Pasar musik Vietnam kembali diramaikan oleh fenomena lagu berbahasa Vietnam yang dibawakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Setelah diterjemahkan dari bahasa Mandarin ke bahasa Vietnam, lagu berjudul “50 Years Later” versi AI menarik puluhan juta pendengar di YouTube dan memicu perdebatan soal apakah AI bisa bernyanyi lebih baik daripada penyanyi sungguhan.
Data YouNet Media mencatat produk ini masuk dalam tiga lagu yang paling banyak dibicarakan pada Maret. Di YouTube, “50 Years Later” yang dibawakan AI Tri Tong telah melampaui 17 juta penayangan. Sementara kanal YouTube Dang Thanh Tuyen—penerjemah lagu tersebut—mengumpulkan sekitar 14 juta penayangan.
Popularitas “suara mesin” itu ikut memunculkan gelombang versi cover dari sejumlah penyanyi, antara lain Quoc Thien, Anh Tu, Hoang Hai, Tung Duong, Dang Khoi, Pham Anh Duy, dan lainnya. Fenomena ini mengingatkan pada tren sebelumnya ketika lagu “My Wedding” juga ramai diperbincangkan, termasuk saat Hien Ho disebut sebagai salah satu pelopor yang membawakannya namun dinilai sebagian penonton kurang memuaskan. Sejumlah komentar menilai aransemen versi tersebut “cukup memadai” dan dianggap kurang memiliki kedalaman emosi dibanding versi AI yang dinyanyikan vokalis AI, Tieu My.
Upaya penyanyi lain, termasuk Hoài Lâm, juga tak luput dari perbandingan antara ekspresi vokal manusia dan teknologi. Perdebatan kian menguat ketika berbagai versi “50 Years Later” bermunculan. Versi Hoang Hai dan Quoc Thien disebut menuai banyak respons positif karena tekniknya, sedangkan “Voi Buon Don” versi Anh Tu justru memantik beragam pendapat. Sebagian pendengar mengkritik versi tersebut karena dinilai kurang emosi dan tidak menyentuh, meski menggunakan aransemen yang dihasilkan AI.
Dari situ, pertanyaan pun mengemuka: apakah AI bernyanyi lebih baik daripada penyanyi sungguhan, dan siapa yang lebih mengesankan di telinga pendengar?
Dang Thanh Tuyen menilai perbandingan langsung antara AI dan manusia berpotensi menghasilkan penilaian yang tidak utuh. Ia menekankan bahwa keduanya bekerja dengan sifat yang berbeda: manusia mengandalkan teknik vokal dan emosi personal, sedangkan AI mereproduksi suara melalui sistem algoritmik. Menurutnya, setiap versi cover memiliki gaya masing-masing dan melayani preferensi pendengar yang berbeda. Ia juga mengingatkan bahwa klaim superior-inferior dapat berdampak negatif bagi para seniman.
Musisi Vo Hoai An memandang AI sebagai “gudang data” berskala besar yang mampu menganalisis dan mensintesis pengetahuan dari banyak bidang. Ia menilai pernyataan bahwa AI lebih baik daripada manusia tidak tepat, karena AI belajar dari para ahli. Dalam ruang kerja yang sempit, ia menyebut solusi AI sering efektif ketika memenuhi 60%–80% kebutuhan, tetapi 20%–40% sisanya kerap menjadi pembeda besar dan masih memerlukan peran manusia.
Dari sisi kemampuan vokal semata, Vo Hoai An menilai AI memiliki beberapa keunggulan karena tidak dipengaruhi kondisi fisik atau psikologis, dapat menjaga stabilitas performa, dan mampu menangani rentang vokal luas tanpa batasan manusia. AI juga tidak terikat pada kehidupan pribadi sehingga tidak terdampak faktor eksternal seperti citra, opini publik, atau relasi dengan publik.
Namun, ia menilai AI masih memiliki keterbatasan, termasuk pelafalan bahasa Vietnam—dengan karakter intonasi dan variasi regional—yang belum sepenuhnya terdengar alami. Ia juga menyoroti tantangan membangun “citra” penyanyi AI secara profesional, termasuk persoalan “membeli” hak untuk mendefinisikan suara AI berdasarkan parameter seperti jenis kelamin, warna vokal, jangkauan, dan gaya spesifik.
Dalam perspektif performa, Vo Hoai An menekankan perbedaan mendasar antara penyanyi dan AI terletak pada kemampuan memahami serta beradaptasi dengan pengalaman hidup. Menurutnya, suara seorang artis tidak statis dan berubah seiring perjalanan karier, terkait proses menyerap isi lagu dan kemampuan menghayati karakter. Ia menyebut penyanyi akan bernyanyi berbeda pada usia 20, 30, hingga 40 tahun, sementara AI saat ini belum memiliki kemampuan tersebut. Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa AI tidak memiliki kapasitas emosi seperti perasaan tercekat, isak tangis, serta ragam nada dan intonasi yang lahir dari pengalaman.
