BERITA TERKINI
Lip-sync dan pelapisan vokal jadi sorotan, otoritas Ho Chi Minh minta penindakan

Lip-sync dan pelapisan vokal jadi sorotan, otoritas Ho Chi Minh minta penindakan

Dinas Kebudayaan dan Olahraga Kota Ho Chi Minh meminta penindakan terhadap praktik lip-sync dalam pertunjukan, serta menuntut unit seni pertunjukan bersikap jujur dan tidak menyalahgunakan rekaman suara sebagai pengganti penampilan langsung. Menurut pihak pengelola, pertunjukan yang tidak jujur dinilai melanggar hak masyarakat untuk menikmati budaya dan berdampak negatif pada moralitas sosial. Langkah ini memicu perhatian publik yang luas.

Lip-sync bukan fenomena baru, tetapi media sosial membuat praktik ini semakin sulit disembunyikan. Sejumlah momen ketika penyanyi diduga terbukti tidak bernyanyi secara langsung kembali ramai diperbincangkan, termasuk kasus terbaru yang menimpa penyanyi Duyen Quynh.

Duyen Quynh tertangkap melakukan lip-sync lagu “Writing the Next Chapter of Peace” di ajang penghargaan Lan Song Xanh. Setelah menuai kritik, ia menyampaikan permintaan maaf dan mengakui belum memberikan pengalaman yang “indah, lengkap, dan profesional” kepada penonton. Ia juga menyatakan akan belajar dari pengalaman tersebut dan melakukan perbaikan.

Sebelumnya, publik juga menyoroti beberapa insiden lain, seperti ketika mikrofon penyanyi Bich Phuong direbut namun suara tetap terdengar, atau saat Hoa Minzy menarik mikrofon ketika membawakan “Finding a Lonely Half” tetapi vokal tetap terdengar jernih. Kasus serupa juga disebut terjadi pada penyanyi Hung Huynh.

Dalam perdebatan ini, lip-sync umumnya dipahami sebagai tindakan menggerakkan bibir mengikuti trek rekaman yang sudah disiapkan, bahkan dalam kondisi mikrofon dimatikan. Sementara itu, “overlaying” atau pelapisan vokal merujuk pada situasi ketika penyanyi tetap bernyanyi, namun vokal rekaman digunakan untuk mendukung bagian-bagian sulit atau memperkaya suara. Teknik ini disebut umum, terutama di panggung besar ketika artis harus bernyanyi sambil melakukan koreografi, dan kerap dipilih sebagai opsi “aman” untuk menutupi keterbatasan vokal.

Namun, yang kerap memicu kemarahan penonton bukan semata penggunaan bantuan teknis, melainkan perasaan tertipu ketika suara yang terdengar bukan suara asli sang artis pada saat itu.

Kepada VTC News, pelatih vokal Nguyen Hoang My Ngoc menilai kontroversi yang berlarut-larut dipengaruhi oleh tidak adanya klasifikasi yang jelas mengenai gaya penampilan. Ketika semua elemen pendukung disamaratakan sebagai “lip-syncing”, pasar menjadi ambigu dan menyulitkan pengelolaan serta penilaian kemampuan artis secara adil.

Menurutnya, praktik pertunjukan perlu membedakan setidaknya tiga tingkatan: lip-sync sepenuhnya, pertunjukan dengan bantuan, dan pertunjukan langsung sepenuhnya. Ketidakjelasan di antara konsep-konsep ini disebut sebagai “area abu-abu” yang membuat batas antara benar dan salah menjadi kabur ketika semuanya bisa dibenarkan sebagai “bantuan teknis”.

Dari sudut pandang artis, penyanyi Bao Tram menyatakan persoalan ini tidak bisa digeneralisasi. Ia menilai penggunaan vokal latar atau dukungan teknis dapat diperlukan dalam situasi tertentu, bergantung pada tuntutan program, terutama untuk siaran skala besar atau siaran langsung yang membutuhkan stabilitas.

Meski demikian, Bao Tram menekankan bahwa inti masalahnya adalah transparansi. Artis dan penyelenggara dinilai perlu berkomunikasi jelas sejak awal untuk menyepakati format pertunjukan. Ia menyebut selalu berupaya bernyanyi langsung dan tidak malu tampil di atas panggung, tetapi dalam kondisi yang tidak memungkinkan, opsi lain dapat ditempuh selama disepakati secara terbuka, bahkan dicantumkan dalam kontrak, guna menghindari kesalahpahaman dan menjaga profesionalisme.

Nguyen Hoang My Ngoc menilai persoalan terbesar bukan sekadar ada atau tidaknya teknologi, melainkan cara teknologi digunakan untuk membangun citra yang menyesatkan tentang kemampuan artis. Ia menegaskan lip-sync “tidak seburuk menipu penonton agar percaya bahwa mereka bernyanyi secara langsung”, karena hal itu dapat membiasakan publik pada suara “palsu” yang terdengar seperti live dan membuat penilaian terhadap artis yang benar-benar tampil langsung menjadi negatif.

Ia juga menyoroti fenomena ketika sejumlah artis mempromosikan citra “bernyanyi live dengan baik” dan “tampil di level tinggi”, namun di panggung justru hampir sepenuhnya bergantung pada rekaman pra-rekam. Menurutnya, artis profesional perlu memahami kemampuan tampil yang sebenarnya. Jika mengetahui tidak mampu memenuhi tuntutan format live tetapi tetap menerima pertunjukan dengan format tersebut, situasi itu dapat berujung pada masalah.

Ketika terjadi berulang dan bukan insiden terisolasi, dampaknya disebut meluas—mulai dari kualitas program, kepercayaan penonton, hingga reputasi pasar. Di lapisan yang lebih dalam, ia menilai bahaya terbesar adalah turunnya standar profesional. Jika lip-sync menjadi kebiasaan, motivasi artis untuk mengasah teknik bisa melemah, sistem pelatihan tidak terdorong berinovasi, dan produser cenderung mengutamakan bentuk dibanding isi. Dalam jangka panjang, standar pasar berisiko menurun sehingga kemampuan sejati tidak lagi menjadi faktor penentu.

Dalam pandangannya, jika pola pikir itu menyebar, industri musik dapat memasuki siklus berbahaya: produk di platform digital semakin “sempurna”, tetapi semakin sedikit artis yang benar-benar menguasai panggung. Ia juga menyebut musik AI berpotensi semakin mengambil alih pasar alih-alih menarik penonton ke pertunjukan langsung.

Di sisi lain, disebutkan bahwa penonton masa kini semakin sulit dikelabui. Peningkatan pemahaman dan standar apresiasi mendorong artis untuk lebih serius pada kemampuan nyata, bukan sekadar mengandalkan teknik. Di pasar seperti Korea Selatan serta Eropa dan Amerika, standar performa disebut tidak menjadi ekstrem, melainkan semakin canggih: teknologi pendukung tetap digunakan, tetapi artis dituntut mampu menguasainya—termasuk menjaga vokal langsung tetap jernih saat koreografi intens.

Langkah otoritas untuk memperketat aturan lip-sync dipandang sebagai upaya “pemurnian” guna melindungi nilai seni. Isu utamanya bukan menghapus teknologi, melainkan menegaskan bahwa teknologi seharusnya menjadi pendukung dan tidak menggantikan kemampuan seniman. Pasar musik profesional, menurut pandangan dalam laporan tersebut, hanya dapat terbentuk ketika penyelenggara memastikan transparansi format pertunjukan dan artis memiliki kepercayaan diri membuktikan kemampuan di atas panggung.