Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), berada di dataran tinggi gugusan Pulau Flores dengan pemandangan mengarah ke laut Labuan Bajo. Dari jendela ruang tata usaha dan mushala, terlihat laut biru yang tenang dengan kapal pesiar dan perahu nelayan, serta deretan hotel dan resort yang tumbuh seiring perkembangan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata internasional.
Kepala MAN Manggarai Barat Muhamad Wahidsin menjelaskan madrasah ini berawal dari lembaga swasta bernama Madrasah Aliyah Muhammadiyah Labuan Bajo, kemudian berubah menjadi MA Swasta Komodo. Pada 2008 madrasah ini diusulkan untuk dinegerikan dan sejak 2009 menjadi MAN Labuan Bajo. Dalam perkembangan berikutnya, nomenklaturnya berubah menjadi MAN Manggarai Barat dan menjadi satu-satunya MAN di wilayah tersebut.
Wahidsin menyebut MAN Manggarai Barat memiliki empat jurusan, yakni Agama, IPA, Bahasa, dan IPS. Madrasah ini memiliki 22 rombongan belajar dengan total 47 guru, terdiri dari 15 guru PNS, dua PNS tenaga kependidikan, dan selebihnya berstatus honorer. Jumlah siswa saat ini tercatat 558 orang.
Menurutnya, siswa MAN Manggarai Barat berasal dari sejumlah wilayah di Manggarai Barat, terutama dari kawasan pulau. Banyak di antara mereka tinggal di kos karena kesulitan dan tingginya biaya jika harus menyeberang pulau setiap hari.
Di bidang prestasi, Wahidsin mengatakan siswa MAN Manggarai Barat cukup banyak menorehkan capaian. Pada tahun ini, Safira Dwi Putri, siswi kelas XII, meraih juara 1 Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat provinsi untuk mata pelajaran Fisika dan berhak mewakili NTT ke tingkat nasional.
Selain itu, MAN Manggarai Barat mengirim 11 peserta untuk mengikuti Kompetisi Sains Madrasah (KSM) tingkat provinsi. Madrasah ini juga mewakili NTT pada KSM tingkat nasional untuk mata pelajaran Geografi meski belum meraih juara, serta meraih medali emas cabang beladiri Kempo tingkat Provinsi NTT.
Wahidsin menilai capaian tersebut merupakan hasil pembinaan yang dilakukan secara sistemik. Madrasah membentuk tim pembinaan KSM dan OSN sejak awal tahun pelajaran, serta melakukan bimbingan terhadap siswa yang berprestasi di setiap kelas.
Ia juga menyampaikan bahwa jumlah siswa yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tergolong tinggi. Lulusan MAN Manggarai Barat melanjutkan studi ke sejumlah perguruan tinggi negeri seperti Universitas Nusa Cendana di Kupang, UIN Alauddin di Sulawesi Selatan, Universitas Mataram di NTB, UIN Yogyakarta, Universitas Brawijaya, serta sejumlah perguruan tinggi swasta di Kupang dan Pulau Jawa. Selain melanjutkan kuliah, setiap tahun ada siswa yang diterima di TNI dan Polri.
Selain pembinaan prestasi, civitas MAN Manggarai Barat mengintensifkan pembinaan spiritual. Kegiatan shalat zuhur berjamaah dilakukan setiap hari. Pada setiap Jumat, saat siswa laki-laki melaksanakan shalat Jumat, siswi mengikuti kajian keagamaan di kelas bersama guru mata pelajaran agama. Pada waktu tertentu, madrasah juga mendatangkan pemateri dari luar untuk kajian keagamaan.
Wahidsin menjelaskan MAN Manggarai Barat sejatinya memiliki asrama siswa, namun kondisinya tidak baik dan mengalami kerusakan di sejumlah titik. Saat ini terdapat 14 siswa yang tinggal di asrama dan dibimbing oleh salah satu guru yang tinggal bersama mereka. Pihaknya berharap ada perhatian untuk perbaikan asrama karena dapat membantu siswa dari pulau-pulau sekaligus memperkuat bimbingan keagamaan melalui pendampingan guru asrama.
Di sisi lain, madrasah juga masih kekurangan ruang kelas serta sarana laboratorium kimia dan fisika, perpustakaan, dan fasilitas penunjang lainnya. Wahidsin berharap proposal pengajuan peningkatan sarana prasarana melalui pendanaan SBSN Madrasah dapat dikabulkan pada tahun depan atau tahun 2024.