berbagai meme bertema teori konspirasi bermunculan dan mengisi celah pemahaman masyarakat. Informasi yang dibungkus meme kerap menyesatkan dan berpotensi membahayakan, antara lain dengan menebar ketakutan, memprovokasi ketidakpercayaan terhadap vaksin, serta mempromosikan obat-obatan yang tidak jelas.

Psikolog forensik Alexander Jack, dikutip dari BBC, menyatakan bahwa ketika seseorang tidak memiliki cukup pengetahuan, mereka cenderung mengisi kekosongan itu dengan informasi apa pun yang ditemukan di internet.

Studi oleh GAVI juga menyoroti salah satu meme anti-vaksinasi yang paling dikenal, yang berawal dari studi tahun 1998—yang kemudian terbukti keliru—karena mengaitkan vaksin campak, gondongan, dan rubella (MMR) dengan autisme. Narasi “vaksin menyebabkan autisme” sempat muncul di papan reklame dan menyebar luas di media, memicu keraguan terhadap keamanan vaksin. Disinformasi ini meluas ketika beriringan dengan peluncuran mesin pencari Google, membuat kata kunci terkait menjadi meme global.

Hingga kini, meme masih menjadi bagian dari gerakan anti-vaksin. Internet memungkinkan meme dibuat secara anonim, direplikasi, dan dibagikan dalam skala besar—membuat hoaks kesehatan mudah menyebar.

Di sisi lain, peneliti doktoral Universitas Edinburgh sekaligus pendiri Meme Studies Research Network, Idil Galip, menilai meme pada dasarnya merupakan cara komunikasi yang netral. Meme dapat menjadi fasilitator komunikasi, rasa memiliki, dan aktivisme digital yang dapat menyatukan maupun memecah belah, bergantung pada siapa yang menggunakannya dan bagaimana keterlibatan orang-orang di dalamnya.