Vo Hoai An menambahkan, keunikan seniman selama beberapa generasi terletak pada identitas personal. Menurutnya, penyanyi masa kini dituntut memiliki banyak elemen—mulai dari kualitas vokal, teknik, emosi, penampilan, kemampuan pertunjukan, hingga citra pribadi, gaya hidup, dan tanggung jawab sosial—dengan tujuan meninggalkan kesan yang kuat bagi penonton.
Dari sudut pandang penyanyi, Tung Duong menilai perdebatan soal siapa yang lebih baik antara AI dan penyanyi langsung seharusnya tidak terjadi karena keduanya merupakan hal yang berbeda. Ia menilai emosi AI, meski “disaring dari jutaan titik data”, pada akhirnya tetap simulasi, bukan pengalaman yang benar-benar dialami.
Ia menyebut suara AI kerap dipakai profesional sebagai demo untuk membantu memvisualisasikan lagu baru, karena AI pada dasarnya “menciptakan kembali” apa yang pernah dirasakan manusia. Tung Duong juga mengajukan pertanyaan: jika sebuah suara terdengar terlalu sempurna tanpa cela, apakah itu masih musik atau sekadar suara yang dioptimalkan? Baginya, musik tidak harus sempurna, tetapi perlu menyentuh emosi—dan unsur itu, menurutnya, lahir dari pengalaman manusia.
Meski demikian, Vo Hoai An menilai kemunculan daftar putar musik AI di media sosial—baik lagu baru maupun cover—masih merupakan bagian kecil dibanding jumlah konten dari penyanyi individual. Ia menilai yang lebih penting bukan kuantitas, melainkan dampaknya: AI setidaknya membangunkan para profesional untuk berusaha dan meningkatkan diri. Ia juga menyebut ketidakstabilan musik Vietnam bukan disebabkan teknologi yang terlalu maju, melainkan kemalasan sebagian seniman dalam berkarya.
Ia menilai mengabaikan AI sama dengan menempatkan diri di luar arus perkembangan. Menurutnya, keberhasilan AI perlu diakui sebagai pendorong kompetisi untuk meningkatkan keterampilan, sekaligus dicari cara penerapannya ke arah positif. Ia juga menilai generasi penyanyi berikutnya akan merasakan tekanan untuk mengasah kemampuan dan memperkaya pengalaman hidup agar emosi mereka lebih dalam. Dalam konteks studio rekaman, ia mengingatkan bahwa banyak alat dapat membantu suara terdengar lebih baik, tetapi prinsip dasar tetap penting: sebelum bernyanyi dengan baik, penyanyi harus bernyanyi dengan benar—mulai dari produksi suara, nada, hingga ritme yang stabil.
Tung Duong menilai perkembangan teknologi juga menjadi momen refleksi bagi manusia. Ia berpendapat, ketika AI semakin canggih, seniman harus memperkuat individualitas dan gaya agar dapat bertahan. Ia juga mengakui tantangan perubahan: manusia kerap terlalu malas belajar dan berubah, sementara AI “terlalu rajin”. Menurutnya, manusia perlu memanfaatkan kemampuan AI untuk menciptakan versi baru diri dalam kehidupan nyata.
Di sisi lain, pengacara Hoang Ha menilai musik berbasis AI perlu dilihat melalui dua jalur paralel: hak cipta dan etika. Ia menyebut aturan hukum yang berlaku saat ini melindungi karya, rekaman, dan hak terkait. Karena itu, jika AI dilatih menggunakan data yang dilindungi tanpa izin, risikonya nyata. Ia menambahkan, pembuktian pelanggaran tidak sederhana karena banyak produk AI tidak sekadar meniru, tetapi “belajar”, “mencampur”, dan menghasilkan sesuatu yang terdengar mirip, sehingga perlu ditunjukkan materi pokok yang dilindungi mana yang dieksploitasi dan sejauh mana.
Dari sisi etika, ia menyoroti tiga isu: penggunaan gaya vokal yang mirip artis tanpa transparansi; pemanfaatan karya kreatif sebagai input tanpa persetujuan; serta munculnya kesan bahwa musik bisa diproduksi massal tanpa menghormati pencipta nilai aslinya. Ia juga menyinggung bahwa suara yang terkait individu dapat menyentuh isu data pribadi ketika dapat mengidentifikasi orang tertentu. Menurutnya, pendengar berhak mengetahui siapa yang mereka dengarkan, apa yang mereka dengarkan, dan karya siapa yang membentuk produk tersebut.
Hoang Ha menegaskan AI tidak perlu dilarang dalam musik, karena pada dasarnya AI adalah alat. Namun, penerimaan publik, menurutnya, mensyaratkan transparansi dan persetujuan. Jika penggunaan AI dilakukan secara terbuka, data masukan sah, dan tidak menimbulkan kebingungan soal pelaku, masyarakat dapat menerimanya. Sebaliknya, jika AI disalahgunakan untuk “meminjam” suara orang lain atau mengaburkan batas kepemilikan demi menghindari izin, persoalannya tidak hanya hukum, tetapi juga menyangkut erosi etika profesional di industri musik.