Lagu-lagu tradisional Bengkulu menghadapi tantangan untuk tetap didengar di tengah derasnya arus musik modern yang kian mendominasi perhatian generasi muda. Di balik popularitas musik masa kini, lagu daerah menyimpan nilai filosofis dan sejarah yang merekam pengalaman hidup serta tradisi masyarakat setempat.
Hal itu mengemuka dalam program Suara Budaya Nusantara yang membahas upaya menjaga keberlanjutan musik tradisional agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. Pencipta lagu daerah Bengkulu, Henderman, menegaskan bahwa karya musik tradisional bukan sekadar hiburan, melainkan identitas budaya yang perlu dipahami maknanya.
Menurut Henderman, lagu-lagu seperti “Lio-Lio” dan “Bimbang Gedang” memiliki nilai sejarah yang tidak dapat tergantikan oleh genre musik lain. “Lagu daerah itu bukan sekadar lagu, tapi cerita kehidupan yang dinyanyikan,” ujarnya dalam dialog yang dipandu RRI Bengkulu dan RRI Jakarta, Jumat, 17 April 2026.
Ia menilai tantangan terbesar saat ini adalah mengemas musik tradisional agar tetap relevan tanpa mengorbankan keaslian identitas daerah. Henderman menyebut inovasi melalui aransemen modern serta kolaborasi dengan musisi muda sebagai langkah strategis untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
“Kita harus mengemasnya mengikuti zaman, tapi tidak menghilangkan ruh daerah itu sendiri,” kata Henderman, seraya menekankan pentingnya adaptasi di platform digital. Pemanfaatan teknologi, menurutnya, dapat membantu lagu daerah bersaing di tingkat nasional maupun internasional tanpa kehilangan karakter khasnya.
Selain aspek kreativitas, isu perlindungan hukum juga menjadi perhatian. Henderman mengungkapkan kekhawatiran atas minimnya kesadaran seniman lokal untuk mendaftarkan hak cipta karya, sehingga berisiko diklaim pihak lain. “Lagu-lagu daerah kita ini banyak yang belum dipatenkan, ini jadi PR besar bagi kita semua,” tambahnya.
Dalam perbincangan tersebut, Henderman berharap pemerintah dan pelaku seni dapat bersinergi membangun ekosistem yang mendukung perkembangan musik daerah, termasuk melalui promosi yang lebih masif dan fasilitasi pendaftaran hak kekayaan intelektual.
Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak ragu mendengarkan dan memutar lagu daerah di tengah tren musik internasional yang ramai di media sosial. Kolaborasi lintas generasi dinilai menjadi kunci agar kekayaan budaya Bengkulu tetap bertahan dan tidak hilang oleh arus modernisasi.