Pontianak—Instrumen tradisional kian tampak di berbagai daerah seiring munculnya kreativitas lokal dalam menciptakan alat musik dari material sederhana. Di tengah keterbatasan akses terhadap alat musik modern, sejumlah pelaku seni memanfaatkan bahan-bahan yang mudah dijumpai, seperti bambu, kayu, tempurung kelapa, hingga barang bekas berupa kaleng dan botol kaca.
Bambu menjadi salah satu material yang banyak diolah karena fleksibel dibentuk menjadi alat musik tiup maupun perkusi dengan karakter suara khas. Sementara itu, tempurung kelapa dan kayu kerap dimanfaatkan sebagai instrumen ritmis yang menghasilkan bunyi alami. Selain bahan alam, material bekas seperti pipa paralon dan logam juga digunakan untuk menciptakan nada yang unik dan bersifat eksperimental.
Pendiri komunitas Balaan Tumaan, Nursalim Yadi, menilai instrumen musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memiliki peran penting dalam pembentukan karakter manusia. “Sebenarnya, banyak cerita dalam sebuah instrument yakni bagaimana instrument musik punya implementasi penting dalam mengkonstruksi kita sebagai manusia,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).
Menurut Nursalim, proses penciptaan instrumen dari bahan sederhana juga dapat menjadi sarana edukasi, terutama bagi generasi muda, untuk mengenal nilai kreativitas, keberlanjutan, serta identitas budaya lokal. Ia menyebut komunitas Balaan Tumaan turut mengembangkan berbagai proyek kreatif berbasis instrumen alternatif, termasuk konsep studio jalanan yang melibatkan masyarakat secara langsung dalam proses penciptaan musik.
“Beberapa karya instrument yang dibuat dari Balaan Tuman misalnya project studio jalanan dengan menyebar beberapa alat music kemudian direkam dan kemudian dibikin musik,” katanya.
Kegiatan tersebut dinilai tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni, tetapi juga membuka peluang kolaborasi lintas kalangan. Masyarakat diajak berinteraksi langsung dengan alat musik sehingga tercipta pengalaman musikal yang lebih inklusif dan partisipatif.
Dengan berkembangnya inovasi ini, instrumen tradisional berbasis material sederhana berpotensi menjadi daya tarik budaya sekaligus media pendidikan. Upaya tersebut juga dipandang dapat memperkuat kesadaran akan pentingnya kreativitas dalam memanfaatkan sumber daya di sekitar. Ke depan, dukungan dari berbagai pihak diharapkan dapat menjaga keberlanjutan gerakan ini agar instrumen tradisional tidak hanya bertahan, tetapi turut berkembang sebagai bagian dari identitas budaya yang relevan di era modern.