Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bahwa membela perempuan untuk memperoleh keadilan dan kesetaraan di berbagai lini kehidupan merupakan sebuah keharusan. Menurut dia, pembahasan tentang perempuan—termasuk cara menempatkan dan memposisikan perempuan—berkaitan langsung dengan agenda peradaban bangsa.
Pernyataan tersebut disampaikan Lestari saat berbicara dalam diskusi publik di Galeri Nasional Indonesia, Sabtu. Dalam kesempatan itu, ia menilai Indonesia tidak kekurangan perempuan hebat, namun ruang, perlindungan, dan perhatian terhadap perempuan masih perlu dimaksimalkan.
Dalam diskusi bertajuk “Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan: Perspektif Kebijakan, Seni, dan Gerakan Sosial”, Lestari menyebut perempuan Indonesia masih menghadapi berbagai hambatan struktural dan kultural yang menuntut keberanian besar untuk mengatasinya.
Ia memaparkan, jumlah perempuan yang bekerja baru sekitar 55 persen dari total populasi perempuan Indonesia, sementara laki-laki yang bekerja mencapai 84 persen. Selain itu, sekitar 61 persen perempuan bekerja di sektor yang belum mendapatkan perlindungan dan jaminan sosial. Lestari juga menyampaikan bahwa upah perempuan masih lebih rendah dibandingkan laki-laki pada posisi yang sama.
“Perempuan itu berhadapan dengan tembok kaca, dia harus memiliki keberanian luar biasa untuk mampu mendobraknya,” kata Lestari.
Dari sisi keterwakilan politik, anggota Komisi X DPR RI itu menyebut komposisi perempuan di parlemen saat ini secara umum baru mencapai 22 persen dan masih menghadapi berbagai hambatan untuk meningkatkannya. Ia mencontohkan, ada perempuan yang bersedia terjun ke politik, namun belum dapat diterima oleh lingkungan, termasuk karena faktor dukungan keluarga.
Menurut Lestari, persoalan utama bukan terletak pada kapasitas perempuan, melainkan pada struktur yang belum adil serta masih kuatnya bias budaya patriarkis. Ia menilai stereotipe bahwa perempuan tidak mampu mengambil keputusan penting masih mengakar, padahal ketika diberi kesempatan, banyak bukti perempuan mampu berada di depan.
Ia menambahkan, peningkatan pendidikan di segala aspek menjadi kunci untuk mendorong perubahan. Lestari juga menekankan pentingnya keberanian perempuan untuk tidak selalu dituntut sempurna.
“Saya sering ditanya kunci perempuan bisa maju. Saya bilang perempuan itu harus mau menjadi tidak sempurna. Kita dituntut serba bisa, tapi kita harus berani melepas itu,” ujarnya.