BERITA TERKINI
Lapas Tabanan Gelar Program Pulih Jiwa Terpadu, Sediakan Konseling Kesehatan Mental bagi Warga Binaan

Lapas Tabanan Gelar Program Pulih Jiwa Terpadu, Sediakan Konseling Kesehatan Mental bagi Warga Binaan

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tabanan menghadirkan layanan kesehatan mental bertajuk Pulih Jiwa Terpadu sebagai bagian dari upaya pembinaan kepribadian bagi Warga Binaan. Program ini ditujukan untuk mendukung pemulihan psikologis, tidak hanya pembinaan fisik selama menjalani masa pidana.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis (9/4/2026) di klinik Lapas Tabanan. Dalam pelaksanaannya, Lapas Tabanan melibatkan tenaga profesional dari Universitas Udayana, yakni residen Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran.

Sebanyak 11 Warga Binaan mengikuti sesi konseling secara bergantian dalam suasana yang disebut kondusif, aman, dan penuh empati. Dalam sesi tersebut, peserta diberi ruang untuk mengekspresikan perasaan, menyampaikan persoalan pribadi, serta mengungkap tekanan emosional yang selama ini dipendam.

Pendekatan konseling dilakukan secara humanis dan terbuka. Para konselor berupaya membangun komunikasi yang nyaman agar Warga Binaan dapat bercerita tanpa rasa takut maupun tekanan. Pendekatan ini dinilai penting untuk membantu peserta mengenali kondisi emosional dan menemukan cara yang lebih sehat dalam mengelola stres.

Dokter Lapas Tabanan, Luh Putu Tresnadewi, mengatakan program Pulih Jiwa Terpadu merupakan bagian dari pembinaan kepribadian yang menitikberatkan pada kesehatan mental sebagai fondasi rehabilitasi. “Melalui layanan konseling ini kami berupaya membantu Warga Binaan mengurangi beban pikiran yang mereka rasakan. Dengan kondisi mental yang lebih stabil, mereka akan lebih siap menjalani masa pidana serta mengikuti berbagai kegiatan pembinaan di dalam lapas,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi psikologis yang baik dinilai berpengaruh terhadap keberhasilan pembinaan. Warga Binaan dengan kesehatan mental yang lebih stabil disebut cenderung lebih mudah beradaptasi, mengikuti program pembinaan, dan membangun sikap positif selama menjalani masa hukuman.

Salah satu peserta konseling, Candra, mengaku merasakan dampak positif setelah mengikuti sesi tersebut. Ia mengatakan sebelumnya terbiasa memendam persoalan pribadi. “Awalnya saya terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Tapi setelah mencoba bercerita, saya merasa lebih lega. Beban pikiran berkurang dan saya mulai bisa menerima keadaan dengan lebih ikhlas,” tuturnya.

Lapas Tabanan menyebut program ini sebagai bagian dari komitmen menciptakan lingkungan pembinaan yang lebih manusiawi, dengan perhatian pada kesejahteraan mental selain aspek hukum. Ke depan, program Pulih Jiwa Terpadu diharapkan dapat berlanjut dan menjangkau lebih banyak Warga Binaan melalui dukungan tenaga profesional serta sinergi berbagai pihak.