RSUD Banyumas menyatakan layanan cuci darah (hemodialisa) serta tiga layanan penunjang yang sempat terdampak gempa telah kembali pulih. Hal itu disampaikan Bambang, yang juga menjelaskan rencana pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) yang diterima rumah sakit pada 2018.
Menurut Bambang, DAK Kemenkes RI pada 2018 awalnya diperuntukkan bagi pengadaan alat kesehatan (alkes). Namun, dengan mempertimbangkan kebutuhan rehabilitasi gedung Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan tiga layanan penunjang lainnya, RSUD Banyumas akan mengusulkan agar dana tersebut dialihkan menjadi dana rehabilitasi gedung.
Ia menuturkan, usulan pengalihan itu didasarkan pada kondisi peralatan medis pascagempa. “Semuanya masih bisa dipakai. Tidak ada alat di laboratorium dan hemodialisa yang rusak,” ujarnya.
Rehabilitasi Diupayakan Bisa Dimulai Lebih Cepat
Bambang memperkirakan pembangunan menggunakan DAK Kemenkes tersebut dapat dimulai pada Maret atau April 2018. Meski begitu, ia berharap pencairan dapat dilakukan lebih awal karena situasi yang dinilai sebagai kasus khusus.
“Kalau bisa awal 2018 sudah bisa dimulai rehabilitasinya,” kata Bambang.
Kerja Sama Antar Rumah Sakit Saat Gempa
Saat gempa terjadi dua pekan sebelumnya, RSUD Banyumas langsung bekerja sama dengan sejumlah rumah sakit lain. Kerja sama tersebut terutama dilakukan untuk memastikan layanan cuci darah bagi pasien tetap berjalan, mengingat RSUD Banyumas menjadi pilihan banyak pasien gagal ginjal.
Posisi RSUD Banyumas yang berada di tengah antara lima kabupaten di wilayah Jawa Tengah barat bagian selatan juga disebut menjadikan rumah sakit ini salah satu yang paling diminati masyarakat untuk merawat anggota keluarga.

