BERITA TERKINI
Lanjong Art Festival ke-7 Digelar di Ladaya Tenggarong 22–27 Agustus 2025, Usung Tema "Habis Barat Terbitlah Timur"

Lanjong Art Festival ke-7 Digelar di Ladaya Tenggarong 22–27 Agustus 2025, Usung Tema "Habis Barat Terbitlah Timur"

Lanjong Art Festival 2025 dijadwalkan berlangsung di Ladang Budaya (Ladaya), Tenggarong, Kutai Kartanegara, pada 22–27 Agustus 2025. Festival seni bertaraf internasional yang memasuki penyelenggaraan ke-7 ini akan menghadirkan peserta dari dalam negeri hingga mancanegara, dengan tema “Habis Barat Terbitlah Timur”.

Ketua Yayasan Lanjong Indonesia, Ahmad Qoshashih, mengatakan Lanjong Art Festival sempat vakum selama delapan tahun. Padahal, kegiatan ini sebelumnya rutin digelar dua tahun sekali dan terakhir diselenggarakan pada 2017 bersamaan dengan dua agenda internasional di Kutai Kartanegara, yakni Rock in Borneo dan Erau.

“Tapi karena berbagai hal terjadi termasuk pandemi Covid-19, kegiatan ini kecuali Erau harus berhenti,” kata Qoshashih saat jumpa pers di Cafe Kongdjie Kota Raja Tenggarong, Selasa (19/8/2025).

Menurut Qoshashih, festival ini ditujukan sebagai ruang pertemuan para pelaku seni pertunjukan kontemporer. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memantik gagasan baru serta membuka ruang berpikir terkait kebutuhan dan arah pengembangan seni di Kutai Kartanegara, mengingat seni pertunjukan kontemporer dinilai belum akrab bagi masyarakat setempat.

Direktur Lanjong Art Festival, Mimi Nuryanti, menjelaskan festival tahun ini memiliki empat program utama, salah satunya kompetisi teater se-Indonesia. Ia menyebut proses kurasi telah dilakukan sejak Maret dan menghasilkan 10 kelompok terpilih dari berbagai daerah, di antaranya Jakarta, Karawang, Banten, Palu, Yogyakarta, Samarinda, dan Bandung, yang akan berkompetisi di Ladaya.

Selain kompetisi, festival juga menghadirkan program eksebisi atau pertunjukan dari seniman maestro, baik dari dalam maupun luar negeri. Sejumlah nama yang disebut akan tampil antara lain Teater Satu Lampung, Teater Ngaus Art dari Pasik Malaya, Komunitas Payung Hitam, serta pertunjukan tari kontemporer. Mimi juga menyebut keterlibatan seniman dari Brasil, Jepang, Singapura, Malaysia, dan Amerika.

Program lain yang disiapkan meliputi workshop seni pertunjukan dan diskusi kebudayaan. Mimi menuturkan, terdapat perbedaan dibanding penyelenggaraan sebelumnya. Jika pada tahun-tahun lalu festival juga melibatkan kompetisi musikalisasi puisi dan tari kontemporer, tahun ini kompetisi difokuskan pada pertunjukan teater.

“Karena kita membaca bahwa festival yang secara khusus menyelenggarakan kompetisi di teater itu nyaris tidak ada belakangan ini. Atau kalaupun ada itu skalanya kecil dan tidak terlalu terdengar. Jadi Lanjong Art Festival mau konsen di penguatan ekosistem teater,” ujarnya.

Meski kompetisi dan workshop difokuskan pada penguatan kapasitas berteater, Mimi menyebut eksebisi tetap bersifat lintas disiplin, melibatkan seniman dari bidang teater, musik, tari, hingga seni rupa.

Penyelenggara menyatakan festival ini terbuka untuk umum dan dapat diakses secara gratis. Pertunjukan dijadwalkan hadir setiap hari selama 22–27 Agustus, terutama pada malam hari. Mimi menambahkan, pada 26 Agustus akan ada penampilan musisi Mawang, sementara 27 Agustus dijadwalkan penampilan Panji Sakti.