BERITA TERKINI
Mahasiswa Masih Menekan DPR, Penulis Nilai Jokowi Punya Waktu Ambil Keputusan Politik

Mahasiswa Masih Menekan DPR, Penulis Nilai Jokowi Punya Waktu Ambil Keputusan Politik

Sebuah tulisan opini menilai Presiden Joko Widodo masih memiliki waktu untuk mengambil keputusan politik penting di tengah meningkatnya eskalasi isu dan pergerakan mahasiswa. Penilaian itu berangkat dari pengamatan bahwa aksi demonstrasi mahasiswa sejauh ini masih banyak diarahkan ke Gedung DPR, bukan ke Istana.

Dari situ, penulis menyimpulkan Presiden Jokowi belum menerima tekanan politik besar dari mahasiswa. Menurut tulisan tersebut, ada dua kemungkinan yang dibaca: mahasiswa masih percaya Presiden akan mendengar suara mereka, dan masih melihat Jokowi sebagai “mitra strategis”.

Dalam tulisan itu, “mitra strategis” dimaknai sebagai pihak yang dapat diajak bersama menghadapi kekuatan oligarki yang disebut mulai destruktif terhadap demokrasi dan keadilan. Penulis menyebut tiga bentuk pengaruh oligarki yang dinilai bermasalah: kepentingan yang mempersempit ruang gerak KPK, praktik yang merusak lingkungan hidup seperti perkebunan penyebab asap dan pertambangan, serta pengaruh yang dianggap merusak struktur pemerintahan hingga membuat Presiden “disandera”.

Penulis juga menyinggung pernyataan Presiden Jokowi yang pernah mengatakan tidak akan memiliki beban lagi pada periode kedua kepemimpinannya, namun menilai pernyataan itu belum terbukti. Dalam pandangan penulis, gerakan mahasiswa masih berharap Presiden dapat keluar dari kepungan oligarki, meminimalkan ruang gerak mereka, dan menciptakan sistem yang membawa harapan perbaikan pada isu korupsi, lingkungan, demokrasi, dan hak asasi manusia.

Meski demikian, waktu yang dimiliki Presiden dinilai tidak banyak. Penulis menyatakan eskalasi isu dan pergerakan semakin masif, sehingga Presiden perlu mengambil keputusan yang cepat sekaligus tepat. Tulisan itu juga menilai pendekatan keamanan oleh kepolisian berpotensi memperbesar gelombang massa, serta menyebut aktivitas buzzer istana sebagai faktor yang menambah kemarahan publik.

Menurut penulis, situasi ini bisa menjadi momentum untuk arah baru politik apabila Presiden mengambil keputusan yang “menerabas” kekuatan oligarki, dengan dukungan gerakan mahasiswa dan kelas menengah intelektual. Namun, penulis menekankan keputusan tersebut tidak mudah dan menggambarkan pilihan Presiden seolah tinggal dua: bersama mahasiswa atau bersama oligarki.

Tulisan itu menutup dengan penilaian bahwa setiap pilihan memiliki risiko politik. Memilih bersama oligarki disebut berpotensi memicu tekanan keras dari mahasiswa, sementara memilih bersama mahasiswa dipandang akan menghadapi tantangan dari elite politik yang dinilai banyak dikuasai oligarki. Penulis menyebut situasi ini sebagai masa yang “menyerempet bahaya” dan mendorong Presiden segera mengambil keputusan selagi masih ada waktu.